
"Hehehe. Senangnya dalam hati, selamat dari kematian. Hehehe," ....
Setelah berhasil mengelabui Karl, Ilona dengan santainya melanjutkan pekerjaan. Posisinya sekarang tengah mengepel lantai di salah satu ruangan. Dari senandung yang terdengar, cukup menggambarkan betapa gadis ini sedang bahagia sekali. Dan mungkin Ilona adalah satu-satunya manusia yang masih bisa tertawa setelah mengerjai pemilik perusahaan yang terkenal kejam dan juga brutal.
"Aku berani jamin tadi saat bajingan itu melihatku pasti dia kesal sekali. Apalagi semua karyawan juga datang melihat. Karl pasti malu sekali. Hehehe," ucap Ilona. "Rasakan itu! Siapa suruh membuatku hilang keperawanan. Jadi jangan salahkan aku terus membuat perhitungan dan menuntut balas. Huh!"
"Siapa yang hilang keperawanan?"
Hampir saja jantung Ilona berpindah tempat saat seseorang tiba-tiba bicara di belakangnya. Segera dia berbalik menghadap ke arah orang tersebut sambil mengacungkan gagang pengepel yang sedang dipegangnya.
"Keperawanan siapa yang hilang, Na?" tanya Elil sambil menatap ngeri pada gagang sapu yang terarah pada wajahnya. "Pengepel ini gunanya untuk membersihkan lantai. Kenapa diarahkan ke wajahku? Walaupun ada sedikit jerawat kehidupan, tapi wajahku bisa dipastikan bersih kok!"
"Kau lagi kau lagi. Kenapa sih suka sekali muncul seperti jailangkung!" protes Ilona jengah melihat Elil kembali datang mengganggu.
"Aku bukan jailangkung. Aku manusia!"
"Sama saja. Jailangkung awalnya juga berasal dari manusia. Sama seperti dirimu."
"Bukan aku saja, tapi kita."
"Menjawab saja terus. Kali ini untuk apa kau mendatangiku? Mau minta bantuan?"
Elil menggelengkan kepala. Sejak insiden Ilona ditemukan terkapar di lantai setelah bertarung dengan bos, hati Elil menjadi tak tenang sekali. Dia takut pemilik perusahaan ini melakukan sesuatu yang buruk pada Ilona. Sebab itulah dia datang kemari guna memastikan kalau gadis ini baik-baik saja.
"Ck, kau ini kenapa sih, Lil. Tampangmu terlihat dungu sekali. Ada apa?" tanya Ilona mendesak Elil agar bicara. Dalam hati dia merasa was-was. Takut kalau gadis ini kembali menerima bully.
"Na, kau baik-baik saja 'kan?" sahut Elil balik bertanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" jawab Ilona seraya mengernyitkan kening. Aneh sekali. Elil kenapa tiba-tiba menanyakan soal keadaannya ya?
"Tadi kan kau dibanting oleh Tuan Muda Karl. Aku khawatir tulang rusukmu patah semua."
(*Whaattt??? Dibanting? Yang benar saja anak ini kalau bicara. Memangnya kapan Karl membanting*ku?)
"Pertengkaran kalian tadi menjadi topik hangat di mulut semua karyawan. Mereka bilang nasibmu cukup beruntung karena masih bisa bernafas setelah berurusan dengan Tuan Muda Karl. Tapi kau benar baik-baik saja kan, Na?" ucap Elil kembali memastikan. Dia bicara sambil memperhatikan sekujur badan Ilona. Takut ada luka yang serius.
__ADS_1
"Hmmmm, sabar-sabar," ucap Ilona sambil mengelus dada. "Elil, begini. Siapa yang memberitahumu kalau Karl membantingku, hm?"
"Semua orang membicarakan hal ini, Na. Dan tadi saat Tuan Muda Karl keluar dari ruang ganti, aku melihatmu terkapar di lantai dengan lidah yang terjulur keluar. Bukankah itu tandanya kalau kau baru saja menerima kekerasan darinya ya. Dia membantingmu 'kan?"
Rasanya ingin sekali Ilona memasukkan gagang pengepel ke mulut Elil kemudian membersihkan seluruh ruang di kepalanya yang begitu kotor. Bisa-bisanya gadis bodoh ini beranggapan kalau dirinya mendapat kekerasan dari Karl hanya karena melihatnya terkapar di lantai. Tidak masuk akal sekali.
"Uang sisa pemberian dari Tuan Andreas kan masih ada. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit saja untuk melakukan visum? Hasilnya nanti bisa kita jadikan barang bukti untuk menuntut Tuan Muda. Kau mau tidak?" tanya Elil menawarkan solusi.
"Beginilah jika Tuhan memberikan nyawa pada anak upil. Seenaknya saja bicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Kau kira gampang apa berurusan dengan orang-orang kaya? Sulit, Elil. Bukannya Karl yang masuk penjara, yang ada malah kita yang membusuk di sana. Bagaimana sih!" omel Ilona seraya menggeleng-gelengkan kepala. Kebodohan gadis ini benar-benar sudah tidak ada obat. Sangat mencengangkan.
"Memangnya bisa seperti itu ya?"
"Tentu saja sangat bisa, bodoh. Orang kaya kan memang seperti itu. Jangankan soal hukum, nyawa orang lain saja bisa dengan mudah mereka beli. Makanya jangan macam-macam kalau mau hidupmu tenang!"
"Kalau benar begitu lalu kenapa kau suka sekali mencari masalah dengan Tuan Muda?"
Krikk krikkk kriikk
Ilona langsung speeclesh mendengar perkataan Elil yang menusuk tepat di jantungnya. Tanpa disangka-sangka dia termakan oleh ucapannya sendiri.
"Ekhmmm, ngomong-ngomong kenapa kau datang kemari?" tanya Ilona mengalihkan pembicaraan.
"Hanya ingin memastikan saja kalau kau tidak kenapa-napa. Sudah," jawab Elil dengan polosnya terbawa arus pengalihan diri yang dilakukan oleh Ilona. Untung dia bodoh. Kalau pintar, dijamin Ilona tidak akan bisa berkutik lagi.
"Kau tidak sedang dibully 'kan?"
"Tidak kok. Emm ada sih, tapi sedikit."
Sebelah alis Ilona terangkat. Dia kemudian maju ke depan sembari menatap wajah Elil lekat-lekat.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Ilona penuh selidik.
"Mereka hanya bilang kalau aku sangat sial mempunyai teman bodoh sepertimu." Elil menghela nafas. "Katanya lebih baik kita jangan dekat-dekat lagi agar aku terhindar dari amukan Tuan Muda. Begitu!"
"Elil?"
__ADS_1
"Ya, ada apa?"
"Kau tahu tidak pengepel ini gunanya untuk apa?"
"Untuk mengepel lantai. Kenapa memangnya?"
Tiba-tiba bulu kuduk di tubuh Elil berdiri semua saat dia melihat wajah Ilona berubah memerah. Gadis ini juga terus mendengus kasar seperti kerbau yang siap untuk menyeruduk orang.
"N-Na, kau kenapa?"
"Masih berani kau bertanya aku kenapa?"
"Akukan tidak tahu, Na. Wajar kalau aku bertanya!"
"Yakkkk!" Ilona berteriak kuat. Dia lalu berkacak pinggang sambil mendongakkan wajahnya ke atas. "Woaaahhh, ternyata dugaanku selama ini salah. Kau tidak bodoh. Luar biasa. Luar biasa!"
"Aku memang tidak bodoh, Na. Sekolahku saja lebih tinggi darimu," sahut Elil dengan polosnya. Dia tidak menyadari kalau Ilona sedang terbakar emosi.
"Ya Tuhaaannnnn!!! Elil, yang aku katakan barusan bukan pujian, tapi aku sedang mengejekmu. Astaga!" ucap Ilona kian depresi menghadapi kepolosan Elil. "Tadi kan kau bilang mereka membullymu. Benar?"
Elil mengangguk.
"Lalu kau bilang mereka memintamu agar menjauhiku supaya tidak terkena sial. Apa benar?"
"Iya benar sekali. Mereka juga bilang kalau kau adalah gadis paling tidak tahu diri yang pernah bekerja di Group Ma."
"Astaga jantungku!" Ilona stres. Berusaha untuk sabar, dia memberitahu Elil tentang kebenarannya. "Lil, kau sadar tidak sebenarnya siapa yang sedang dibully di sini. Kau atau aku?"
"Tentu saja aku yang sedang dibully oleh mereka lah. Siapa lagi!"
"Dasar bodoh! Itu aku, Elil. Aku yang sedang dibully diam-diam oleh mereka. Jelas-jelas mereka bilang kalau aku adalah pembawa sial dan gadis yang tidak tahu diri. Lalu di bagian mana kau oleh dibully oleh mereka? Hah?"
Ilona menyerah. Setelah meluapkan kekesalannya dia langsung pergi meninggalkan Elil sendirian. Ilona tak habis pikir mengapa di dunia ini bisa hidup seorang manusia yang polosnya benar-benar tidak ada obat. Sudah tahu kalau bully-an itu ditujukan untuknya, tapi kenapa malah gadis itu yang merasa terbully?
"Semakin lama aku berada di gedung ini, maka umurku akan menjadi semakin pendek. Tidak Karl tidak Elil, kenapa sih mereka suka sekali membuatku uring-uringan? Apa mereka tidak tahu kalau marah itu membutuhkan banyak tenaga. Heran!"
__ADS_1
***