
(Bom komentarnya mana BESTie)
***
"Masa iya sih Ilona adalah gadis yang malam itu bercinta denganku?" gumam Karl ragu. Tangannya lalu terjulur ke depan, merasai hembusan angin yang berasal dari jendela yang terbuka. "Gadis di malam itu memiliki rambut yang panjang. Pakaiannya yang tak sengaja tertinggal sangat kumal dan juga jelek. Sementara Ilona. Gadis ini berambut pendek dan penampilannya bisa dianggap rapi dan bersih. Lalu bagaimana bisa Cio dan Andreas berpikir kalau mereka adalah orang yang sama?"
Karl sempat memarahi Andreas karena lancang menceritakan insiden malam itu kepada Cio. Sebagai seorang penjahat k*lamin, jelas hal ini membuat Cio mendesaknya agar berceritakan secara detail. Jika biasanya Karl akan langsung menolak, kali ini tidak. Dengan lancarnya Karl bercerita awal mula dirinya bertemu dengan gadis itu sampai di waktu dirinya bangun tanpa mengenakan sehelai pakaian.
Flashback
"Wahhh, cerita ini sih sangat cocok dengan Ilona. Secara, gadis itu sudah tidak perawan lagi sekarang. Aku yakin kau pasti adalah orang yang mencuri keperawanan gadis itu. Iya 'kan?" tanya Cio sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tahu darimana kau kalau Ilona sudah tidak perawan?" tanya Karl antara ingin marah dan penasaran.
"Ekhmm, Karl. Kau seperti tidak tahu saja sepak terjang bajingan ini. Dia tidak sepertimu yang tidak pernah menjamah tubuh wanita. Jadi bukan hal yang sulit untuk Cio membedakan mana wanita yang masih perawan dan mana wanita bolong," sahut Andreas ikut menimbrung pembicaraan Karl dan Cio.
"Nah, Andreas benar sekali. Bukan hal yang sulit untukku membedakan mereka. Catat itu baik-baik!"
Karl membuang nafas kasar. Dia akui dalam hal ini dirinya memang sangat minim pengalaman, tapi bukan berarti dirinya tak tahu sama sekali soal wanita. Apalagi soal bercinta. Sedikit banyak Karl tahu bagaimana cara membuat wanita mend*sah.
"Sudahlah, Karl. Terima saja kalau Ilona memang gadis yang malam itu kau perkosa. Statusnya memang sangat jauh dibawahmu, tapi kalau diperhatikan lagi wajah Ilona cukup merangsang juga. Siapa tahu dia adalah jodoh yang dikirim Tuhan untukmu. Benar tidak, Yas?" ucap Cio kembali mengolok-olok Karl. Biar saja. Cio ingin tahu apakah monster ini mampu mengalahkannya soal wanita atau tidak. Hehe.
"Dasar gila. Semudah itu memang memaksakan keinginan?"
"Gila tidak gila memang ada kriteria tertentu di diri seorang wanita yang bisa dengan mudah membuat pria terangsang. Dan menurutku Ilona adalah salah satunya. Kalau tidak percaya silahkan dicoba saja. Aku berani jamin kau pasti akan terjebak di dalam lembah basah dan menggigit itu. Hehehe!"
__ADS_1
Kepala Karl menjadi semakin pusing saat Cio mulai memperdengarkan kemesumannya. Alhasil dia memilih untuk kembali ke ruangannya karena tak ingin otaknya tercemari oleh hal-hal yang berbau dewasa.
Flashback Now
"Masih memikirkan ucapan Cio?" tanya Andreas. Dia lalu menatap keluar. "Ini sudah malam. Tidak mau pulang?"
"Aku hanya sedang berpikir saja apakah benar Ilona adalah gadis yang malam itu bersamaku atau bukan. Mereka sangat berbeda, Yas. Sungguh!" jawab Karl tak menampik kalau dirinya memang sedang memikirkan perkataan Cio.
"Berbeda di bagian apanya, Karl?"
"Gadis yang malam itu bersamaku mempunyai rambut panjang dan juga pakaian kumal. Sementara Ilona, rambut gadis ini pendek dan pakaian yang dia kenakan cukup lebih dari kata layak. Aku hanya bingung saja mengapa kalian bisa begitu yakin kalau Ilona adalah ....
"Apa? Jadi karena soal ini kau menganggap Ilona bukan orang yang sama dengan gadis itu?"
Terbelalak Andreas dibuat oleh ucapan Karl. Yang benar saja. Kalau sejak awal Karl membahas soal ini, dia dan Cio pasti tidak akan bertanya-tanya sendiri. Mengapa demikian? Karena orang yang berada dibalik perubahan Ilona adalah Andreas. Dia sendiri yang mengantarkan gadis itu pergi ke salon dan mengajaknya berbelanja pakaian.
Karl seketika menoleh saat mendengar isi pikiran Andreas. Dia merasa heran akan apa yang didengarnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Karl.
"Hmmm, aku rasa Tuhan memang sengaja mengirimkan Ilona ke Group Ma, Karl. Dari awal kehadirannya di sini, perusahaan sudah banyak mengalami banyak keanehan. Mulai dari OB yang terus mengundurkan diri, lalu dengan lowongan pekerjaan yang tak kunjung mendapatkan pelamar. Kemudian muncullah Ilona sebagai satu-satunya manusia yang berani mencari masalah denganmu. Dari sini aku dapat menyimpulkan kalau Tuhan memang ingin agar kalian bisa semakin dekat!" ucap Andreas lain dari apa yang Karl tanyakan.
"Kau ini bicara apa sih, Yas. Apa kau kira Tuhan sesenggang itu sampai harus membuat kekacauan di Group Ma dan mengirimkan seseorang untuk bekerja di sini? Jangan gila lah!" ucap Karl menyangkal ucapan Andreas yang sedikit tak masuk akal.
"Aku tidak gila, Karl."
__ADS_1
"Lalu?"
"Begini!" Andreas menahan senyum sebelum lanjut berbicara. "Tadi kau bilang kalau gadis yang malam itu bersamamu memiliki rambut panjang dan pakaian yang tidak layak. Sedangkan Ilona memiliki penampilan yang berbeda jauh dari gadis tersebut. Kau penasaran tidak mengapa penampilan mereka bisa berbeda?"
Jakun Karl bergerak naik-turun mendengar perkataan Andreas. Dia bukan orang bodoh. Jelas sangat mudah untuknya mengetahui ke mana arah perkataan tersebut.
"Kau penasaran tidak?" tanya Andreas seraya menyenggol lengan Karl.
"Penasaran sih tidak. Hanya ingin tahu saja mengapa kau bisa begitu yakin dengan dugaan itu," jawab Karl santai. Meski benaknya sudah campur aduk, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Ilona tidak mungkin adalah gadis itu. Karl menolak untuk percaya.
"Dengarkan ini baik-baik!" ucap Andreas bersiap untuk menguak kebenaran. "Alasan kenapa rambut Ilona pendek adalah karena hari di mana dia bekerja di sini aku membawanya pergi ke salon untuk merapihkan penampilan. Dia memangkas rambutnya menjadi pendek, sedangkan Elil tidak. Waktu itu kau mengejekku dengan menyebut kalau Ilona adalah kekasihku. Lalu tentang pakaiannya, itu aku juga yang membelikan. Jadi sebelum penampilan Ilona berubah seperti sekarang, dia memiliki rambut yang panjang dengan penampilan yang sangat kumal. Bahkan aku berani bertaruh kalau baju yang Ilona pakai waktu itu merupakan baju terbaik yang dia punya. Sungguh, aku tidak bohong!"
Sunyi. Yang terdengar hanya suara deru kendaraan saja ketika Andreas selesai menjelaskan. Sedangkan Karl, pria itu hanya terdiam dengan tatapan lurus ke depan.
(Ini aku sedang bermimpi apa bagaimana? Masa iya sih Ilona adalah gadis itu?)
Melihat Karl yang masih meragu, Andreas kembali mengingatkan keanehan sikap Ilona selama bekerja di Group Ma. Dia sangat berharap kalau gadis itu adalah benar orang yang dicari oleh sepupunya ini.
"Karl, aku rasa ini adalah alasan kenapa Ilona selalu mencari masalah denganmu. Dia mungkin emosi melihatmu tak bisa mengenalinya. Jadi dia melakukan berbagai macam cara untuk melampiaskan kekesalannya. Benar tidak?"
"Masuk akal!" sahut Karl dengan cepat. "Pantas gadis itu seperti menyimpan dendam yang sangat besar padaku. Akhirnya rasa penasaranku terjawab juga. Ilona marah karena aku lupa dengan perbuatan kami!"
"Jadi bagaimana sekarang?"
Karl menoleh. "Aku akan menyelidiki masalah ini terlebih dahulu. Jika memang benar Ilona adalah orangnya, nanti baru aku pikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan. Dan untukmu, Yas. Aku harap kau tidak menceritakan soal ini pada si mulut ember itu. Paham!"
__ADS_1
Andreas tersenyum. Namun, senyum tersebut sarat akan maksud terselubung. Hehe.
***