Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Mantra Kematian


__ADS_3

"Nona, kenapa sejak tadi hanya bagian luar saja yang kau bersihkan? Memangnya ruangan yang di dalam sudah beres semua ya?"


Ilona yang tengah mengepel langsung menghentikan kegiatannya begitu ditegur oleh penjaga. Dia lalu melayangkan tatapan tajam pada dua orang pria yang tengah berdiri di belakangnya. Menyebalkan sekali. Mereka ini tidak tahu saja kalau Ilona memang sengaja tidak berpindah lokasi karena sedang menantikan kehadiran seseorang. Dia sudah tak sabar ingin segera meluapkan segala kekesalan setelah mengetahui kalau Karl telah mengajak Elil untuk menculiknya. Ditambah juga dengan sikap Tuan Andreas yang melarang Elil agar tutup mulut. Itulah mengapa sejak tadi dia tidak beranjak dari depan pintu masuk perusahaan. Bukan sedang mengepel seperti biasa, melainkan tengah membasahi lantai secara asal.


"Bapak berdua ini keberatan apa bagaimana. Lihat, bagaimana saya bisa pergi dari sini kalau lantainya saja sekotor itu!" ucap Ilona sembari menunjuk lantai yang tengah diinjak oleh penjaga. Momen yang sangat tepat sekali. Haha.


Kedua penjaga tersebut segera menundukkan kepala menatap lantai. Tak lama setelah itu mereka saling melirik saat mendapati ada banyak sekali bekas jejak sepatu mereka tertinggal di sana.


"Bagaimana ini. Kalau kita terus berada di sini bisa-bisa kita kena bully seperti Tuan Muda. Aku rasa sebaiknya kita menghindar saja daripada harus bermasalah dengan Nona Ilona."


"Iya kau benar. Ayo pindah!"


Ilona dibuat terheran-heran melihat sikap kedua satpam tersebut yang langsung pergi begitu melihat bekas jejak kaki mereka di lantai. Aneh sekali. Ada apa dengan mereka? Mengapa kesannya seperti takut dan menghindarinya? Perasaan Ilona tidak melakukan hal yang mengerikan.


"Tidak bos tidak anak buah. Mereka sama-sama menyebalkan!" gerutu Ilona kembali mengepel lantai. Sesekali dia tampak menatap ke arah jalan. Tak sabar menunggu kedatangan pria b*jingan yang telah membuat darahnya mendidih sejak semalam.


Di seberang jalan, sebuah mobil tampak terparkir di sana. Orang yang ada di dalam mobil tersebut posisinya tengah membungkukkan badan. Berusaha menghindari tatapan seorang gadis yang tengah berada di depan sebuah gedung.


"Bagaimana ini, Yas. Ilona ternyata sedang menunggu kedatangan kita," bisik Karl gelisah.


"Karl?"


"Ya? Kenapa?"


"Kaca ini kan tidak tembus pandang. Lalu apa yang sedang kita lakukan sekarang? Ilona tidak mungkin bisa melihat kalau kita ada di dalam mobil ini. Astaga," ucap Andreas saat menyadari kebodohan yang dia lakukan bersama Karl. Segera dia menegakkan badan lalu menatap Ilona yang tengah sibuk mengepel. "Kau yang memperk*sa Ilona, tapi sekarang aku jadi ikut merasa tertekan. Heran!"

__ADS_1


"Kenapa mengungkit masalah itu lagi sih. Semua itu terjadi karena ketidaksengajaan, Yas. Jangan dibahas terus!"


"Bagaimana aku tidak membahasnya kalau sekarang aku ikut menjadi korban?" protes Andreas agak jengkel karena dirinya mendadak jadi bodoh. "Lihat, gara-gara perbuatanmu sekarang aku jadi terlihat seperti pria idiot. Dengan t*lolnya aku ikut membungkukkan badan di saat kaca mobil ini tidak tembus pandang. Dan itu terjadi karena kau takut pada Ilona!"


"Memangnya kau berani menghadapi gadis itu?"


Andreas kicep. Pertanyaan Karl bagai belati tajam yang menusuk tepat di jantungnya.


"Nah, diam kan kau sekarang?" sindir Karl. "Makanya jangan sok berani kalau kau sendiri takut berhadapan dengan Ilona. Sudah tahu dia seperti dewi perang, malah sok-sokan mengomel kau. Sana pergi hadapi kalau bernyali!"


Dan pada akhirnya Karl berdebat panjang dengan Andreas saat mereka saling dorong pergi ke perusahaan guna mengambil berkas yang tertinggal. Sungguh ironis. Dua orang pria yang banyak disegani orang kini tengah bertengkar hanya karena seorang gadis. Masih mending jika mereka terlibat cinta segitiga, tapi ini?


"Ayo kita hadapi Ilona bersama-sama. Kalau dia kerasukan, maka kita harus mati bersama juga. Aku tidak mau ya menjadi bulan-bulanan gadis itu hanya karena mencoba melindungimu," ucap Andreas stres sendiri karena jam meeting sudah hampir tiba.


"Kali ini masalahnya berbeda, Karl. Ilona memegang kasta yang bahkan ayahmu sendiri tak bisa menyentuhnya. Lalu apa mungkin seorang Andreas berani melakukannya? Beda cerita kalau Ilona bukan pawangmu. Kujamin dia sudah masuk ke perut bumi sejak beberapa hari yang lalu!"


Karl berdecak. Setelah itu dia menatap ke arah pintu masuk perusahaan di mana Ilona berada. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Terhitung sejak lima belas menit yang lalu Ilona masih belum juga berpindah tempat. Padahal gedung Group Ma sangat luas. Kenapa hanya membersihkan satu tempat saja?


"Bersiaplah. Mati dan hidup kita tergantung bagaimana kita mampu bersikap tenang di hadapan Ilona!"


"Kau yakin mau ke sana?"


"Menurutmu?"


Andreas menunjukkan jam di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi kita harus sudah sampai di tempat meeting. Kalau terus ditunda, yang ada kita akan kena masalah. Sudah, siap-siap saja kita dihajar oleh gadis itu!"

__ADS_1


Tanpa membuang waktu Lagi Andreas segera melajukan mobil memasuki halaman perusahaan. Dia sudah pasrah dengan nasibnya. Terserah gadis itu ingin melakukan apa.


"Nah, datang juga mereka!" gumam Ilona seraya menyeringai lebar. Sambil membawa pengepel, dia berjalan mendekati mobil yang baru saja datang. Menunggu dengan sabar sampai pengemudinya keluar. "Selamat pagi, Tuan Muda Karl. Selamat pagi, Tuan Andreas. Senang sekali bisa berjumpa dengan Anda berdua."


Glukkk


Tubuh Karl dan Andreas langsung kaku di tempat begitu mereka mendengar sapaan Ilona. Kalimat sapaan itu terdengar seperti lantunan mantra kematian. Sangat mengerikan.


"Apa kabar, Tuan-Tuan? Pasti bahagia kan setelah mencekoki pikiran seorang gadis polos agar melakukan tindak kriminal?" tanya Ilona to the point membahas soal Elil. Tangannya gatal sekali ingin memukul kedua pria ini menggunakan alat pengepel yang tengah dipegang.


"Ekhmmm, Y-Yas. Kita harus segera pergi ke tempat meeting. A-ayo kita masuk dan ambil berkas yang tertinggal," ucap Karl terbata-bata. Darahnya seperti turun ke tensi yang paling rendah begitu berhadapan dengan Ilona. Nyalinya langsung menciut.


"Ayo," sahut Andreas berusaha tenang. Dia kemudian tersenyum ke arah Ilona yang tengah menatapnya dengan begitu datar. "Selamat pagi, Nona Ilona. Maaf lupa menyapa. Kami permisi dulu ya. Selamat beraktivitas!"


"Aku tahu kalian mencoba menghindar dariku. Tidak apa. Kali ini kalian kulepaskan. Tetapi ingat, aku tidak akan melupakan masalah ini begitu saja. Camkan itu baik-baik!" sahut Ilona kemudian berbalik pergi meninggalkan dua pria yang masih berdiri tegang di tempat masing-masing.


Begitu Ilona pergi, Karl dan Andreas langsung berpegangan pada badan mobil. Tulang di kaki mereka seperti meleleh semua. Sangat lemas.


"Gila! Baru kali ini aku dibuat tak berdaya oleh seorang manusia. Pawangmu terlalu mengerikan, Karl!"


Karl diam tak menjawab. Benaknya dipenuhi banyak pertanyaan mengapa dan mengapa dia bisa selemah ini. Harga dirinya terluka.


(Ini tidak boleh dibiarkan. Aku laki-laki, masa iya harus selemah ini di hadapan seorang wanita? Tidak-tidak! Aku harus melawan. Ilona itu tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Masa iya aku kalah?)


***

__ADS_1


__ADS_2