
Elil hampir menangis ketika dipaksa pulang dengan diantar oleh Tuan Cio. Dia mengkhawatirkan Ilona. Gadis itu tiba-tiba raib setelah dibawa pergi oleh bos mereka.
"Diam bisa tidak?" kesal Cio sambil terus mengemudi. Gendang telinganya sudah hampir pecah karena Elil tak mau duduk dengan tenang.
"Tuan Cio, ayo kita kembali lagi ke rumah Tuan Muda Karl. Ilona masih di sana. Kalau kita tidak segera menyelamatkannya, dia bisa meninggal karena dijadikan tumbal proyek. Ku mohon, Tuan. Tolong antarkan aku kembali lagi ke sana. Ya?" ucap Elil memohon sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. Dia sudah tak berselera hidup sekarang.
"Tumbal proyek kepalamu. Memangnya Karl semiskin itu di matamu ya sampai harus menumbalkan manusia hanya demi mendapatkan kekayaan?" tanya Cio kian emosi. Takut tak fokus berkendara, dia memutuskan untuk menepi saja. Setelah itu dia melepaskan seatbel lalu menatap tajam ke arah Elil. "Dengar ya, Nona bodoh. Sepupuku tidaklah sejahat yang kau pikirkan. Justru dengan tinggal di sana Ilona akan hidup layaknya seorang ratu. Jadi kau tidak perlu lagi mengkhawatirkannya. Tahu?"
Bibir Elil terus berkedut karena menahan tangis mendengar ucapan Tuan Tio yang menyebutkan kalau Ilona akan hidup layaknya seorang ratu. Ratu apa? Jelas-jelas di rumah itu ada seekor harimau mengerikan bernama Rocky yang siap menyantap manusia kapanpun ada kesempatan. Lagipula seorang ratu itu kan tinggalnya di dalam istana, lalu di mana letak istananya? Elil sanksi. Walaupun ekspresi wajah pria di sampingnya cukup mengerikan, itu tak membuatnya merasa takut. Elik tetap khawatir memikirkan Ilona.
"Argghh, apa sih maumu. Kau tinggal diam saja dan duduk manis di sini apa susahnya, hah! Ilona itu bukan anak-anak lagi. Kekuatannya lebih dari cukup untuk membuat sepupuku babak belur. Jadi tolong berhentilah bersikap kekanakan atau aku akan meninggalkanmu di pinggir jalan supaya dimakan setan. Mau?!"
"Mana ada setan yang mau memakanku, Tuan. Aku ini kan kurus, dagingku juga pahit. Mereka tidak akan mau," sahut Elil dengan polosnya.
"YAKKKKKKK!"
Frustasi, Cio memutuskan untuk membawa Elil kembali ke rumah Karl. Otaknya sudah hampir meleduk mendengarkan kepolosan kata yang keluar dari mulut gadis ini. Buang-buang waktu saja. Tahu begini tadi dia lebih baik menolak ketika diminta untuk mengantarkannya pulang. Huh.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Karl, semua orang tengah berada di kamar sambil memperhatikan sosok gadis cantik yang sedang terbaring nyenyak di ranjang. Ekspresi yang muncul di wajah mereka berbeda-beda. Ada yang terlihat gembira, datar, penasaran, juga seperti sedang menahan tawa. Dan semua ekspresi tersebut tak luput dari pengamatan si pemilik kamar, Karl, singa keluarga Ma yang bagaimana macan ompong ketika berhadapan dengan seorang gadis mantan pemulung.
"Kalau diperhatikan dari dekat Ilona ini tidak ada menariknya sama sekali ya. Aku yakin dia terlihat manis pasti karena mengenakan riasan di wajahnya," celetuk Levita penuh penasaran. Dia bicara tanpa memikirkan sosok pria yang sedang duduk di sofa. "Untung saja jodohnya Oliver bukan gadis seperti Ilona. Kalau iya, bisa habis semua tabunganku untuk mempermak body dan wajahnya. Hmmm,"
"Jangan mengatakan gadisku. Sembarangan!"
Semua orang sontak menoleh ke arah Karl saat mendengarnya menyebut Ilona sebagai gadisku. Tak lama setelah itu gelak tawa pun memenuhi setiap sudut kamar. Terlebih lagi Andreas, Oliver, dan Raiden. Ketiga orang ini tertawa sampai terbungkuk-bungkuk saking lucu melihat Karl yang salah tingkah akibat kelepasan bicara.
"Hahahaha, akhirnya jual murah juga dia. Sayang sekali Cio tidak ada di sini. Kalau ada, anak itu pasti akan tertawa sampai kencing di celana. Hahahaha!" olok Reiden penuh kepuasan.
"Benar sekali. Cio pasti akan mengomel tujuh hari tujuh malam karena ketinggalan menyaksikan momen sakral ini. Kasihan," imbuh Andreas dengan sengaja. Ekor matanya melirik ke arah Karl yang wajahnya sudah merah padam karena malu menjadi bahan tertawaan.
"Jangan dulu bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Karl hanya terbawa perasaan saja karena orang yang akan membawa kebahagiaan di hidupnya telah datang. Hati-hati. Karma itu ada," ucap Russel tanpa ekspresi. Dia bicara begitu karena sadar di hidupnya ada karma yang mengikuti. Dan apa karmanya? Hanya dia sendiri yang mengetahui.
"Tumben sekali kau membelaku. Ada apa? Apa karena kau butuh restu?" ejek Karl sambil tersenyum sinis.
"Tidak juga." Russel balas tersenyum. "Jodoh adalah rahasia Tuhan. Sekarang aku hanya mengikuti arus kehidupan yang sedang mengalir. Terserah nanti pada siapa hati Flow akan berlabuh. Jadi kau tak perlu risau memikirkan restu. Aku tidak seambisi itu kalau kau mau tahu!"
__ADS_1
"Oya?"
"Munafik!" celetuk Oliver langsung panas. Dia kesal sekali kalau Russel sudah membahas tentang hubungannya dengan Flow. Ingin mengamuk, tapi Flow sendirilah yang ingin menjalin cinta dengan sepupu perusak hubungan orang ini. Alhasil Oliver hanya bisa diam membiarkan sembari menunggu ingatan Flow kembali pulih seperti dulu.
"Sudah-sudah jangan diteruskan lagi. Kasihan Ilona tidurnya jadi terganggu kalau kalian terus berisik," lerai Elea tak membiarkan suasana menjadi semakin panas. Setelah itu dia menoleh menatap Karl yang duduk sendiri di sofa. "Karl, Ilona akan kau bagaimanakan setelah tinggal di rumah ini. Apa kau hanya akan menjadikannya sebagai tawanan atau akan menikahinya. Tolong beri penjelasan ya. Ibu tidak mau kau tinggal bersama seorang gadis tanpa ikatan status yang jelas."
"Masih kupikirkan, Bu. Karena aku sendiri tidak tahu apakah dengan tinggal bersama Ilona itu bisa memutuskan rantai karma di hidupku atau tidak. Jika dengan menikah baru bisa dipatahkan, maka aku akan melakukan segala cara agar bisa menjadikannya istriku," jawab Karl tanpa ragu.
"Meski menikah tanpa cinta?"
Glukkk
Karl menelan ludah. Cinta? Haruskah? Tetapi dia sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Ilona. Apa semuanya akan baik-baik saja jika mereka menjalin ikatan bukan atas dasar cinta? Astaga, rumit sekali.
"Ada yang bilang kalau cinta bisa datang karena terbiasa. Kau tinggal biasakan saja menghabiskan waktu bersama Ilona. Aku yakin seiring berjalannya waktu di hatimu akan timbul cinta dengan sendirinya. Benar tidak, Rei?" ucap Andreas memberikan saran.
"Maybe yes, maybe no. Hahahaha,"
__ADS_1
Jawaban Reiden sukses membuat Karl terpancing emosi. Geram dia beranjak dari duduk kemudian meninju lengan Raiden hingga membuatnya memekik kesakitan. Kesal sekali rasanya digoda di hadapan banyak orang. Membuat malu saja. Huh.
***