Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Malaikat Maut


__ADS_3

Bern dan Andreas sama-sama menganggukkan kepala ketika beberapa karyawan menyapa mereka. Sedangkan Karl, pria itu terlihat gugup sekali. Pandangannya nampak gelisah, melihat ke sana kemari sambil terus menggenggam tangan Justin. Karl takut bertemu seseorang.


"Paman, tangan Justin sakit," cicit Justin sambil meringis menahan sakit. Tangannya sampai memerah akibat genggaman sang paman yang terlalu kuat.


"Oh, maaf." Buru-buru Karl mengendurkan genggaman lalu meniup tangan Justin penuh rasa bersalah. "Maaf ya, Paman khilaf."


"Apa itu khilaf?"


Karl langsung melirik ke arah Andreas yang tengah menahan tawa. Iseng sekali. Tidak tahu apa dia baru saja menyakiti Justin karena terlalu gugup bertemu dengan Ilona. Huh.


"Dibawa santai saja, Karl. Ini perusahaanmu. Apa yang kau takutkan?" ucap Bern dengan tenang. Dia sangat maklum akan ketakutan dan juga kegugupan di diri saudaranya ini.


"Entahlah, Bern. Aku tidak mengerti dengan diriku yang sekarang," sahut Karl tak ragu untuk mengeluh.


"Jangan terlalu terbawa suasana. Jalani saja apa yang ada. Toh Ilona hadir bukan untuk mencabut nyawamu. Kalian hanya butuh ruang untuk saling menjelaskan masalah yang pernah terjadi. Sudah, itu saja."


"Mudah untukmu bicara. Coba kau yang berada di posisiku. Dijamin kau pasti tidak akan bisa setenang ini!"


Bern memalingkan muka ke arah lain. Dia tak kuasa menahan tawa jika terus melihat raut wajah Karl yang terlihat begitu frustasi. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi takdirnya bertemu dengan wanita berspek malaikat pencabut nyawa.


Memang benar apa kata orang kalau hari sial itu tidak tertulis di kalender. Walaupun sudah berusaha agar tidak berpapasan, pada akhirnya yang ditakutkan oleh Karl terjadi juga. Dari arah depan muncul dua cleaning servis wanita yang berjalan sambil mendorong kereta pembawa alat keberhasilan. Bern yang belum pernah melihat kedua pegawai tersebut nampak tenang-tenang saja. Sedangkan Andreas, pria itu sudah menggigit jempol tangannya guna menahan suara tawa agar tidak bocor keluar.


(Dia datang. Bersiaplah, Karl)


Tubuh Karl mendadak kaku seperti batang kayu saat tak sengaja mendengar isi pikiran Andreas. Dia datang? Mungkinkah ....


"Eh, Ilona. Ada Tuan Muda Karl di sana. Mau menyapanya dulu tidak? Sekalian meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi semalam," bisik Elil sembari menahan lengan Ilona agar berhenti melangkah.

__ADS_1


"Menyapanya? Cihhh!" Ilona berdecih sinis. Sekalipun harus tersambar petir, tidak akan sudi Ilona menyapa laki-laki yang telah dengan lancang melecehkannya. Yang ada Ilona ingin sekali menyapu dan mengepel wajah laki-laki tersebut sebagai balasan atas apa yang terjadi semalam. "Sudah, abaikan saja. Kita di sini untuk bekerja, Lil. Jangan membuatku kesal!"


"Eih, aku kan tidak melakukan apa-apa padamu, Na. Lagipula apa salahnya coba menyapa atasan kita sendiri. Siapa tahu nanti kita dapat bonus."


"Apa kau bilang? Bonus?"


Ilona menoleh. Dia mengambil cairan pengepel lantai lalu membawanya ke depan wajah Elil. "Sekali lagi kau berani buka mulut, aku akan menuangkan semua cairan ini ke dalam mulutmu. Mau?!"


Elil menggeleng cepat. Takut mati, dia segera membuat gerakan mengunci mulut lalu menyimpan kuncinya di dalam lubang hidung. Setelah itu Elil segera mengikuti langkah Ilona menuju halaman depan gedung. Rencananya mereka akan membersihkan daerah sana.


"Ayah, itu bibi singa!" teriak Justin sembari menunjuk seorang pegawai yang tengah berjalan ke arahnya. Tanpa aba-aba, Justin menghempaskan tangan sang paman lalu berlari mendekati si bibi singa. Dia kegirangan.


"Kau baik-baik saja, Karl?" iseng Bern bertanya.


"Aku sekarat, Bern. Nafasku seperti tercekik. Tolong aku," sahut Karl kesulitan bernafas. Kemunculan Ilona membuat peredaran darahnya seperti berhenti. Akibatnya, buliran keringat sebesar biji jagung mulai mengalir membasahi wajah dan tubuh Karl. Dia dehidrasi dalam sekejap.


"Coba saja jika berani. Aku bersumpah akan menghabisi kalian setelah ini!"


Andreas terkikik, sedangkan Bern tampak menunduk menahan tawa. Tanpa sadar langkah mereka semakin dekat dengan Ilona. Berpikir akan setenang saat berpapasan dengan wanita lain, reaksi yang muncul di diri Bern dan Andreas justru berbanding terbalik dengan yang mereka pikir. Tiba-tiba saja sekujur tubuh mereka didera rasa dingin yang begitu menusuk. Hingga membuat tenggorokan mereka seakan dilanda badai kekeringan.


(Hawa macam apa ini? Mengapa rasanya begitu mencekam? Pantas Karl sampai ketakutan. Rupanya Ilona bukan gadis sembarangan!)


"Bern, Yas. Ilona semakin dekat. Bagaimana ini," bisik Karl semakin tidak bisa mengendalikan diri. Dia berdiri membeku di tempatnya berada sekarang. Sedang tatapannya lurus ke depan, sama sekali tak berani menatap pergerakan dua wanita di hadapannya.


"Ya biarkan saja. Memang kenapa?" sahut Andreas seraya mengusap tengkuk. Aneh.


"Tapi aku ....

__ADS_1


"Halo, bibi singa. Namaku Justin. Aku anaknya Ayah Bern," ucap Justin reflek mengenalkan diri pada wanita yang dia panggil dengan sebutan bibi singa.


Ilona berhenti melangkah dan terdiam beberapa detik. Anak siapa ini? Mengapa memanggilnya dengan sebutan bibi singa? Diakan tidak membawa binatang tersebut. Tapi ngomong-ngomong sikap anak ini sungguh manis. Tanpa malu memperkenalkan diri dengan gayanya yang sangat menggemaskan.


"Anak tampan, untuk apa kau datang kemari? Memakai seragam sekolah pula. Kau bolos ya?" tanya Elil penuh penasaran. Sadar kalau bosnya ada di sana, Elil pun segera menyapanya. Dia lalu menoleh saat Ilona hanya diam saja. "Na, ayo cepat beri hormat pada bos kita!"


"Mereka bukan raja yang harus aku berikan hormat!" sahut Ilona cetus. Saat dia bicara, matanya tertuju pada Karl yang terlihat kaku seperti patung. Pria bajingan ini sama sekali tak mau menatapnya. Sungguh sialan. "Ekhmmm! Selamat pagi, Tuan-Tuan. Saya permisi melanjutkan pekerjaan dulu!"


Nafas Karl, Bern, dan juga Andreas seperti tertahan saat Ilona berjalan melewati mereka. Sungguh, rasanya seperti baru saja berpapasan dengan malaikat pencabut nyawa. Lirikan Ilona sangat tajam, membuat pori-pori di tubuh mereka jadi membesar seketika.


"Ah ya ampun, aku ketinggalan. Ilona, tunggu aku!" teriak Elil panik begitu tersadar kalau Ilona telah meninggalkannya jauh ke depan. Segera dia berlari menyusul sebelum gadis setan itu murka dan kerasukan.


Justin yang melihat bibi singa dan temannya pergi dengan polosnya berlari mengejar. Hal itu menyebabkan ketiga pria dewasa yang tadi datang bersamanya tersadar dari rasa mencekam yang menerpa. Sembari mengelus dada, mereka pun saling mengutarakan perasaan.


"Apa kalian merasakannya juga?" tanya Bern.


"Ya, aku merasakannya. Padahal ini bukan kali pertama aku bertemu dengan Ilona, tapi entah mengapa yang barusan terjadi membuatku merinding sebadan-badan. Aura yang keluar dari tubuh Ilona sangat mengerikan. Benar tidak?" sahut Andreas.


"Benar sekali. Akupun merasakan hal yang sama juga sepertimu." Bern menoleh. Dia menatap seksama ke wajah Karl yang terlihat sedikit pucat dengan keringat yang terus menetes deras. "Rintanganmu untuk bisa terbebas dari rantai karma itu sepertinya lumayan berat, Karl. Pulanglah ke rumah dan temui Ibu. Minta restu darinya agar kau tidak mati sia-sia di tangan Ilona."


Alih-alih menjawab, Karl malah melenggang pergi begitu saja. Sesampainya di depan lift, dia dengan tidak sabaran menunggu pintunya terbuka. Setelah itu Karl mengusir semua orang yang ada di dalam, lalu menghubungi bagian keamanan agar mematikan CCTV yang ada di sana.


Brukkkk


Begitu CCTV dimatikan, tubuh Karl langsung luruh ke lantai. Dia gemetaran, sedang kedua kakinya bagai tak bertulang. Sungguh, Karl sama sekali tak menyangka kalau tubuhnya akan bereaksi seperti ini setelah mengetahui kalau Ilona adalah sosok yang dimaksud oleh mendiang sang nenek. Padahal gadis itu hanya lewat saja di sampingnya, tapi Karl merasa kalau dirinya baru saja berpapasan dengan sosok yang sangat mengerikan. Dadanya sampai sesak.


"Nenek, apakah ini bukan mimpi? Mengapa harus seorang pemulung? Tidakkah ada profesi yang lebih baik daripada ini?" keluh Karl lirih. "Kalau dunia tahu seorang Karl yang selama ini tak takut pada apapun tiba-tiba tak berdaya dihadapan seorang pemulung, aku yakin seumur hidup aku akan berada di bawah olok-olokan banyak orang. Ini tidak adil, Nek. Aku tidak bersedia kalah dengan cara seperti ini. Tolong aku. Ilona sangat mengerikan. Tolong!"

__ADS_1


***


__ADS_2