
(Bisa kali tembus 100 komentar biar besok crazy up)
***
Ilona terheran-heran sendiri saat tak mendengar suara apapun dari dalam telepon. Penasaran, dia kembali melayangkan pertanyaan pada satu panggilan yang disebut sebagai telepon setan oleh Elil.
"Hei, kau bisu apa bagaimana. Kenapa diam saja? Ayo jawab!"
" ... "
Masih tak ada jawaban. Kesal, Ilona berteriak memanggil Elil guna memintanya untuk mengambil ponsel tersebut. Yang benar saja gadis bodoh itu. Sudah tahu dirinya sedang mandi, malah diminta menjawab panggilan lalu ditinggal pergi begitu saja. Huh.
"Kenapa, Na. Siapa yang menelpon?" tanya Elil penuh penasaran. Ekor matanya melirik ke arah ponsel yang disodorkan kepadanya.
(Jangan diambil, Lil. Nanti kau kena sihir jika penelpon setan itu sampai bicara denganmu. Menjauhlah!)
"Bawa pergi ponsel ini. Tidak penting!" jawab Ilona cetus. "Oya, aku lupa bertanya padamu tadi. Darimana kau mendapatkan ponsel ini? Tidak mungkin Tuan Andreas yang memberikannya padamu 'kan?"
"Memang bukan Tuan Andreas kok yang memberikan ponsel ini."
"Lalu siapa?"
"Entah,"
"Entah kau bilang?"
Lubang hidung Ilona langsung kembang kempis karena menahan kesal setelah mendengar jawaban Elil. Entah?? Hah, mudah sekali gadis bodoh ini menguap. Bisa-bisanya menjawab seperti itu di saat ponsel sudah berada di tangan mereka. Benar-benar menguras emosi.
__ADS_1
"Jangan marah dulu, Na. Aku benar tidak tahu siapa yang mengirimkan ponsel ini ke rumah kita!" ucap Elil merinding melihat cara Ilona menatapnya. Jadi daripada mati sia-sia, lebih baik dia segera menjelaskan kebenarannya saja. "Tadi pagi saat kau masih tidur, seorang kurir datang mengantarkan paket. Katanya sih paket ini diberikan untukmu. Tapi karena aku lupa, aku tidak langsung memberitahukan soal ini padamu. Begitu,"
"Paket untukku?" beo Ilona seraya mengernyitkan kening.
"Kata kurirnya sih begitu. Mungkin pengirimnya adalah penggemarmu."
"Sembarangan. Sejak kapan pemulung punya penggemar? Ada-ada saja kau!"
"Tapi kan sekarang kau sudah naik kasta, Na. Atau mungkin pengirimnya adalah seorang milyader yang ingin memberikan santunan pada yatim piatu seperti kita. Benar tidak?"
"Beginilah jika batang pisang diberi nyawa. Bertindak tanpa berpikir, berucap tanpa mencerna. Kau pikir seorang milyader sesenggang itu sampai harus bersusah payah mengirimkan paket untuk kita apa? Yang benar saja kau, Lil!" kesal Ilona makin dongkol mendengar omongan nyeleneh Elil.
Baik Ilona maupun Elil, tidak ada satupun dari mereka yang sadar kalau ponsel masih tersambung dengan sebuah panggilan. Dan anehnya si penelepon sama sekali tak mengeluarkan suara apapun. Bahkan deru nafasnya saja tidak terdengar. Entah memang benar orang itu adalah setan atau apa, yang jelas Ilona dan Elil tidak terlalu mempedulikannya. Mereka sibuk beradu mulut sampai akhirnya Ilona murka dan menjejali mulut Elil dengan busa sampo yang belum sempat dia bilas.
Sementara itu di lain tempat, terlihat Andreas yang sedang menahan tawa menyaksikan kelakuan Karl. Sepupunya itu duduk diam dengan kening dibanjiri peluh yang cukup deras. Penyebabnya? Adalah suara dari dalam telepon.
"Sh***!! Diam kau, Yas. Jangan bicara apapun kalau hanya ingin menakutiku!" sahut Karl setengah membentak. Setelah itu dia menyeka keringat yang membanjir di wajah, resah juga merasa tertekan. Padahal Karl mendengar suara amukan Ilona lewat telepon, tapi getaran amukan itu seakan mampu meluluh-lantakkan tubuhnya dari jarak jauh. "Menurutmu salah tidak dengan aku mengirimi ponsel kepadanya?"
"Tentu saja tidak. Namanya juga sedang berusaha."
"Aku serius, Yas!"
"Lalu?"
Andreas tersenyum. Dia lalu mengingat kejadian subuh tadi di mana Karl memerintahkan anak buahnya agar mengirimkan ponsel ke tempat tinggal Ilona. Andreas yang tidak mengerti apa maksud tujuannya hanya diam menonton saja sambil sesekali terkikik lucu. Rasanya sungguh aneh melihat sepupunya yang terbiasa bersikap dingin dan arogan, tiba-tiba berubah menjadi panik dan ketakutan hanya karena seorang wanita. Dan yang lebih menggelitik lagi saat Karl mencoba menghubungi Ilona, pria ini dibuat tak bisa berkata apa-apa. Hanya duduk diam dengan tubuh kaku mendengarkan cecaran demi cecaran yang Ilona lontarkan padanya. Lawak sekali.
(Karl-Karl, untung Cio tidak ada di sini. Kalau anak itu melihat langsung seperti apa sikapmu barusan, dijamin seharian ini kau akan dibully habis-habisan olehnya. Sikapmu sungguh sangat menggelikan sekali. Kau seperti cecunguk bodoh nan penakut. Haha)
__ADS_1
Sebelah alis Karl langsung terangkat ke atas saat dia mendengar isi pikiran Andreas. Kesal, dia melemparkan ponsel ke arahnya kemudian turun dari ranjang. Karl lalu berjalan menuju lemari dan mengambil sebotol minuman dari sana. Dia frustasi, juga bingung dengan keadaan dirinya saat ini.
"Why, Bung?" tanya Andreas sembari memainkan ponsel. "Raut wajahmu menunjukkan reaksi tekanan yang begitu besar. Kau takut pada Ilona apa bagaimana?"
"Aku tidak serendah yang kau pikir!"
Gluk gluk gluk
Dengan gilanya Karl meneguk setengah botol minuman tanpa jeda. Dia lalu mengernyit saat rasa pahit membakar tenggorokan. Tatapan Karl dingin. Ingin marah, tapi tak tahu pada siapa.
"Relaks. Semua ini terlalu awal untukmu merasa stres. Lebih baik kau pikirkan saja bagaimana cara untuk meminta maaf pada Ilona. Aku yakin gadis itu pasti menyimpan dendam kesumat padamu. Secara, gara-gara kaulah dia kehilangan keperawanan!" ucap Andreas seraya menepuk bahu Karl dari samping. Suasana hati pria ini sedang tidak baik, jadi dia harus bisa menenangkannya agar keadaan sekitar tidak ikut kacau.
"Ini semua tidak akan terjadi kalau Bern tidak membeli obat perangsang itu. Aku dan Ilona pasti tidak akan menjadi korban keusilan Justin!" tukas Karl penuh emosi.
"Dan kalau kau bisa menahan hawa na*sumu, percintaan kalian malam itu pasti tidak akan terjadi!"
"Jadi ini salahku?"
"Tentu saja bukan. Tapi kau, Bern, dan juga Justin sama-sama memiliki andil atas nasib naas yang menimpa Ilona!" Andreas tersenyum. Lama-lama dia kasihan juga pada pria ini. "Dengar, Karl. Mungkin Tuhan sudah mengatur jalan seperti ini untuk mempertemukanmu dengan Ilona. Kau jangan lupa pesan dari mendiang Nenek Liona. Akan datang padamu seseorang dengan tanda lahir spesial di bahunya. Dan jika Bern tidak membeli obat perangsang itu lalu Justin mencampurnya dengan air minum, aku rasa kalian tidak akan pernah bertemu. Jadi di sini kau tidak perlu menyalahkan siapapun. Terima dan yakini saja kalau ini memang sudah menjadi bagian dari perjalananmu memutus rantai karma yang ada. Jodohmu sudah datang, Karl. Persiapkan saja dirimu karena sepertinya Ilona bukanlah gadis gampangan yang mudah disogok dengan uang!"
Karl diam terpaku mendengar penuturan Andreas. Benar juga. Dari cara Ilona melakukan balas dendam, bisa disimpulkan kalau gadis itu sedikit sulit untuk dijinakkan. Sekarang tinggal bagaimana Karl mengambil alih keadaan. Selama ini dia tak terkalahkan dan tidak ada satupun keinginannya yang tidak terkabul. Harusnya sih Ilona bisa dia miliki juga. Tapi .....
"Bersiaplah. Hari sudah semakin siang. Kau masih harus memikirkan cara untuk menjelaskan pada Ilona soal kejadian semalam. Jangan lupa kalau semalam kau telah mengoyak bajunya. Aku berani jamin seharian ini nyawamu akan berada dalam bahaya!" ucap Andreas mengingatkan Karl akan kemarahan Ilona. Diam-diam dia sedikit menunggu pembalasan macam apa yang akan dilakukan oleh gadis itu kepada sepupunya. Pasti seru. Hehehe.
"Yas, haruskah aku bolos ke kantor saja? Tiba-tiba aku merasa kurang enak badan!" ucap Karl sembari menelan ludah. Dia ... takut.
"Hahahahahaha!"
__ADS_1
***