
(Bom komentarnya jangan lupa bestie. Gift+votenya juga kalo bisa. Hehe)
***
"Kau kenapa sih, Karl. Duduklah. Kalau ada masalah, cerita. Jangan malah mondar-mandir seperti setrikaan baju di depanku!" tanya Andreas heran melihat perilaku sepupunya yang sangat aneh.
"Apalagi kalau bukan sedang memikirkan Ilona!" Karl menoleh. Dia lalu mengeratkan gigi saat teringat dengan percakapannya bersama Elil. "Yas, menurutmu Elil itu bodoh atau hanya pura-pura bodoh saja. Cepat jawab."
Sebelah alis Andreas terangkat ke atas. Dia lalu bersedekap tangan. "Kenapa tiba-tiba menyasar pada Elil? Kau tidak mungkin berubah haluan dengan menginginkan gadis itu 'kan?"
"Omong kosong! Bicara apa kau!"
"Siapa suruh kau menyebut nama Elil saat sedang membahas Ilona. Wajarlah kalau aku berpikiran ke arah sana."
Karl berdecih. Dia kemudian duduk. Namun, tak lama kemudian dia berdiri dan kembali berjalan ke sana kemari. Melihat hal itu pun Andreas tak kuasa untuk tidak tersenyum. Sepertinya pria ini mulai ditimpa kegalauan. Yang artinya virus cinta mulai menyebar ke setiap penjuru aliran darah di tubuh sepupunya. Ini lucu.
"Beberapa malam ini aku terus dihantui mimpi yang sangat mengerikan, Yas. Entah ini adalah pertanda atau bagaimana, yang jelas aku sangat butuh Ilona untuk segera ada di sampingku. Dan tadi aku sengaja pergi menemui Elil. Aku bermaksud mengajaknya untuk bekerjasama, tapi ....
"Karl, keputusanmu sudah sangat salah dengan bicara pada Elil. Percuma saja karena pemikiran gadis itu sangat di luar jangkauan. Yang ada bukannya mendapat jalan keluar, kau malah akan dibuat kesal setengah mati olehnya. Benar tidak?" ucap Andreas menyela perkataan Karl. Walaupun belum lama kenal, tapi dia yakin sekali kalau Elil adalah tipe gadis yang bodohnya sangat diluar batas. Karena jika gadis itu pintar, mustahil mampu berteman dengan Ilona yang mempunyai lidah setajam samurai.
"Aku pusing, Yas. Jadi aku berpikir jika Elil mau bekerja sama, maka itu akan membuat keinginanku menjadi lebih mudah. Rencananya aku ingin menculik Ilona dan memaksanya untuk tinggal bersamaku. Begitu!"
"Yakin akan berhasil?"
"Aku benar-benar sangat membutuhkannya. Tolong jangan mengolokku!"
"Bukan mengolok-olok, tapi aku hanya ingin mengingatkan saja kalau Ilona memiliki dendam kesumat padamu. Tidak mudah, Karl. Butuh rencana yang akurat supaya gadis itu tidak berontak dan semakin membencimu. Tahu!"
"Lalu aku harus apa sekarang?"
"Sekarang kau duduklah dulu dan mari kita cari jalan keluarnya bersama. Oke?"
Raut wajah Karl terlihat lesu sekali saat ingin mendudukkan bokongnya di sofa. Setelah itu dia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Pusing karena kurang tidur, pusing karena terus diganggu oleh suara-suara misterius, juga pusing memikirkan Ilona yang semakin gencar menjaga jarak darinya. Ketiga permasalahan itu membuat kepala Karl seperti akan meleduk.
"Dari yang aku perhatikan sepertinya akan jauh lebih bermanfaat jika Justin yang turun tangan untuk membujuk Ilona. Gadis itu memiliki kelemahan tersendiri terhadap anak kecil," ucap Andreas memberi saran. Dia lalu menepuk bahunya Karl. "Bagaimana? Kau setuju tidak dengan saranku?"
"Justin itu masih sangat kecil, Yas. Apa jadinya bocah itu jika Ilona sampai tersinggung kemudian membanting Justin ke lantai. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Bern dan Renata," sahut Karl sedikit keberatan saat ingin melibatkan keponakannya.
"Ilona tidak mungkin sejahat itu. Selama ini kan dia marah hanya kepadamu saja. Sedangkan padaku dan pada yang lain Ilona sangat tahu bagaimana cara untuk menjaga sikap. Jadi aku rasa tidak ada salahnya jika kita memasukkan Justin sebagai kandidat utama yang kau kirim untuk membujuknya."
"Ck, resikonya terlalu besar, Yas."
__ADS_1
"Apanya yang resiko, Karl. Lagipula kan kita juga tidak menutup mata saat Justin sedang bicara dengan Ilona. Kita bisa mengawasi mereka dari jarak jauh. Ya kali kita akan diam saja membiarkan Justin menghadapi singa galak itu seorang diri. Bagaimana sih!"
Tok tok tok
Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu saat Karl sedang terlibat pembicaraan serius bersama Andreas. Takut yang datang adalah Ilona, Karl bergegas membenarkan posisi duduknya lalu mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangan. Jantungnya langsung berdebar kuat.
Ceklek
"Apa kami mengganggu?"
Renata tersenyum sambil memegangi pintu yang dia buka separuh. Di sampingnya berdiri Justin yang tengah asik menikmati lolipop di tangannya. Bocah itu lalu melambaikan tangan seraya tersenyum lebar.
"Paman Karl, bibi singa mana?"
"Bibi singamu sedang sangat sensitif sekarang. Jadi Paman tidak tahu dia ada di mana," sahut Karl asal.
"Sensitif itu apa?"
"Justin, habiskan dulu lollipopmu. Nanti kau tersedak!" tegur Renata seraya mengusap rambut Justin penuh sayang. Dia tak membiasakan diri membiarkan putranya bicara sambil makan karena takut dianggap anak tak sopan.
"Baik, Bu," sahut Justin patuh.
Andreas segera mempersilahkan Renata untuk masuk dan duduk bergabung. Dia lalu pergi membuatkan minuman untuk sang kandidat utama yang langsung muncul begitu namanya disebut. Sungguh nasib yang sangat mujur.
"Karyawanku." Karl menghela napas. "Namanya Ilona."
"Apa mereka akrab?"
"Aku tidak tahu jelasnya, tapi kalau kau merasa penasaran, bawa saja Justin menemui Ilona. Nanti kau bisa menyimpulkan sendiri seperti apa kedekatan mereka."
"Oh begitu. Baiklah, setelah ini aku akan membawa Justin menemui bibi singanya. Dia cukup sering menyebut nama itu saat sedang berada di rumah," ucap Renata. Diam-diam dia merasa ada yang aneh dengan sikap Karl. Pria ini terkesan berharap, tapi ekspresinya menunjukkan raut gelisah. Entah apa maksudnya, Renata tak tahu. Dan dia juga tidak berkeinginan untuk bertanya lebih jauh. Takut menyinggung.
Justin yang sudah menghabiskan lollipopnya, meminta tolong pada Paman Andreas untuk membantunya mencuci tangan. Sesekali Justin juga bersenandung lagu anak-anak, membuat Andreas menjadi sangat gemas.
"Justin mau membantu Paman tidak?" bisik Andreas melancarkan aksi untuk membujuk si kandidat utama.
"Membantu apa, Paman?" tanya Justin sambil mendongakkan kepala.
"Begini. Paman Karl ingin agar bibi singa tinggal di rumahnya. Tetapi karena bibi singa sangat galak, Paman Karl jadi tidak berani mengajaknya. Kira-kira Justin mau tidak membantu Paman Yas untuk membujuk bibi singa? Nanti kalau bibi singa setuju untuk tinggal bersama Paman Karl, Paman Yas akan mengajakmu pergi jalan-jalan ke kebun binatang. Bagaimana? Mau tidak?"
Justin mengerjapkan mata. Setelah itu bibirnya mengerucut, seperti sedang menimang keputusan apakah harus menolak atau menerima tawaran dari sang paman.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Karl seraya menatap penuh curiga ke arah Andreas yang tak kunjung selesai membantu Justin cuci tangan.
"Tidak ada," sahut Yas santai.
"Kalau tidak ada kenapa kalian lama sekali di sana. Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Paman Yas sedang membantu Justin mencuci tangan, Paman. Jangan marah-marah," sahut Justin.
"Siapa yang marah?"
"Paman Karl lah,"
"Mana ada."
"Ada kok barusan. Justin kan punya telinga. Iyakan, Bu?"
Renata meringis. Dia lalu meminta Justin untuk duduk di sampingnya. Sambil mengeringkan tangannya dengan tisu, Renata menanyakan pada Justin apakah mau bertemu dengan bibi singa atau tidak.
"Justin mau bertemu dengan bibi singa tidak? Ayah bilang kita tidak boleh lama-lama berada di sini. Justin ingat itu 'kan?"
"Ingat, Ibu," jawab Justin. "Kalau begitu sekarang saja yuk kita pergi menemui bibi singa. Paman Karl tidak asik. Paman sangat galak, tapi tidak berani melawan bibi singa. Paman Karl sangat payah!"
Celotehan Justin sukses membuat Karl melongo seperti orang bodoh. Sungguh, dia teramat sangat tidak percaya dirinya diolok-olok oleh anak sekecil ini. Yang benar saja.
"Tidak boleh bicara seperti itu pada orang dewasa, sayang. Tidak sopan namanya," tegur Renata pelan.
"Tapi memang benar lo Bu kalau Paman Karl itu sangat takut pada bibi singa. Justin tidak bohong," sahut Justin keukeuh meyakinkan sang ibu.
"Iyakah?"
Andreas menempelkan dua jari tangan ke mulutnya guna menyembunyikan senyum yang mulai muncul. Ini bukan senyum karena gembira ya, melainkan senyum penuh ejekan melihat Karl dibully oleh keponakannya sendiri. Haha.
"Emm Karl, Yas. Aku pamit membawa Justin menemui bibi singanya dulu ya. Maaf kalau sikap Justin sedikit tidak sopan hari ini. Dia masih anak-anak," pamit Renata merasa tak enak hati sekali pada Karl.
"Tidak apa-apa, Ren. Pergilah," sahut Andreas mewakilkan Karl untuk menjawab.
"Permisi,"
Dengan polosnya Justin pamit pada kedua pamannya sambil terus mengatakan kalau sang paman mirip macan ompong saat sedang bersama bibi singa. Renata yang takut perkataan Justin membuat Karl marah, cepat-cepat membungkam mulutnya kemudian membawanya pergi keluar.
(Kenapa Justin jadi secerewet ini sih. Siapa yang telah mengajarinya cara mengolok-olok orangtua? Astaga,)
__ADS_1
***