
Tok tok tok
Secepat kilat Karl menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan dari sana. Dia yang tengah galau apakah harus berangkat ke kantor atau tidak menjadi semakin galau saat suara seseorang terdengar mengusik telinga.
"Paman Karl, ayo buka pintunya. Ayah bilang Paman sedang sakit, jadi Paman harus diobati dulu sebelum mati. Lihat, Justin sudah membawa jarum suntiknya lho!"
Andreas yang masih setia mendampingi Karl hanya bisa menutupi mulutnya dengan dua jari saat mendengar celotehan lucu yang keluar dari mulut Justin. Pria kecil itu belum tahu saja kalau pamannya sedang ketakutan sekarang. Haha.
"Jangan hanya menertawakan aku kau, Yas. Cepat sana atasi Justin. Aku tidak siap kalau harus bertemu dengannya sekarang!" omel Karl bingung sendiri antara ingin membiarkan keponakannya masuk ke dalam kamar atau malah mengusirnya pergi.
"Tidak ada yang menertawakanmu, Karl. Kau ini," sahut Andreas mengelak.
"Kau kira aku bodoh?"
"Tentu saja tidak. Kalau bodoh, kau tidak mungkin menjadi bos di Group Ma."
"Ya sudah kalau begitu tunggu apalagi. Cepat bereskan anak itu!"
"Maksudmu aku harus membunuh Justin, begitu?" seloroh Andreas sambil menahan tawa. Padahal sebelumnya Karl sangat suka jika Justin datang berkunjung, tapi kenapa sekarang tidak? Mungkinkah pria ini trauma pada bocah cilik tersebut?
Daun telinga Karl seperti memanjang mendengar selorohan Andreas yang menyebut ingin membunuh Justin. Yang benar saja. Semakin lama Karl makin merasa kalau Andreas tengah mempermainkannya. Kesal, dia bergegas menghampiri kemudian hendak meninju perutnya.
"Eitsss, mau apa kau?" tanya Andreas sigap menangkap kepalan tangan Karl yang tertuju ke perutnya.
"Keterlaluan kau, Yas. Tega sekali kau bahagia di atas deritaku. Sialan kau ya!" maki Karl dengan nafas memburu. Dia lalu menoleh ke belakang saat suara Justin kembali terdengar. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Urus anak itu sekarang juga. Titik!"
"Baiklah-baiklah, jangan panik. Santai!"
Sambil menahan tawa, Andreas melepaskan tangan Karl lalu berjalan menuju pintu. Dia lalu mengedipkan sebelah mata ketika pandangannya beradu dengan tatapan Bern.
"Separah itu?" tanya Bern penuh nada mengejek.
"Jauh lebih parah dari yang kau bayangkan, Bern," jawab Andreas sesaat sebelum berjongkok di lantai. "Hei, pria tampan. Apa kabar, hm?"
"Kabar Justin sangat baik, Paman Yas," jawab Justin. Karena penasaran dengan kondisi sang paman, Justin bergegas masuk ke dalam kamar lalu menghampiri pria dewasa yang tengah berdiri membelakanginya. "Paman Karl, mana yang sakit? Biar Justin suntik dengan obat ini supaya Paman lekas sembuh. Ya?"
(Suntik kepalamu itu, Justin. Kau tidak tahu apa gara-gara ulahmu sekarang Paman jadi bermasalah dengan keturunan malaikat maut. Astaga, jadi serba salah)
__ADS_1
"Paman, Paman kenapa diam saja? Apa jangan-jangan mulut Paman yang harus disuntik?" tanya Justin kian penasaran. Tubuhnya yang kecil membuat kepalanya terus terdongak ke atas. "Aduhhh, Justin mulai pusing, Paman. Dulu saat kecil Paman makan apa sih sehingga bisa setinggi ini. Aneh!"
Sekesal-kesalnya Karl, begitu dia mendengar keluhan sang keponakan tersayang senyum pun tak kuasa untuk tidak muncul. Dia merasa tergelitik sekali mendengar ucapan Justin yang mempertanyakan soal makanan yang dia konsumsi ketika kecil. Sungguh lucu.
"Dengar!" Karl berjongkok sembari memegang kedua bahu Justin. "Butuh makanan empat sehat lima sempurna agar bisa tumbuh setinggi Paman. Di rumah apa kau sudah melakukannya dengan baik?"
"Empat sehat lima sempurna?" beo Justin. Keningnya tampak mengerut memikirkan sesuatu. "Di rumah Justin hanya makan nasi, sayur, lauk, dan juga buah. Tidak ada yang seperti Paman makan. Apa karena itu tubuh Justin jadi pendek?"
Karl terdiam. Justin baru memasuki usia empat tahun. Akan sangat menguras pikiran sekali jika dia harus menjelaskan satu-persatu. Malas, ditambah dengan dirinya yang sedang banyak pikiran, Karl segera melihat ke arah Bern. Berharap kalau saudara kembarnya ini mau menjelaskan soal empat sehat lima sempurna.
"Tidak usah terlalu mendetail. Justin masih anak-anak. Kau saja yang terlalu jauh dalam berkata!" ucap Bern santai menanggapi. Dia lalu duduk di samping Andreas. "Justin, kemari, Nak. Jangan ganggu Pamanmu dulu. Dia sedang stres menghadapi amarah bibi singa."
"Bibi singa?"
Karl dan Andreas sama-sama kaget mendengar perkataan Bern. Sementara Justin, bocah itu dengan patuhnya menghampiri sang ayah kemudian duduk di atas pangkuannya.
"Bibi singa siapa maksudmu, Bern?" tanya Karl menuntut penjelasan.
"Ilona." Bern tersenyum seraya mencium rambut Justin. "Wanitamu sangat mengerikan, Karl. Kau harus berhati-hati saat berhadapan dengannya!"
Jakun Karl bergerak naik turun dengan cepat begitu dia menyadari kalau Bern telah mendapat petunjuk soal Ilona melalui Justin. Penasaran, Karl segera menghampiri Justin kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Justin, apa benar bibi singa semengerikan itu?"
"Iya. Paman Karl juga sangat takut pada bibi singa," jawab Justin dengan polosnya.
"Benarkah?"
Justin mengangguk. Dia lalu memainkan jarum suntik yang dibawanya dari rumah. Mengabaikan raut syok dan juga gelisah di wajah sang paman.
"Pertemuan kalian diawali sesuatu yang salah. Aku rasa kau akan mengalami sedikit kendala untuk mematahkan karma itu, Karl!" ucap Bern seraya menampilkan ekpresi wajah yang cukup serius.
"Ini semua gara-gara kau, brengsek!" umpat Karl pelan. "Kalau saja obat itu tidak kau simpan sembarangan, antara aku dan Ilona pasti tidak akan terjadi sesuatu hal yang mengerikan. Minuman itu membuatku hilang kendali, dan bodohnya Ilona malah menghabiskan sisa minumannya. Sekarang gara-gara kalian berdua aku harus menerima getahnya. Huh!"
"Mengerikan?" Bern menyeringai tipis. "Tapi kau menikmatinya 'kan?"
"Itu terpaksa, bukan menikmati dari hati!"
__ADS_1
"Kalau begitu buat saja agar kalian bisa menikmatinya dari dasar hati."
"Maksudnya?"
Bern diam. Agak kaget melihat reaksi Karl yang seperti orang dungu. Sejak kapan saudaranya ini jadi bodoh dalam menerka ucapannya? Aneh. Sebesar inikah pengaruh Ilona?
"Kalian ikut aku ke kantor!" ucap Karl tak terbantahkan.
"Untuk apa?"
"Untuk menemaniku menghadapi Ilona. Sebab kalian berdua lah aku jadi merasa terancam begini. Jadi mau tidak mau kalian harus ikut bertanggung jawab juga!"
"Tanyakan dulu pada Justin apakah dia bersedia untuk menemanimu pergi ke perusahaan atau tidak!" ucap Bern santai.
Karl mengangguk. "Justin, hari ini kau ikut Paman ke kantor ya. Nanti di sana kau bisa mengobrol dengan bibi singa."
"Tapi Justin mau sekolah, Paman," sahut Justin enggan untuk ikut pergi. Dia rindu dengan sekolahnya.
"Libur dulu sehari. Paman janji nanti siang Paman akan mengajakmu pergi membeli keluarga dinosaurus lagi. Oke?"
"Tapi ....
"Kita berangkat sekarang!"
Tak membiarkan Justin menolak, segera Karl mengangkatnya ke dalam gendongan. Dia lalu melangkah keluar dengan di ikuti oleh Bern dan Andreas di belakang.
"Apa yang terjadi semalam?" tanya Bern dengan suara pelan. Sengaja dia dan Andreas menjaga jarak supaya bisa mengobrol dengan tenang.
"Karl syok saat tak sengaja melihat tanda lahir di bahu Ilona." Andreas mengul*m senyum. "Saudaramu itu merobek pakaian Ilona dengan sangat brutal. Itulah kenapa sekarang dia panik sendiri. Karl ketakutan menghadapi murka calon wanitanya."
"Hmmm, pantas otaknya menjadi dungu. Aku sempat kaget melihatnya tadi."
"Kita rahasiakan dulu masalah ini dari anak-anak. Beri waktu untuk Karl bersiap menjemput kebucinannya. Baru nanti setelah otaknya benar-benar menjadi gila, kita tertawakan monster itu sepuas mungkin. Oke?"
"Aku ikut apa katamu saja." Bern menatap sekilas ke arah Karl yang tengah membantu Justin masuk ke dalam mobil. "Entah harus merasa kasihan atau malah senang, tapi aku sangat menunggu Karl dan Ilona menjadi satu. Sudah cukup selama ini dia hidup menderita. Aku ingin melihatnya hidup bahagia bersama seseorang yang menyayanginya. Hmmm,"
***
__ADS_1