
(Gengsss, di sini lagi ada kebaikan hutan. Entah berkaitan atau tidak, sinyal jadi eror. Jadi maaf bangett ya kalau up-nya gak beraturan dulu. Soalnya nunggu ada sinyal baru bisa masuk ke aplikasi. Mohon pengertian ya 🙏)
***
Grrrrrrrrr
Kedua lutut Elil dan Ilona serasa tak bertulang saat mendengar geraman binatang buas yang bersembunyi di balik goa buatan. Bukan goa sih, tapi lebih tepatnya kandang kaca yang di dalamnya terdapat bebatuan sedang. Mungkin dibalik bebatuan tersebut si harimau yang bernama Rocky itu bersembunyi.
"Nah, itu suara Rocky. Bibi singa mau masuk ke dalam tidak?" tanya Justin penuh antusias. Sejak mengetahui ada harimau di rumah sang paman, belum sekalipun Justin diijinkan bermain dengannya. Alasannya satu, takut dimakan. Padahal kan Rocky binatang yang sangat manis. Makanya dia terpikir untuk mengajak bibi singa ke kandang ini dengan harapan agar bisa bermain dengan harimau tersebut.
"Bos kecil, maaf sekali. Siapapun tidak diijinkan bermain dengan Rocky. Itu sangat berbahaya. Tolong mengerti ya?" ucap penjaga sembari berjongkok di samping bos junior. Ekor matanya kemudian melirik ke arah dua gadis yang terdiam dengan wajah pucat. "Sekarang bos kecil ajak kedua bibi itu pergi dari sini ya. Kasihan. Lihat, mereka sampai ketakutan begitu."
"Tapi Justin ingin bermain dengan Rocky, Paman."
"Iya Paman tahu, tapikan Paman Karl sudah mengingatkanmu kalau Rocky itu sangat galak. Tidak boleh kita sembarangan masuk ke kandang dan bermain dengannya. Nanti kalau kalian digigit bagaimana?"
"Memangnya Rocky bisa menggigit orang?"
"Tentu saja bisa. Kan dia punya taring."
"Seperti bibi singa ya?"
"Bibi singa? Siapa itu?"
"Namanya Bibi Ilona, tapi Justin memanggilnya bibi singa."
Justin menengadahkan wajah menatap bibi singanya. Matanya yang bening tampak memberikan kode agar sang bibi singa ikut membujuk paman penjaga. Ilona yang sadar akan akal bulus Justin segera berdeham untuk menormalkan keterkejutannya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kuat sebelum berbicara.
__ADS_1
"Justin, ku beritahu kau satu hal ya. Yang namanya binatang buas itu sangatlah berbahaya kalau didekati. Terlebih lagi kalau kita tidak ditemani oleh pawang yang berpengalaman dan juga keamanan yang ketat. Bisa mati jadi rujak kita!"
"Mati jadi rujak itu mati yang bagaimana, Bi?"
"Itu kematian yang ditumbuk sampai halus, Justin. Masa begini saja kau tidak tahu," celetuk Elil antara sadar dan tidak sadar. Mulutnya memang bicara, tapi matanya terus tertuju ke arah kandang kaca. Elil takut sekali kalau si Rocky tiba-tiba muncul kemudian menerkam mereka semua.
"Bisa tidak kau jangan sembarangan membuka mulut? Justin masih anak-anak, bodoh. Wajar kalau dia belum memahami kata-kata orang dewasa!" omel Ilona.
"Ya maaf sih,"
"Maaf-maaf saja bisamu. Cihhh."
Sementara itu di ruang tamu, Karl terlihat mondar-mandir sambil menggigit ujung jempolnya. Sesekali dia juga menoleh ke arah di mana Justin membawa Ilona pergi. Karl khawatir. Dan yang dia khawatirkan bukan orang-orang itu, melainkan keselamatan Rocky.
(Walaupun Ilona belum menyadari siapa dirinya, kehadirannya di sana jelas akan membuat Rocky merasa tak nyaman. Kalau dia sampai menyerang lalu dibunuh oleh gadis itu bagaimana? Sia-sia aku menjaga reinkarnasi Gora selama ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?)
"Kalau merasa tak tenang membiarkan Justin bersama Ilona, kau hampiri saja mereka, Karl. Sekalian kau ajak Elil dan Ilona berkeliling di rumah ini. Nantinya kan Ilona akan tinggal bersamamu," ucap Gabrielle mencoba menenangkan putranya yang terlihat gelisah.
"Jadi kau takut?"
"Bukan takut, tapi aku tak berdaya. Kalian semua tahu sendiri Ilona itu seistimewa apa bagi hidupku. Harusnya tidak perlu lagilah aku menjelaskan."
Cio dan ayahnya saling senggol karena merasa tergelitik akan ketidakberdayaan seorang Karl. Namun, kelakuan tersebut tidak berlangsung lama karena macan loreng di samping mereka sudah menyalakan sinyal kematian. Mereka diam dan duduk tegak, tapi bibir masih berkedut karena menahan tawa.
"Ekhmmm, Karl. Kalau Ilona bisa mematahkan kesialan dihidupmu kira-kira dia bisa tidak ya mengembalikan ingatan Flow seperti dulu?" tanya Levita. Dia lalu melirik sinis ke arah keluarga sang rival. "Flow itukan sudah kami jodohkan dengan Oliver sejak masih menjadi embrio di dalam perut Bibi dan Ibumu. Bibi tidak mau saja seseorang merusak perjodohan itu hanya karena Flow lupa ingatan."
"Aku tidak tahu kalau soal itu, Bi. Karena sebelum meninggal, Nenek Liona hanya bilang kalau Ilona adalah penawar untuk kesialanku. Begitu,"
__ADS_1
"Uh, pelit sekali nenekmu itu. Dasar pilih kasih."
Kayo, Jackson, dan juga Russel tampak tenang-tenang saja meski Levita terus menyindir mereka. Elea yang melihat hal itupun nampak tersenyum tipis. Dia tahu akan seperti apa ending hubungan Flow dan Oliver, tapi memilih diam demi sebuah kejutan. Biar sajalah. Toh Kayo dan Jackson adalah dua orang yang sangat tahu tempat. Mereka tak mungkin bermain curang di belakang pelakor halal itu.
"Jadi sekarang bagaimana? Aku ... aku takut Rocky dibunuh oleh ....
"Oleh siapa?"
Tak tak tak
Sambil menggandeng tangan Justin, ekor mata Ilona mengawasi Karl dengan sangat tajam. Dia dan penjaga akhirnya berhasil membujuk bocah ini supaya tidak memaksanya masuk ke kandang Rocky. Sedangkan Elil, gadis bodoh itu kini tengah dipapah oleh pelayan. Gara-gara melihat ekornya Rocky, gadis itu hampir saja pingsan dan kencing di celana. Sungguh gadis yang sangat merepotkan sekali.
"Tuan Muda, siapa yang Anda maksud akan membunuh Rocky? Saya?" tanya Ilona sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Bu-bukan, aku tidak bicara seperti itu tadi. Kau salah paham," jawab Karl terbata. Dan seperti biasa, keringat langsung membanjiri tubuh Karl begitu berhadapan dengan sang pawang. Padahal Ilona sama sekali tak melakukan apapun, hanya menatapnya saja. Tetapi itu rasanya seperti dia sedang dikuliti hidup-hidup. Sungguh.
"Bibi singa, sebaiknya Bibi jangan terlalu galak pada pamannya Justin. Kasihan. Lihat, Paman Karl jadi terlihat seperti macan ompong sekarang. Padahal biasanya Paman Karl itu terlihat sangat kuat dan juga hebat. Jangan galak-galak ya?"
Ucapan polos Justin sukses membuat mulut Karl ternganga lebar. Sedangkan anggota keluarga yang lain tampak menutup mulut menahan tawa. Lagi-lagi Karl dipermalukan oleh keponakannya sendiri setelah tadi Justin membongkar kalau ini adalah rumahnya.
"Bukannya kau lihat sendiri kalau aku tidak melakukan apa-apa pada pamanmu?" tanya Ilona.
"Tapi Bibi itu sangat seram. Kan Paman Karl jadi takut,"
(Justin, please. Berhenti mempermalukan Paman di hadapan Bibi Ilona. Paman sudah tidak kuat lagi, sayang. Paman mohon,)
Menjadi satu-satunya orang yang bisa mendengar isi pikiran Karl membuat Gabrielle harus mati-matian menahan suara tawanya agar tidak bocor keluar. Perutnya sampai kaku karena tak kuasa memendam kelucuan yang sedang berlangsung tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Jadi apa yang harus aku lakukan pada pamanmu sekarang? Aku sangat lapar. Dan ingin sekali makan daging segar. Bisa?"
***