Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Hal Mencurigakan


__ADS_3

( Jangan lupa gift, komen, sama vote nya BESTie. Biar emak tambah semangat nulis. Hehe)


***


"Yas, siapa gadis yang menjadi karyawan baru di perusahaan ini?" tanya Cio. "Aku perhatikan dia dan Karl memiliki hubungan yang tak biasa. Apa mereka pacaran?"


Andreas yang tengah menyesap kopi nyaris tersedak mendengar pertanyaan Cio. Segera dia mengelap mulutnya menggunakan tisu kemudian mendekatkan tubuh ke depan.


"Memangnya apa yang kau lihat?"


"Ck, malah balik bertanya kau. Sudah jawab saja. Mereka pacaran atau tidak?"


"Untuk sekarang sih belum, tapi aku tidak tahu ke depannya bagaimana. Bisa saja mereka tiba-tiba menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kita. Dan jika itu sampai terjadi, aku akan menjadi orang yang paling keras tertawanya. Monster itu kan selalu berdalih tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan wanita. Ya kita lihat saja seperti apa kemajuan hubungan mereka kelak!" jawab Andreas sambil tersenyum tipis.


Setelah berkata seperti itu Cio dan Andreas terkikik pelan. Tak bisa mereka bayangkan akan seseram apa jika Karl sampai jatuh cinta pada wanita. Sikap pria itu pasti akan sangat kaku sekali.


"Gadis itu sudah tak perawan. Apa mungkin Karl yang telah mencurinya?" ucap Cio saat teringat dengan keanehan yang dia lihat di diri Ilona. Sebagai pemain wanita, jelas bukan hal yang sulit untuk seorang Cio membedakan mana wanita bersegel dan mana wanita yang sudah bolong.


"Jauh sekali kau menyelidiki soal Ilona. Bisa dipertanggungjawabkan tidak ucapanmu itu?" tanya Andreas sudah tak heran pada kecerdasan sepupunya soal wanita. Secara, Cio kan penjahat k*lamin.


"Bukan menyelidiki, hanya tak sengaja terlihat saja. Tadi aku sempat bicara dengannya, tapi terpotong gara-gara Karl muncul."


"Hmm, aku sebenarnya juga mempunyai pemikiran yang sama sepertimu. Akan tetapi aku tak punya bukti atas hal tersebut."


(Sekarang saja aku masih bingung apakah Ilona adalah gadis yang malam itu Karl perkosa atau bukan. Sikap mereka menunjukkan kalau tak ada pertemuan yang pernah terjadi. Andai saja benar, aku pasti akan membantu meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Dan siapa tahu juga Ilona adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk monster itu. Hmmm)


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menghentikan percakapan antara Cio dengan Andreas. Tak lama setelah itu pintu pun terbuka setelah Andreas mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan-Tuan. Maaf jika mengganggu!" ucap Ilona dengan sopan. "Saya ingin mengantarkan cemilan."


"Oh, terima kasih. Tolong letakkan cemilannya di atas meja saja," sahut Andreas ramah.


"Baik, Tuan."


Cio terus memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan oleh Ilona. Cantik, sayang dadanya terlalu rata. Kalau saja montok, dia pasti akan terpikir untuk mendekatinya. Lumayanlah untuk dijadikan teman ranjang. Hehe.


"Tuan, kenapa memandangi saya sampai seperti itu? Saya bukan obyek yang bisa dijadikan bahan fantasi kalau Anda mau tahu!" tanya Ilona dengan sopan menegur pria yang tadi pagi mengobrol dengan Elil. Dia merasa risih dengan cara pria ini menatapnya.


Glukkk


Mati-matian Andreas menahan tawa saat Cio ditegur oleh Ilona. Baru tahu rasa pria ini. Siapa suruh matanya jelalatan. Jadi kena semprot kan dia sekarang. Haha.


"Ekhmmm, Nona. Apa sebelumnya kau dan Karl saling kenal?" tanya Cio langsung mengalihkan pembicaraan. Dia keki setelah ditegur oleh gadis ini.


"Tidak!" jawab Ilona dengan cepat. Jantungnya berdegup kuat sekali. Dia takut ketahuan kalau dirinya pernah menghabiskan satu malam bersama pria yang adalah atasannya.


"Kalau tidak kenapa kau memperlakukan Karl seperti musuhmu? Kau diperkosa apa bagaimana?!"


"Tuan, tolong jangan sembarangan ya. Kami itu baru bertemu di perusahaan ini. Tolong Anda jangan mengada-ada!"


"Santai sajalah. Kenapa reaksimu seperti seseorang yang ketahuan sedang mencuri?" ucap Cio merasa ada yang tidak benar dengan reaksi Ilona.


"Saya bukan pencuri!"


"Yang bilang kau pencuri siapa?"


"Kau!"

__ADS_1


Ilona kicep sendiri saat tak sengaja bicara tidak sopan pada temannya Tuan Andreas. Kesal, sekalian saja dia marahi pria tersebut. Kepalang tanggung. Biar sajalah jika harus kehilangan pekerjaan demi menutupi rahasia yang dengan susah payah berusaha dia sembunyikan.


"Tuan, saya tidak tahu ada masalah apa dengan diri Anda. Akan tetapi satu hal yang perlu Anda ketahui. Walaupun saya miskin dan kelaparan, saya tidak akan pernah terpikir untuk menjual tubuh pada pria hidung belang. Jadi tolong Anda jangan bicara macam-macam tentang saya. Kita tak saling kenal. Mohon catat ini baik-baik!" tegas Ilona. Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang kejadian malam itu agar tidak ada yang mengganggu rencana balas dendamnya.


"Hei, kenapa kau marah. Kalau tak merasa melakukan ya sudah. Aneh sekali," sahut Cio dengan santainya. Dia lalu mengambil kopi dan menyesapnya perlahan, sedang tatapannya sama sekali tak teralih dari wajah gadis yang seperti tengah menutupi sesuatu.


"Saya tidak akan bereaksi sekeras ini kalau Anda tidak bicara ngawur. Oke, kali ini saya maafkan. Tetapi jika terjadi lagi di kemudian hari, siapapun Anda, saya bersumpah akan membuat perhitungan dengan sangat keras. Selama bisa melawan, saya tidak akan pernah mau menundukkan kepala. Permisi!"


Cio dan Andreas dibuat melongo takjub akan ketegasan yang Ilona tunjukkan. Namun, bukan mereka namanya jika tak bisa mencium aroma sesuatu yang mencurigakan. Penuh tipu muslihat Cio dan Andreas melakukan high'five sambil menyeringai lebar.


"Kawan, sepertinya aku telah melewatkan sesuatu di sini. Mau kau yang bercerita atau aku sendiri yang mencari tahu. Hm?" tanya Cio sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Haihhh, karena sudah ketahuan ya sudah biar aku saja yang bercerita. Tetapi kau harus berjanji kalau masalah ini hanya kita berdua saja yang tahu. Karl bisa membunuh ku nanti. Oke?"


"Dengan senang hati aku akan mengunci mulutku serapat mungkin. Tenang saja. Rahasia itu aman padaku!"


"Beberapa malam yang lalu Karl pernah tak sengaja meniduri seorang gadis. Itu semua bisa terjadi karena ....


Di lain tempat, berdiri Ilona yang tengah membunyikan jari-jari tangannya sambil menatap tajam ke arah pintu yang menjadi pembatas antara dia dengan b*jingan yang telah mencuri keperawanannya. Dendam di diri Ilona kian tersulut setelah disinggung oleh Tuan Cio tadi.


"Dasar brengsek kau, Karl. Dihadapanku kau berlagak tidak mengenaliku, tapi di belakangku kau malah membagikan cerita pada orang lain. Lihat saja. Hari ini aku akan membuat perhitungan besar-besaran denganmu. Sikapmu sangat keterlaluan dan aku tidak akan tinggal diam. Cihh!"


Dengan amarah yang meluap-luap, Ilona mengetuk pintu ruangan milik Karl. Pokoknya hari ini dia harus mengerjai pria itu habis-habisan. Titik.


Ceklek


"Mau apa kau masuk ke ruanganku? Pergi sana!"


***

__ADS_1


__ADS_2