Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Berkenalan


__ADS_3

"Maaf. Apa benar kau yang bernama Ilona?"


Ilona yang hendak mengambil kotak sampah segera menoleh ke belakang saat seseorang tiba-tiba bertanya. Dia lalu terpaku beberapa detik, takjub akan kecantikan dari orang tersebut.


"Cantik sekali. Apa kau adalah bidadari yang turun dari kayangan?" tanya Ilona antara sadar dan tidak sadar.


"Bukan, aku bukan bidadari. Hanya wanita biasa yang telah menikah dan mempunyai anak," jawab Renata seraya tersenyum kecil. Ekpresi gadis yang dipanggil bibi singa oleh putranya sangat menggemaskan. Dia merasa tergelitik.


"Anak?"


"Ya. Dan ini putraku. Namanya Justin."


Pandangan Ilona beralih pada bocah kecil yang tengah melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar. Sedetik setelah itu barulah dia tersadar telah bersikap tak sopan pada wanita yang ternyata adalah ibunya Justin.


(Mati aku. Jadi bidadari ini adalah istrinya Tuan Bern ya? Astaga, bagaimana ini)


"Halo, bibi singa. Apa kabar?" sapa Justin dengan ramahnya.


"Namaku Ilona, Justin. Dan aku manusia tulen. Bukan makhluk jadi-jadian sejenis siluman," sahut Ilona masih tak paham mengapa bocah ini selalu memanggilnya dengan sebutan bibi singa.


"Siluman?" Justin mengerutkan kening. Dia lalu mendongak menatap sang ibu, hendak menanyakan apa arti dari kata siluman. "Bu, siluman itu apa? Kok Justin tidak pernah dengar nama itu?"


"Itu bukan nama, sayang. Tetapi adalah julukan untuk sesuatu yang tak kasat mata," jawab Renata dengan lembut menjelaskan tentang arti siluman. "Nanti tunggu setelah besar, kau akan mengerti apa itu siluman."


"Baik, Bu."


(Patuh sekali. Perasaan saat bersama Tuan Bern waktu itu Justin tidak sepatuh ini. Apa karena dia takut pada ibunya sehingga bersikap demikian? Ada-ada saja, tapi dia sangat menggemaskan. Xixixi)


"Oya, kita belum berkenalan sejak tadi. Perkenalkan, namaku Renata. Aku adalah ibunya Justin," ucap Renata tanpa ragu mengenalkan diri. Dia lalu mengulurkan tangan ke depan, hendak mengajak gadis ini bersalaman. "Akhir-akhir ini Justin sering sekali menyebut namamu di dalam percakapan kami. Karenanya aku memutuskan untuk mengenalmu lebih dekat. Apa boleh?"


"Boleh, tentu saja sangat boleh, Nyonya." Cepat-cepat Ilona melepas sarung tangannya kemudian menyemprotnya dengan desinfektan. Harus benar-benar steril sebelum berjabat tangan dengan wanita cantik ini. "Saya Ilona. Saya baru bergabung beberapa hari di perusahaan ini. Sungguh sangat tersanjung karena Anda mau berkenalan dengan orang kecil seperti saya. Terima kasih banyak, Nyonya. Anda baik sekali."

__ADS_1


"Bisakah jangan bersikap formal? Aku akan merasa lebih nyaman kalau kita bisa mengobrol layaknya teman dekat."


"Apa tidak apa-apa?"


"Memang apa salahnya? Toh kita semua sama. Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang seharusnya tidak saling membedakan hanya karena sebuah status. Jadi bisa kan kita berteman?"


Mendadak wajah Ilona terasa sejuk sekali mendengar ucapan ibunya Justin yang begitu lembut. Entah mimpi apa dia semalam sehingga bisa bertemu dengan wanita sebijak ini. Ilona serasa melihat dunia baru di mana tidak semua orang kaya bersikap angkuh dan arogan seperti Karl. Eh, Karl?


(Sial. Kenapa aku tiba-tiba jadi kepikiran b*jingan itu ya. Menyebalkan sekali. Huh!)


"Bibi singa, Bibi Elil di mana. Kok tidak ada bersama Bibi?" tanya Justin penasaran.


"Temanmu itu sedang membereskan pekerjaan di ruangan lain. Kenapa memangnya?" jawab Ilona.


"Justin suka mengobrol dengan Bibi Elil. Dia baik sekali,"


"Masa?"


"Iya, Justin tidak bohong." Dengan polosnya Justin meraih tangan bibi singa kemudian menggenggam satu jarinya. "Bibi Elil pernah bilang pada Justin kalau dia mau berkenalan dengan paman dino yang tinggal di rumah Paman Karl. Bibi singa mau ikut tidak?"


"Yahhhh, kenapa tidak. Paman dino sangat baik lo. Dia tidak nakal."


"Kalian saja yang pergi. Aku tidak tertarik," ucap Ilona sambil menggerutu di dalam hati. Tak akan sudi dia menginjakkan kaki di rumah laki-laki b*jingan itu.


"Tapi ....


Ucapan Justin terjeda saat ponsel milik ibunya berdering. Tahu siapa yang menelpon, Justin langsung berjingkrak-jingkrak kesenangan. Hal itu membuat Renata terkekeh. Sedangkan Ilona, dia hanya menatap dalam diam raut bahagia yang menghiasi wajah ibunya Justin ketika akan menjawab panggilan.


"Halo, Bern. Ada apa?"


["Sayang, apa kau masih berada di perusahaan? Kalau iya, tetap tinggal di sana sampai aku datang. Cio memaksaku untuk pergi ke Group Ma."]

__ADS_1


"Oh baiklah. Kalian berhati-hatilah di jalan. Aku dan Justin akan menunggu di sini," sahut Renata.


["Apa kau sudah bertemu dengan Ilona?"]


"Sudah. Kami baru saja berkenalan." Renata menatap Ilona sekilas. Dia kemudian tersenyum. "Ternyata bibi singa yang dimaksud oleh Justin tidak seseram namanya. Ilona sangat manis dan juga cantik. Pantas putra kita begitu menyukainya."


Blussshhh


Padahal yang memuji adalah wanita, tapi hal itu tetap membuat Ilona tersipu. Pipinya sedikit memerah setelah ibunya Justin menyebut kalau dirinya sangat manis dan juga cantik. Aaaaaaa, adakah ojek yang mau mengantarkannya terbang ke langit? Hati Ilona meleleh.


["Kalau kau menyukainya, bujuklah dia agar bersedia tinggal di rumahnya Karl. Nanti aku akan menceritakan semuanya kalau sudah sampai di rumah. Aku tutup dulu panggilannya. Cio rewel. Aku benci itu."]


Renata tertawa sebelum panggilan ditutup oleh Bern. Suaminya itu paling tidak suka pada orang yang berisik. Dan sepertinya Cio sedikit membuat ulah. Hmm, ada-ada saja.


"Ilona, mau tidak kalau aku mengajakmu pergi bermain ke rumah pamannya Justin? Kebetulan besok ada acara kumpul keluarga. Mau ya?" ucap Renata langsung to the point mengikuti arahan Bern supaya membujuk gadis ini.


"Tidak, Nyonya. Terima kasih. Itu adalah acara keluarga, rasanya tidak etis kalau orang luar ikut bergabung," sahut Ilona sungkan ketika diajak untuk bergabung bersama keluarga Nyonya Renata. Dia minder.


"Dulunya aku juga orang luar sepertimu. Kau jangan khawatir. Keluarga suamiku bukanlah sekumpulan orang-orang yang suka membedakan kasta. Di mata mereka kita semua sama. Jadi tolong jangan menolakku ya. Sekalian supaya kita bisa menjadi lebih akrab."


"Tapi ....


"Bibi singa, Miss bilang tidak baik menolak rejeki. Nanti miskin seumur hidup," celetuk Justin tak membiarkan si bibi singa menolak ajakan ibunya. Dia lalu tersenyum ke arah dinding di mana ada sosok tak kasat mata tengah berdiri di sana.


Kedua alis Ilona saling bertaut melihat sikap Justin yang sedikit aneh. Sedang tersenyum pada siapa anak ini? Di sana kan hanya ada mereka bertiga. Kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu? Jadi seram.


"Ilona," ....


Sebuah bisikan lembut berhasil membuat bulu kuduk Ilona berdiri semua. Tangannya lalu bergerak mengusap tengkuk ketika ada hawa dingin berembus di sana.


"Ibu, ada Nenek Zhu di sini. Katanya Justin tidak boleh memberitahu bibi singa. Aneh ya?" bisik Justin.

__ADS_1


Renata terdiam. Dia lalu mengelus puncak kepala Justin sebelum akhirnya menganggukkan kepala sambil membuat isyarat agar putranya ini diam. Renata tak ingin membuat Ilona terkejut jika mendengar ucapan Justin barusan.


***


__ADS_2