
Entah apa yang Karl rasakan ketika Andreas membuka pintu ruangannya. Yang jelas sekarang nafasnya tertahan, ngeri saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan tatapan seorang gadis yang mengenakan seragam cleaning servis.
"Bersiaplah. Atur kata yang baik supaya Ilona bisa sedikit luluh dan memaafkanmu," bisik Bern sebelum berjalan menghampiri Justin.
(Apanya yang harus bersiap. Sekarang saja otakku sudah berhenti berpikir. Dia tidak bisa melihat sendiri apa betapa tatapan Ilona sangat mengerikan. Haihh!)
"Ayah!" panggil Justin seraya melambaikan tangan. "Justin sudah menemukan bibi singa. Lihat, orangnya galak 'kan?"
Di depan pintu, tubuh Bern dan Andreas menjadi kaku begitu mereka mendengar ucapan Justin. Dasar anak-anak, seenaknya saja bicara tanpa bisa merasakan aura mencekam yang dibawa oleh si bibi singa. Astaga. Membuat suasana menjadi canggung saja.
"Maaf mengganggu, Tuan-Tuan. Tadi di bawah Justin bilang pada kami kalau dia ingin membuktikan sesuatu. Apa boleh?" tanya Elil to the point. Dia sudah tak sabar ingin segera menyaksikan sendiri kebenaran dari perkataan bocah tersebut.
"Membuktikan sesuatu? Apa itu?" tanya Bern penasaran.
"Emmm, maaf sebelumnya. Anda siapa ya?"
"Aku ayahnya Justin." Bern tersenyum. Tangannya kemudian bergerak mengusap puncak kepala Justin yang masih duduk di atas jonitor trolly. "Justin masih anak-anak. Kalau perbuatannya ada yang merugikan kalian tolong dimaafkan ya."
"Oh, tidak sama sekali, Tuan. Justru Justin membuat pekerjaan kami menjadi semakin cepat selesai. Sungguh!" sahut Elil langsung menjadi penjilat begitu mengetahui kalau dirinya tengah bicara dengan orangtua Justin. Kapan lagi coba bisa mengobrol dengan orang tampan? Hehe.
Sriinnnggg
Elil yang tengah mengagumi sosok ayahnya Justin langsung menelan ludah saat merasakan ada tatapan tajam dari arah samping. Fiks, Ilona pasti marah. Bagaimana ini?
"Yakin Justin membuat pekerjaan kita menjadi cepat selesai?" tanya Ilona penuh nada mengancam. Geram sekali dia pada gadis bodoh ini. Mentang-mentang terpesona, seenaknya sendiri dalam berucap. Ingin rasanya Ilona mengikat bibir Elil supaya tidak sembarangan bicara.
"Hehehe, jangan marah, Na. Aku hanya bercanda kok," jawab Elil langsung menciut.
"Cih,"
Suara decihan yang keluar dari mulut Ilona membuat Bern tersenyum tipis. Kalau gadis ini benar adalah jodohnya Karl, maka habislah hidup saudaranya itu. Ilona hanya terlihat manis di luar, tapi kata-katanya bagai racun berbisa. Bern jadi penasaran akan jadi seperti apa hidup saudara kembarnya jika tinggal seatap dengan gadis ini. Pasti menegangkan.
__ADS_1
"Oya, Nona Elil. Tadi kau bilang Justin ingin membuktikan sesuatu. Membuktikan apa?" tanya Andreas memecah ketegangan yang terjadi.
"Em itu, Tuan. Anu ....
Ucapan Elil terjeda, tapi ekor matanya melirik ke arah pria yang tengah duduk di dalam ruangan. Andreas yang menyadari ke mana arah mata Elil memandang seketika menoleh. Sudut bibirnya berkedut.
(Kali ini fakta apalagi yang akan diungkap oleh Justin ya? Xixixi, mana tentang Karl pula. Pasti seru)
Karl yang mendengar isi pikiran Andreas dengan tegang menyeka keringat di kening. Sungguh sialan sekali sepupunya itu. Di saat genting begini malah seenak tertawa dalam hati. Ingin marah, tapi terlalu berat untuk Karl melakukannya karena di sana Ilona. Dia merasa tercekik sekarang.
"Cepat kendalikan dirimu, Karl. Jangan lemah begini. Dia itukan manusia, bukan malaikat pencabut nyawa. Apa yang harus kau takutkan?" gumam Karl sambil memegangi lututnya yang terasa lemas. Benar-benar sangat aneh. Karl sampai bingung sendiri dengan reaksi tubuhnya setelah mengetahui siapa Ilona. Huh.
"Justin bilang kalau Tuan Muda Karl takut kepadaku. Apa benar?" ucap Ilona penuh penekanan ketika menyebut kata Tuan Muda. Sengaja dia melakukannya agar Karl tahu kalau dirinya masih kesal dengan insiden di depan lift.
"Itu benar, bibi singa. Justin tidak bohong!" timpal Justin meyakinkan.
"Anak kecil tidak boleh menimbrung pembicaraan orang dewasa. Tidak sopan namanya!"
Cepat-cepat Justin menutup mulutnya setelah ditegur oleh bibi singa. Setelah itu dia duduk tenang di atas jonitor trolly sembari mendengarkan percakapan orang dewasa.
"Nona Ilona, untuk masalah itu sebaiknya kau tanyakan langsung saja pada orangnya. Karl ada di dalam. Masuklah!" ucap Andreas mempersilahkan. Nah, kena kau monster dingin. Haha.
Tanpa berucap sepatah katapun, Ilona melangkah masuk ke dalam ruangan guna menghampiri pria cabul yang tengah duduk santai di kursi kebesarannya. Dongkol, itu rasa pertama yang muncul di hati Ilona ketika melihat pria tersebut hanya diam saja tanpa ada keinginan untuk meminta maaf kepadanya.
(Lama-lama aku jadi ingin memasukkan orang ini ke kolam buaya. Lihatlah, sok sekali dia. Sudah melecehkan orang bukannya meminta maaf ini malah bersikap sok santai. Membuat geram saja. Huh!)
"Tuan Muda, apa benar ....
"Ayo tinggal bersamaku!" ucap Karl spontan. Dia lalu menelan ludah karena sudah kelepasan bicara. Niat hati ingin meminta maaf, malah kalimat ajakan tinggal bersama yang keluar dari mulutnya. Astaga.
"Tinggal bersama?" beo Ilona sambil mengepalkan kedua tangan. "Ini maksudnya apa ya? Apa Anda berniat ingin melecehkan saya secara bebas? Kurang ajar sekali ya!"
__ADS_1
Rasanya dunia seperti kiamat ketika Karl memberanikan diri menatap Ilona. Gadis ini tatapannya sangat mengerikan. Raut wajahnya terlihat gelap gulita dan juga bengis. Seolah tengah kelaparan dan dirinya adalah calon mangsa.
"Aku hanya asal bicara saja tadi. Jangan dimasukkan ke dalam hati!" ucap Karl mencoba berkilah. Jantungnya sudah mau copot sekarang.
"Hanya asal bicara?" cibir Ilona. "Yakin?"
"Tentu saja aku sangat yakin. Kenapa memangnya?"
"Sayangnya saya lebih percaya kalau monyet bisa mengidam ketimbang harus percaya pada ucapan Anda. Asal Anda tahu saja, Tuan Muda. Saya masih belum melupakan pelecehan yang terjadi malam itu. Di mata saya sekarang Anda tak ubahnya seorang cabul yang tengah menebar rayuan untuk mencari mangsa. Jadi apapun alasannya, saya tidak akan sudi dan tidak akan pernah mau tinggal bersama Anda. Titik!" tegas Ilona penuh amarah. Sayang sekali dia harus tetap menjaga sikap di sini. Kalau tidak, sampai purnama ke tujuh pun dia tidak akan membiarkan pria cabul ini selamat begitu saja.
Di depan pintu, Bern, Andreas, Elil dan juga Justin tampak menyimak dengan seksama pertengkaran antara Karl dengan Ilona. Mereka menjadi semakin yakin dengan apa yang Justin katakan kalau Karl sangat takut pada si bibi singa. Meskipun Ilona tidak melakukan serangan apa-apa, tapi cara gadis itu bicara dan menatap Karl sudah cukup menjadi bukti bahwasanya Ilona adalah pawang pentolan paling kejam di keluarga Ma. Sungguh fakta yang sangat mencengangkan.
"Ilona, aku tahu kau adalah gadis itu," ucap Karl. Sudah kepalang tanggung, jadi sekalian saja dia ungkap percintaan panas mereka setelah mengkonsumsi air beracun.
Sebelah alis Ilona terangkat ke atas. Dia kurang paham maksud dari ucapan Karl barusan. "Kalau bicara itu yang jelas. Jangan setengah-setengah!" tegur Ilona jengah.
"Kau dan aku, kita ... beberapa malam yang lalu bercinta di dalam ... hmppptttt!"
Secepat kilat Ilona membungkam mulut Karl yang tiba-tiba mengungkit kejadian menjijikkan itu. Sungguh, rasanya seperti tersambar petir begitu Ilona menyadari kalau Karl ingat dengan pertemuan pertama mereka. Untung dia cepat bergerak. Kalau tidak, dijamin semua orang akan tahu kalau dirinya sudah tidak perawan.
"Kalau kau berani mengungkit masalah ini di depan banyak orang, aku bersumpah akan meracunmu sampai mati. Tutup mulutmu rapat-rapat dan mari kita cari tempat aman untuk bicara empat mata. Mengerti?!" ancam Ilona dengan nafas memburu.
Karl mengangguk. Dia syok sekali saat Ilona tiba-tiba membungkam mulutnya. Tak mau mati konyol, Karl dengan patuh mengikuti gadis itu keluar. Saat melewati Bern cs, Karl sempat tak sengaja melihat senyum di bibirnya. Dan itu sangat luar biasa menjengkelkan.
"Pastikan ragamu tidak terpisah dari nyawamu, Karl. Kami menunggumu di sini," goda Bern sambil menahan tawa.
"Mati saja kau sana. Dasar sialan! Huh!"
"Hehehe," ....
***
__ADS_1