
"Wahhh, apa kita sedang berada di kayangan? Rumahnya bagus sekali, Na. Juga besar dan megah. Kau yakin kita tidak salah alamat?" tanya Elil sambil menelan ludah. Dia takjub sekali melihat kemegahan rumah milik Nyonya Renata.
"Salah alamat kepalamu itu. Supir tadi bilang kalau memang benar ini alamat yang kita tuju. Tidak mungkin Nyonya Renata memberikan alamat palsu kepadaku," jawab Ilona sambil terus memandangi rumah megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Sebelumnya dia sudah cukup sering melihat bangunan megah, tapi kali ini entah mengapa rasanya sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu yang besar tengah menunggunya di dalam sana.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk. Aku tidak sabar ingin melihat-lihat isi di dalamnya. Pasti ada banyak barang yang bisa dijual."
Begitu Elil selesai bicara, dia langsung memekik kesakitan saat Ilona menjambak rambutnya. Salah lagi. Padahal Elil hanya mengatakan kebenaran saja. Huh.
"Kita datang kemari adalah sebagai tamu, bukan pencuri. Hati-hati kalau bicara!" tegur Ilona sambil memelototkan mata.
"Iya-iya maaf,"
"Awas saja kalau di dalam nanti kau berani macam-macam. Aku akan meminta Tuan Bern menjadikanmu sebagai tumbal proyek. Mau?"
"Tidak mau."
"Kalau begitu patuh."
"Iya aku patuh."
Setelah yakin kalau Elil tidak akan berbuat macam-macam, barulah Ilona mengajaknya masuk ke dalam. Pertama-tama yang mereka lakukan adalah mencari letak bel. Gerbang rumah ini memang terbuka lebar, tapi bukan berarti mereka bisa bertindak sesuka hati dengan masuk tanpa ijin. Ingat, ini adalah kediaman salah satu anggota keluarga Ma. Harus menjaga sikap supaya tidak dicap sebagai tamu yang tidak tahu diri.
"Selamat datang, Nona Ilona. Silah ....
"WAAAAAAA!"
Elil dan Ilona sama-sama berteriak kencang saat seseorang bicara di belakang mereka. Entah kapan orang ini muncul. Yang jelas kehadirannya membuat jantung mereka hampir terlepas.
"Yakkkk, kenapa tiba-tiba muncul di belakang kami?!" tegur Ilona sambil mengelus dada.
"Sejak tadi kami sudah berada di sini, Nona."
"Benarkah?"
"Iya,"
__ADS_1
"Kok aku tidak lihat?"
Elil terus memperhatikan orang yang tengah dimarahi oleh Ilona. Dia merasa familiar.
"Em Tuan, kau bukannya sopir yang tadi mengantarkan kami ya?" tanya Elil tak tahan untuk tidak bertanya. Ilona bilang matanya katarak. Jadi lebih baik dia memastikan langsung daripada salah menebak orang.
"Bukan, Nona. Itu orang lain,"
"Masa sih. Tapi wajah kalian sangat mirip. Iyakan, Na?"
"Mana aku tahu. Aku tidak sesenggang itu sampai harus memperhatikan wajah sopir," sahut Ilona cetus.
"Iya juga ya. Ya sudahlah, mungkin memang benar kalau mataku ini katarak."
"Cihhh,"
Penjaga yang barusan dimarahi oleh Ilona tampak mengangguk samar sambil memegangi sesuatu di telinganya. Dia telah menerima perintah untuk membawa masuk kedua gadis yang masih berdiri di depan gerbang.
"Nona Ilona, Nona Elil, silahkan masuk. Semua orang telah menunggu kalian di dalam."
"Lebih baik kau lihat langsung saja ke sana. Kami tidak diijinkan untuk sembarangan bicara."
Ilona mencebikkan bibir. Bersama para penjaga, dia dan Elil melangkah masuk ke kediaman Nyonya Renata. Begitu masuk, mata mereka langsung dimanjakan oleh kondisi taman yang ditata dengan begitu apik. Ada banyak sekali bunga warna-warni yang tengah mekar beberapa. Sangat indah.
"Na, kalau Nyonya Renata dan Tuan Bern memintaku untuk tinggal di sini, aku pasti akan langsung menjawab iya. Rumah ini bukan rumah, Na. Tapi surga. Lihat itu. Rasanya aku seperti sedang berada di negeri dongeng," bisik Elil takjub akan keindahan yang terbentang nyata di depan mata.
"Aku ingatkan sebaiknya kalau bermimpi itu jangan terlalu tinggi. Nanti kau patah tulang jika terjatuh ke kenyataan!" ejek Ilona merasa tergelitik akan ucapan Elil. Tempat ini memang luar biasa bagus, tapi belum sampai membuatnya terpikir untuk tinggal di sini. Ilona sadar diri. Sangat tak mungkin untuknya bisa masuk ke keluarga berkuasa itu. Terlalu mustahil.
"Memang apa salahnya kalau mimpiku adalah menjadi bagian dari keluarga Ma. Apa tidak bangga mendiang orangtuaku jika melihatku hidup bahagia bersama mereka?"
"Haihhh, terserah kau saja ingin berkata apa, Lil. Aku lelah mendengarnya,"
"Huuu, kau ini tidak asik sekali, Na. Diajak berkhayal malah tanggapanmu acuh begitu. Aku do'akan semoga kau benar-benar menjadi bagian dari keluarga Ma supaya aku bisa kena enaknya juga. Hehehehe,"
"Ilona," ....
__ADS_1
Sreettt
Langkah Ilona langsung terhenti saat dia mendengar seseorang memanggilnya dengan suara samar-samar. Tengkuknya merinding seketika. Penasaran, Ilona segera mengedarkan pandangan.
"Ada apa, Nona?" tanya penjaga.
"Kalian mendengar suara seseorang memanggilku tidak?" ucap Ilona balik bertanya.
Para penjaga saling menatap saat Ilona bertanya seperti itu. Sedetik setelahnya satu di antara mereka bergegas masuk ke dalam rumah. Ilona yang heran dengan tindakan penjaga tersebut berniat meminta penjelasan. Namun belum juga mulutnya terbuka, suara itu kembali terdengar.
"Ini sudah menjadi takdir Tuhan. Keistimewaan didirimu akan mengantarkan seseorang dari mereka menuju kehidupan yang baru. Kau adalah mata rantainya, Ilona. Melangkahlah dan rengkuh duka nestapa itu dengan penuh suka cita. Niscaya kemuliaan akan menyertai hidupmu kelak."
"Siapa kau?" teriak Ilona.
"Siapa yang siapa, Na? Aku maksudnya?" sahut Elil bingung melihat Ilona tiba-tiba berteriak. "Aku Elil, Na. Masa kau lupa."
"Diam kau bodoh. Bukan kau yang ku maksud, tapi orang yang sejak tadi bicara tanpa terlihat wujudnya," jawab Ilona sambil terus mengedarkan pandangan.
(Suara siapa itu? Mengapa rasanya aku seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat besar? Perasaan macam apa ini. Di mana orang itu berada?)
"Ilona, kau ini kenapa sih. Kalau ingin menjadi bagian dari keluarga Ma tidak harus begini juga cara mencari perhatiannya. Katakan saja langsung pada Nyonya Renata,"
"Omong kosong. Bicara apa kau!"
"Aku hanya sekadar memberimu solusi, Na. Habisnya kau terus bersikap aneh sih. Kan aku jadi berpikir kalau sebenarnya kau itu sangat ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Iya 'kan?"
Ilona mengabaikan ucapan nyeleneh Elil saat suara misterius itu kembali terdengar. Secara perlahan, bayangan-bayangan aneh mulai muncul di kepalanya. Bayangan di mana dirinya tengah berbincang dengan seseorang berpakaian baju perang, membuatnya jadi kebingungan. Siapa orang ini? Dan kenapa juga bisa muncul ingatan di mana pakaian yang orang tersebut kenakan sangat ketinggalan zaman?
"Bibi singa!"
Justin dengan gembira berteriak memanggil bibi singa kesayangannya. Dia lalu berlari mendekat. "Kenapa Bibi lama sekali datangnya. Bokong Paman Karl sampai di tumbuhi jamur karena terlalu bosan menunggu kedatangan Bibi. Sungguh,"
"APA? P-PAMAN KARL???!"
***
__ADS_1