Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Alam Surga


__ADS_3

Eugghhhhh


Di pagi hari, seorang gadis tampak menggeliat di atas pembaringan. Wajahnya terlihat segar meski kedua matanya masih terpejam. Tak jauh dari gadis tersebut, ada seorang pria yang mematung diam dengan posisi hendak mengambil ponsel di atas nakas.


(Aduh, bagaimana ini? Ilona sudah bangun. Apa yang harus ku lakukan? Kalau dia mengamuk bagaimana? Apa aku kabur saja? Tapi inikan rumahku, kenapa aku yang kabur?)


Berbagai macam pertanyaan tak henti berkecamuk di pikiran Karl akibat dia yang panik melihat Ilona mulai terbangun dari tidur. Walaupun semalam dirinya telah menemukan banyak alasan untuk menjelaskan mengapa gadis ini bisa berada di kamarnya, alasan-alasan itu mendadak musnah dari pikiran. Karl terlalu gugup hingga membuat otaknya seperti berhenti bekerja.


"Ahhh segar sekali tubuhku. Sepertinya ini adalah tidur ternyenyak yang pernah kurasakan selama hidup," gumam Ilona sembari mengepak-ngepakkan kedua tangannya bak sepasang sayap. Dengan kondisi mata yang masih terpejam, dia berguling ke sana kemari sambil sesekali melengkungkan tubuh seperti ulat. Sangat puas. "Betapa senangnya hati. Hidup mapan, rumah ada, pekerjaan ada, makanan pun ada. Aku bahagia sekali,"


Ilona terus berceloteh ini dan itu tanpa menyadari kalau ocehannya didengar oleh orang lain. Dia berpikir kalau saat ini tengah berada di rumah sewa yang dia tempati. Maklum, nyawanya belum terkumpul semua. Jadi dia tak peka.


(Hahaha, apa-apaan gadis ini. Suaranya jelek sekali, mirip kaleng rombeng yang dulu sering dia kumpulkan. Apa aku rekam saja ya untuk dijadikan bahan olok-olokan? Lucu juga,)


Tanpa membuang waktu lagi, Karl bergegas mengabadikan momen di mana Ilona berkamuflase menjadi beberapa bentuk hewan. Kadang jadi kupu-kupu, kadang jadi ulat bulu, kadang juga seperti binatang yang suka menyanyi tengah malam. Pokoknya aneh. Dan tanpa sadar itu semua membuat Karl terus menyunggingkan senyum. Senyum yang jarang sekali dilihat orang, kini tak henti muncul hanya karena prilaku seorang gadis mantan pemulung.


"Astaga, jam berapa ini. Aku bisa terlambat kalau tidak segera bangun!" pekik Ilona tiba-tiba teringat dengan pekerjaannya. Segera dia menyibak selimut kemudian melompat turun dari ranjang. Dan ketika hendak menuju kamar mandi, Ilona merasa seperti berpapasan dengan seseorang yang sangat familiar. Namun karena takut kesiangan, dia tak mempedulikan hal tersebut. Yang Ilona pikirkan cuma satu. Bergegas mandi kemudian berangkat bekerja. "Ck, Elil itu apa-apaan sih. Kenapa tidak membangunkan aku? Cari mati apa bagaimana gadis it ....


Ceklek


Ilona terbengang seperti orang bodoh begitu membuka pintu kamar mandi. Bingung, heran, aneh, takjub, pokoknya semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu ketika matanya melihat pemandangan yang begitu memukau. Dihadapannya sekarang ada satu ruangan luas sekali segan tatanan yang sangat aduhai. Mewah, bersinar, juga wangi. Dalam ketidaksadarannya, Ilona serasa masuk ke alam surga. Sangat indah.


"Apa ini alasan kenapa Elil tidak membangunkan aku? Ternyata aku sudah berada di surga sekarang," gumam Ilona sambil tersenyum-senyum seperti orang gila. "Tapi kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah surga adalah tempatnya orang yang sudah meninggal ya? Aneh sekali,"


(Jangan sadar sekarang, jangan sadar sekarang)

__ADS_1


"Tunggu-tunggu. Kalau tidak salah ingat semalam aku sedang berada di rumahnya Nyonya Renata, eh bukan. Aku bukan berada di rumah Nyonya Renata, tapi dijebak mendatangi rumah b*jingan itu. Iya!" ujar Ilona akhirnya teringat dengan kejadian semalam. Masih dengan posisi di depan pintu kamar mandi, dia mencoba mengingat semua hal yang terjadi hingga satu ingatan membuatnya berteriak kuat sekali. "Dasar brengsek kau, Karl. Beraninya kau meracuniku!!!!"


"Aku tidak meracunimu kok!" celetuk Karl tanpa sadar menyahuti teriakan Ilona. Sedetik setelahnya dia tampak pasrah. Bodoh sekali. Kenapa dia malah ikut bicara di saat Ilona sedang murka-murkanya? Matilah dia.


Sreett


Dengan kekuatan super, Ilona langsung berpindah posisi di samping Karl. Dia lalu mengamati dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki pria ini. Masih menginjak lantai. Itu artinya Karl masih hidup. Lalu bagaimana cara b*jingan ini mendengar suaranya? Jangan-jangan ....


"Se-sedang lihat apa kau?" tanya Karl gugup.


"Kau bisa melihatku?" sahut Ilona balik bertanya.


"Tentu saja bisa. Akukan punya mata," jawab Karl bingung. Gadis ini kenapa? Aneh sekali.


"Aku juga tahu kau punya mata, tapikan semalam kau sudah meracuniku. Aku bukan lagi manusia sekarang."


Karl meng*lum senyum. Jadi gadis ini sedang mengira kalau dirinya sudah meninggal dunia karena diracun? Astaga, lawak sekali. Pantas tadi bertanya apakah bisa melihatnya atau tidak. Ternyata oh ternyata, Ilona sedang salah paham. Hahaha.


(Aneh. Ini ada apa ya? Kakiku dan kakinya Karl masih sama-sama menginjak bumi, tapi kenapa aku bisa berada di surga? Bukannya orang yang masih hidup tidak bisa melihat arwah orang yang sudah meninggal ya? Atau jangan-jangan Karl adalah pengecualian karena aku meninggal dengan posisi sangat membencinya? Argggg, jadi pusing.)


"Ini kita sedang berada di surga 'kan?" tanya Ilona mencoba mencari tahu.


"Bukan, ini bukan surga," jawab Karl sambil menahan tawa.


"Kalau bukan surga lalu apa?"

__ADS_1


"Rumahku."


"Rumahmu?"


Karl mengangguk. Kali ini dia sudah siap lahir batin jika Ilona sampai mengamuk. Sambil memasukkan ponsel ke saku celana, Karl menunggu detik-detik Ilona kerasukan.


"Jadi aku bukan berada di surga, tapi di rumahnya Karl?" gumam Ilona bertanya-tanya sendiri. Setelah itu dia menatap ke arah kamar mandi, lalu beralih menatap Karl. Hal itu terus dia ulangi beberapa kali hingga ingatan tentang Elil yang diajak bekerja sama oleh pria ini untuk menculiknya muncul di dalam pikiran. Ilona syok. "J-jangan bilang kau telah menculikku, Karl. Apa benar?"


"Aku tidak menculikmu. Hanya membuatmu tetap tinggal di rumahku," jawab Karl dengan jujur. Dia mengambil ancang-ancang untuk keluar dari kamar. Ternyata nyalinya tak sesiap itu untuk menghadapi kemurkaan gadis dihadapannya.


"Apa kau bilang? Membuatku tetap tinggal di rumahmu?"


"I-iya. Semalam kau bahkan tidur di ranjangku. Mau lihat buktinya tidak?"


Di detik ini, Ilona seperti kerasukan setan banteng. Di kepalanya muncul dua tanduk runcing tak kasat mata. Wajahnya yang terlihat putih, kini berubah menjadi merah padam setelah mengetahui kebenarannya.


"Karl, hari ini kau harus mati. Aku tidak terima dipaksa untuk tinggal satu atap dengan b*jingan mesum sepertimu. Kau harus ....


Belum juga Ilona menyelesaikan perkataannya, Karl sudah lebih dulu hilang dari pandangan. Hal itu membuat emosi Ilona kian meluap. Seperti orang kerasukan, dia menggedor pintu kamar yang sudah dikunci dari luar. Ilona menggila.


"BUKA PINTUNYA, BRENGSEK! BUKAAA!!"


Di luar kamar, Karl duduk di lantai sambil terus mengelus dada. Untung saja dia berhasil selamat dari terkaman Ilona. Kalau tidak, gadis itu pasti membuatnya babak belur tak karuan.


"Aku pikir Rocky adalah yang paling mengerikan di rumah ini. Ternyata aku salah. Ilona seribu kali lebih mengerikan lagi. Astaga, malang sekali nasibku. Sekalinya berurusan dengan wanita, malah menemukan yang berspek iblis sepertinya. Tuhan-Tuhan, kenapa hidupku miris sekali sih,"

__ADS_1


***


__ADS_2