
(Bom komentar, gift + votenya jangan lupa ya bestie)
***
Dua hari ini Elil dibuat kalang kabut oleh sikap Ilona yang terus uring-uringan tanpa sebab. Dia yang tak tahu apa-apa harus rela menjadi korban kebuasan mulut gadis tersebut.
"Aku kan sudah bilang kalau meletakkan sapu itu harus sejajar. Jangan miring begini. Bagaimana sih!" omel Ilona sembari membenarkan posisi sapu yang sedikit miring ke samping. Dia lalu melirik tajam ke arah Elil yang tengah menatapnya penuh keheranan. "Apa yang sedang kau lihat hah?"
"Na, kau ini sebenarnya kenapa sih. Lumrahnya wanita yang sedang datang bulan memang sangat wajar jika emosinya naik turun sepertimu, tapi dalam kasus ini kau kan sedang tidak datang bulan. Lalu kenapa kau marah-marah terus? Aku pusing melihatnya," keluh Elil mempertanyakan keanehan sikap Ilona. Eittsss, kalian jangan senang dulu. Elil harus mengumpulkan keberanian yang sangat besar demi bisa mengutarakan isi hatinya. Kalian sendiri kan betapa Elil sangat takut pada amarah gadis ini.
"Lalu apa urusanku dengan semua itu? Yang pusing kan dirimu, bukan aku."
"Tapi aku yang jadi korban, Ilona. Bahkan bernapas pun aku jadi tidak tenang gara-gara kau yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah. Aneh sekali!"
Bukannya merespon baik keluhan Elil, yang ada Ilona malah bertambah semakin kesal. Dia lalu menyambar pegangan jonitor trolly dan menariknya menuju ruangan lain. Pekerjaan masih menumpuk. Sama seperti kekesalan yang menumpuk tinggi di hatinya.
(Karma apa sih yang pernah kuperbuat sehingga harus bertemu dengan laki-laki seperti Karl. Tolonglah, Tuhan. Tujuanku pindah kemari adalah untuk membuka lembaran hidup baru, tapi kenapa di awal percobaan kau sudah memberiku takdir semenyebalkan ini. Apa salahku? Di tempat yang lama hidupku tak tenang gara-gara berurusan dengan rentenir. Lalu di tempat yang baru aku harus berurusan dengan manusia yang berotak dangkal seperti Karl. Sebenarnya apa maksud semua ini, Tuhan. Tolonglah. Aku benar-benar hanya ingin hidup tenang sebentar. Tolong!)
"Dasar gadis gila. Diajak bicara malah pergi begitu saja. Huh!" gerutu Elil sembari mengerucutkan bibir.
"Siapa yang kau sebut gila?"
Hampir saja Elil berteriak kencang saat seseorang tiba-tiba bicara dari arah belakang jika orang tersebut tidak sigap membungkam mulutnya. Kalau tidak, dijamin orang satu perusahaan pasti kaget mendengar suara teriakannya.
"Harus ya berteriak sekuat itu?" tanya Karl heran. Segera dia melepaskan tangan dari mulut Elil kemudian mengusapkannya ke celana.
__ADS_1
"O-oh, Tuan Muda. Selamat siang," sapa Elil sambil membungkukkan badan. Kaget sekali dia saat tahu kalau orang yang membungkam mulutnya ternyata adalah bos di tempat ini.
(Fyuhhh, hampir saja aku mengatai Tuan Muda dengan kata yang kasar karena sudah mengagetiku. Bisa dipecat aku kalau tadi sampai kelepasan. Selamat-selamat. Tuhan masih berbaik hati dengan tidak membiarkan aku menjadi pemulung lagi. Hehe)
Karl menarik napas dalam-dalam saat mendengar isi pikiran Elil. Teringat dengan tujuannya datang menghampiri gadis ini, Karl pun segera mengedarkan pandangan guna memastikan kalau Ilona tidak ada di sana. Dia masih trauma atas penindasan yang dilakukan gadis itu tempo hari.
"Kau mau uang tidak?"
"Uang?" beo Elil. Tanpa babibu lagi dia langsung menganggukkan kepala. "Hanya orang bodoh yang menolak menerima uang, Tuan Muda. Dan untungnya saya bukan golongan orang-orang bodoh seperti itu."
"Keputusan yang bagus!" puji Karl. Umpan telah berhasil termakan oleh target. Kini dia hanya tinggal menarik kailnya dan hap, ikan yang dia targetkan akan segera masuk dalam genggaman. "Di dunia ini tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan cara yang gratis. Begitu juga dengan uang. Kalau benar kau menginginkan uang tersebut, maka kau harus mau bekerjasama denganku. Bagaimana?"
"Tuan Muda, saya kan sekarang bekerja di Group Ma, bukankah itu sama artinya kalau kita sudah bekerjasama ya?" tanya Elil bingung menyikapi perkataan bosnya.
"Lalu apa maksudnya?"
"Kerjasama ini di luar pekerjaan kantor." Karl mengeratkan gigi. Sepertinya akan sedikit menjengkelkan bicara dengan gadis satu ini.
"Oh, jadi maksudnya saya harus membersihkan bagian luar kantor ya?" ucap Elil seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Saya sudah paham sekarang. Baiklah, setelah ini saya akan langsung membersihkan bagian luar. Anda jangan khawatir, Tuan Muda."
Ingin rasanya Karl menyambit kepala gadis ini yang malah salah memahami ucapannya. Kesal, Karl berkacak pinggang lalu menengadahkan wajahnya ke atas. Sungguh, dua gadis mantan pemulung ini sangat pandai menguras emosi. Yang satu pemarah dan suka membully, sedang yang satunya lagi polos dan kelewat bodoh. Dia berasa sedang uji nyali bicara dengan gadis ini.
(Tenang, Karl. Jangan emosi. Bodoh-bodoh begini hanya Elil yang bisa membantumu membujuk Ilona. Jadi jaga emosimu. Tahan, dan tunggu waktu yang tepat untuk meluapkannya)
"Elil, aku butuh bantuanmu sekarang. Dan kau harus mau menolongku!" paksa Karl to the point. Hanya buang-buang waktu saja bicara dengan gadis yang otaknya kelewat lelet ini.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda," sahut Elil patuh. "Emmm memangnya bantuan apa yang Anda butuhkan?"
"Bantu aku membujuk Ilona agar bersedia tinggal bersamaku. Dan sebagai imbalannya, nanti aku akan memberimu uang satu koper. Tunai, bukan cek!"
"Apa? Membujuk Ilona agar mau tinggal bersama Anda?"
"Ya. Lakukan cara apapun. Jika perlu, halal hukumnya untuk kita menculik gadis itu. Bagaimana? Kau mau 'kan?"
Rahang Elil seperti jatuh ke dasar bumi saat mendengar permintaan bosnya yang ingin agar dia membantu menculik Ilona. Syok, dia itu lalu jatuh terduduk di lantai. Ini ... ini yang Elil khawatirkan. Gara-gara sikap Ilona yang kurang ajar pada bos mereka, sekarang nyawa gadis itu berada dalam bahaya. Pasti bosnya marah besar karena tempo hari Ilona pernah menamparnya.
(Bagaimana ini? Aku tidak mungkin membahayakan keselamatan temanku sendiri. Ya ampun, Ilona. Matilah kau sekarang. Tuan Muda Karl pasti ingin menjadikanmu sebagai tumbal proyek. Aduh, rasanya aku seperti ingin kencing di celana. Siapapun tolong aku!)
Dada Karl bergerak naik turun dengan cepat saat dia mendengar pikiran Elil yang malah mengira kalau dia ingin menjadikan Ilona sebagai tumbal proyek. Sungguh, Karl benar-benar tak paham dengan jalan pikiran gadis ini. Apa sih yang ada di dalam kepalanya sehingga selalu memunculkan pemikiran lain dari apa yang sedang mereka bicarakan? Membuat kesal saja.
"T-Tuan Muda, maaf. Sepertinya saya tidak bisa menolong Anda. Ilona itu sangat mengerikan. Kalau dia tahu saya membantu Anda untuk menculiknya, bisa jadi saya dim*tilasi olehnya. Lebih baik Anda cari orang lain saja ya. Saya tidak berani macam-macam pada gadis itu. Sungguh!" ucap Elil mencoba menyelamatkan diri dari bahaya kematian. Mencari gara-gara dengan Ilona itu sama artinya dengan bunuh diri. Dan jika benar Ilona dijadikan tumbal proyek, maka Elil yang akan gila karena diganggu oleh arwahnya yang penasaran. Itu terlalu seram.
"Jadi kau menolak perintah atasanmu?" geram Karl sambil mengepalkan tangan. Dongkol.
"Saya bukan menolak, Tuan Muda. Tetapi saya hanya mencoba melindungi nyawa saja. Sungguh, dibandingkan dengan kemarahan Anda, saya jauh lebih takut diamuk oleh Ilona. Sekali lagi saya minta maaf ya,"
Setelah berkata seperti itu Elil segera bangun kemudian lari terbirit-birit meninggalkan bosnya sendirian. Dan ketika sampai di tikungan, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Sekujur tubuh Elil seketika merinding hebat saat mendapati bosnya tengah menatapnya dengan bengis. Entah apa salah dan dosanya, yang jelas Elil merasa kalau sekarang nyawanya sedang sangat terancam.
"Tidak Ilona tidak Tuan Muda Karl. Kenapa sih kedua-duanya suka sekali menindasku. Kalau mereka jodoh, fiks sih mereka akan menjadi raja dan ratunya pembully. Ihhh, seram sekali," ....
***
__ADS_1