
Hari Senin yang akan menjadi hari yang sibuk. Aku sudah berada di kantor pukul 8 pagi. Kenapa? Karena aku gak bisa tidur lagi setelah bangun pukul 3 pagi tadi buat selesaikan tahap Pre-Desain dari permintaan klien baru.
Perancangan ini sedikit lebih susah karena merencanakan banyak hal dengan menyesuaikan kondisi tanah serta lingkungan yang akan dibangun.
"Pagi Sinta"
"Pagi Mas Lingga, kok sudah datang?"
"Ia, habis ini ada teman Mas mau datang. Dia senior kamu. Nanti dia akan bantu perusahaan kita sementara soalnya Mas mau pergi ke US."
"Mas Lingga mau ke US? Ngapain?"
"Ia. Mau kuliah. Mungkin kalian bakal saya tinggal 2 tahun."
"2 tahun itu lama lho Mas"
"Hahaha, gak akan kerasa. Apalagi pengganti saya lebih ganteng. Pasti kamu bakal betah."
"Emmm, emang siapa?"
"Adalah. Kamu kenal kok orangnya."
Deg..
Kenal. Siapa aja teman Mas Lingga yang aku kenal? Apa Kak Radit? Tapi teman Mas Lingga yang aku kenal ada beberapa orang lagi.
"Sudah gak perlu dipikirin Sin"
"Ia Mas"
Pukul 9 semua orang sudah datang. Sebenarnya tidak ada jam khusus saat kami bekerja. Namun kami sepakat untuk masuk jam 9 agar lebih enak dan bisa berkumpul. Karena kami industri kreatif maka kami hanya mengutamakan ketepatan waktu deadline dan janji temu dengan klien. Bukan jam masuk kehadiran.
Tiba-tiba Mas Lingga keluar dari ruangannya. Dan segera menuju ke pintu menuju lantai bawah. Dia terkesan terburu-buru. Aku hanya memperhatikan. Apakah teman Mas Lingga sudah datang. Tidak lama kemudian Mas Lingga masuk bersama seseorang.
"Guys, perhatikan saya dulu."
__ADS_1
Semua menghadap Mas Lingga dan bergantian melihat tamu yang dibawa olehnya. Sedangkan mataku, hanya terpaku padanya. Seseorang dari masa lalu. Seseorang yang sudah kukecewakan.
"Ini Kalea Arka Raditya. Dia yang akan megang Creation Of Art sementara selama 2 tahun saya di US. Radit, tolong kamu jaga dan bantu teman-teman disini buat maju ya."
"Halo semua. Saya Radit, panggil saya Radit saja saat kalian di kantor. Bisa panggil saya Pak Radit atau Pak Kalea saat dengan klien. Saya merasa dijebak dengan ditinggal Lingga ke US selama 2 tahun. Terima kasih."
Mas Lingga dan Kak Radit tertawa, dan akhirnya teman-teman yang lain pun ikut tertawa. Kecuali aku. Aku masih memandang takjub dia. Dia masih sama seperti dulu, hanya lebih kurus, lebih tampan karena kulitnya lebih bersih dari dulu waktu SMA. Lebih terlihat matang. Aaarg, ujian apalagi ini Tuhan.
Akhirnya semua berjabat tangan dengan Kak Radit dan sampailah Kak Radit di depanku.
"Halo Ina, kita ketemu lagi."
Aku masih melihatnya tanpa reaksi. Hanya memandang kosong.
"Kamu sakit?" Ada tangan yang memegang pipiku. Memegang dengan lembut seolah meyakinkan bahwa yang aku lihat benar dia.
"Akh,maaf kak. Senang bertemu kakak lagi."
"Auwh"
"Jangan melamun lagi ya lain kali. Atau saya akan cubit pipi kamu yang tembem itu."
Dia lalu tersenyum renyah sambil pergi ke arah Mas Lingga. Dan kemudian mereka masuk ke ruangan.
"Kamu kenal sama temannya Lingga Sin?" Tanya Mas Adi.
"Kenal. Kan kakak kelas dulu pas SMA samaan sama Mas Lingga."
"Owh pantes dia berani cubit pipi kamu. Tapi kok kayaknya kamu syok?"
"Ia lah, gak nyangka bisa ketemu, soalnya katanya kuliah di luar kota, ternyata udah balik."
"Hemmm gitu"
"Udah ah Mas Adi. Sinta lagi banyak kerjaan. Nanti siang mau meeting."
__ADS_1
"Iya iya"
Aku melanjutkan lagi pekerjaanku hingga waktu makan siang. Aku tidak tahu kalau sudah ditinggal oleh semua orang hingga seseorang menyodorkan kotak makan yang berupa makanan kesukaanku. Fast food ayam boneless dan kebab.
"Makan dulu Ina, kerjaannya nanti lagi."
"Kak Radit. Emang udah jam makan?"
Aku melihat jam ternyata sudah hampir pukul 1.
"Yuk makan. Biar gak sakit. Kak Radit kangen Ina, jadi temani Kak Radit ya."
"Tapi…"
Kak Radit menyeretku ke ruang pantry.
"Udah berapa tahun ya Na, kita gak ketemu?"
"Bentar ya Kak, disini Ina dipanggil Sinta, Kak Radit panggil Ina samaan sama teman-teman yang lain juga ya. Terus kita gak ketemu mungkin udah 7 tahunan."
"Lama ya. Gak kerasa sekarang Ina udah dewasa. Maaf, Sinta maksudnya. Kakak panggil kamu Sintari aja deh sekalian. Biar gak susah manggilnya."
"Serah kakak aja deh."
Dia tersenyum. Masih dengan senyum yang lama. Senyum yang selalu aja buatku betah bersamanya. Kalau bukan karena persahabatanku mungkin aku masih langgeng dengannya. Tapi aku juga sudah menemukan Revaro yang juga tidak kalah menawannya dengan Kak Radit.
Tapi harus bekerja dengan mantan dan bertemu setiap hari selama dua tahun entah apa yang akan terjadi pada hatiku ini.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Kalau suka silahkan like dan komentar.
Cerita ini akan saya gantung sesuka hati saya ya. Karena masih dalam pengerjaan.
Ingat, saya gantung sesuka hati saya 😈😈😈
__ADS_1