SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #39 Sintarina Dewi Safitri


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam ketika aku sampai Jakarta. Aku sudah tidak tahu bagaimana aku sampai di tempat tidur. Yang pasti tiba-tiba pagi ini mama membangunkan hingga mencubit pipiku. Ternyata sudah pukul 6 lebih. Biasanya jam segini aku sudah selesai mandi dan tinggal sarapan. Jadi aku langsung bangun dan lompat ke kamar mandi. Sempat ada tragedi kesandung koper yang belum aku taruh di tempatnya sampai Kak Ardan mengetuk pintu kamarku. Hah, ceroboh banget sih.


Aku bersiap dengan kilat supaya aku tidak terlambat. Kali ini aku tanpa make up. Make up di kantor atau tidak perlu make up sekalian karena aku takut terlambat.


Saat akan sarapan aku melihat Kak Ardan masih santai dengan tenang duduk-duduk sambil ngopi.


"Kakak gak kerja?"


"Kerja. Tapi kakak datang siang. Sudah izin."


"Kok gak bilang Ina?"


"Buat apa?"


Iya. Buat apa Kak Ardan bilang aku kalau dia izin datang telat hari ini.


"Emmm, tahu gitu Ina juga izin datang siang."


"Emang kamu gak ada meeting sama klien?"


"Aaarrrg iya. Hari ini pagi-pagi Ina musti briefing sebelum berangkat ke proyek."


Aku segera makan dengan cepat tapi setelah selesai makan aku baru menyadari, aku lupa belum pesan ojek online. Hah, bakal tunggu lama ini.


"Sudah kakak pesenin Ojek. Kamu tungguin di luar. Paling habis gini datang."


"Kakak da best."


Aku pamit ke Mama dan Kak Ardan. Kemana papa? Beliau sedang jadi pemburu dollar, sudah ke Bandara pagi-pagi untuk ke Surabaya.


Jalanan Pagi Jakarta jangan ditanyakan lagi, amat sangat macet. Tapi aku berhasil sampai sebelum pukul 9. Aku melihat banyak yang masih bersantai.

__ADS_1


"Mas, kok santai?"


"Iya, gak briefing, nanti langsung ke proyek aja aku."


"Lho? Kak Radit kemana?"


"Bos datang siang. Kamu tumben baru datang?"


"Bangun kesiangan. Capek. Oiya. Nih oleh-oleh."


"Guys. Oleh-oleh dari Sinta"


Semua mengerubungi oleh-oleh dari Kak Radit yang ku bawa.


"Wah, banyak oleh-oleh banyak kamu Sin?"


"Dapat sumbangan."


"Sama pacar ya ke Bali."


"Enak ya kalau punya saudara yang sayang banget kayak kakak loe."


"Iya. Kak Ardan mang da best deh pokoknya."


"Kakak loe mau married kapan loe married?" Tanya Kak Rossa. 


"Gampang lah Kak. Kalau dilamar pasti nikah."


"Minta dong" kata Mas Adi


"Hahaha, belum siap minta akika. Terserah babang tamvan aja kapan mo lamar esmeralda ini."

__ADS_1


"Cuih" kata Kak Rossa dan Mas Adi bersamaan.


Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Pukul 9 lewat 10 aku segera pergi ke tempat Proyek pengerjaan designku. Pihak kontraktor menjelaskan sampai dimana mereka bekerja. Dan hampir saja klienku meminta untuk diganti beberapa sudut, namun karena pihak kontraktor adalah rekanan perusahaan kami, mereka menolak sebelum mendapat acc perusahaan secara langsung. Banyak memang Klien yang seperti ini, makanya lebih disarankan untuk mengerjakan dengan kontraktor rekanan agar tidak diganti secara mendadak. Karena bila tidak presisi atau ada masalah nantinya, yang tercoreng adalah perusahaan jasa arsitektur itu sendiri.


Mengecek proyek aku lakukan hingga waktu makan siang. Sebelum kembali aku mampir ke warung langgananku untuk makan. Iya aku memang bukan karyawan yang makan saja perlu ke restoran atau rumah makan yang hits. Aku hanya akan memilih mana yang dekat, dan enak. Tempatnya terserah asal gak jorok-jorok amat. Kami orang Arsitek dididik untuk menjadi pekerja lapangan sehingga makan harus mencari yang efisien yang penting tidak membuat kami sakit perut. Bahkan dulu saat kerja praktek aku makan dengan pekerja kontraktor, agar lebih cepat untuk menyusul mereka. Yah begitu nasib kami. Bedanya dulu dan sekarang hanya, sekarang kami bisa memilih makan dimana saja, asal tidak diburu waktu.


Saat aku kembali sudah ada Kak Radit disana. Muka kuyu, aku yakin dia langsung ke kantor setelah dari Bandara.


Dia sedang membuat Kopi ketika aku masuk ke Pantry.


"Baru datang Kak?"


"Lumayan. Sempat urus beberapa hal tadi."


Dia tersenyum datar. Seolah bilang dia baik diluar, tapi sedang amat sangat letih. Aku membuat kopi lalu segera menuju mejaku. Mulai mengerjakan apa saja yang sedang ku kerjakan. 


Entah sampai jam berapa saat ini,namun tepukan dari Mas Adi menyadarkanku.


"Sin, gak pulang?"


"Heh? Jam berapa emang?"


"Jam 6"


Waktu berlalu begitu cepat, lalu aku membereskan semua pekerjaanku. Kalau tidak ingat aku baru dari liburan, aku akan memilih untuk lembur. Namun saat ini badan yang belum fit setelah lelah di perjalanan membuatku ingin cepat istirahat sebelum sakit.


Saat akan turun, aku bersamaan dengan Kak Radit. Namun sepertinya atasanku mendapat sebuah kunjungan.


--- --- --- --- --- ---


Sorry ya, karena si Author lagi suuuibuk bingits sama kerjaan dan banyaknya acara-acara keluarga serta masalah kesehatan jadi lama update. Mohon dimaklumi.

__ADS_1


Sedikit? Ia dikit aja. Ada beberapa part lain yang akan di up kok. Jadi semoga sedikit-sedikit ini jadi panjang.


See you…


__ADS_2