SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #10 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

"Kok loe gak bilang kalau Ina kerja disini Ngga?"



"Kalau loe tau Sinta kerja disini loe bakal approve lebih cepat?"



"Mungkin"



"Loe belum move on dari adik kelas kita itu?"



"Mungkin juga sih, soalnya masih kebayang aja waktu hubungan baik-baik aja dia minta putus."



"Bukan karena kalian bakal LDR?"



"Dia aja gak tau gue mau ke US. Lagian gue yakin dia bakal bertahan LDRan meskipun gue tinggal. Gue kenal dia."



"Kalau loe kenal dia harusnya loe tau dia udah punya pacar."



"Serius?"



"Ia. Lagian cewek kayak dia mana bisa sih lama-lama dianggurin. Gue sering lihat kok pacarnya jemput. Gak rutin sih cuma paling gak sebulan sekali kelihatan lah."



"Gila, kelamaan gue di US kayaknya."



"Makanya loe move on aja mendingan."



"Ya elah, selama janur kuning belum melengkung bisa di tikung kali bro. Ada pepatah baru juga selama belum ada bendera kuning di depan rumah masih ada harapan."



"Gila loe. Obsesi banget sama dia."



"Nggak. Aslinya gue cuma pengen tau kenapa dia minta putus waktu lagi mesra-mesra nya."



"Ya serah loe aja. Pokoknya loe bantu gue urus perusahaan selama gue kuliah."



"Gila loe. 2 tahun itu lama lho. Gak kelamaan apa loe nyuruh gue nya."



"Ya itung-itung loe belajar nanti kan musti pegang punya bokap loe."



"Loe kalau ngrepotin emang gak tanggung-tanggung."



"Hahaha… Itung-itung sambil nikung pacar Ina lah."



"Brengsek."



"Makan siang keluar yok. Gue mau makan sama pacar gue."



"Gak lah, gue makan sendiri aja. Atau kayaknya itu mantan imut bisa diajak makan bareng."



Gue ngelihat si Ina dari balik tirai kaca yang terpasang.



"Serah elo aja deh."





Akhirnya gue pesan makanan favorit kami dulu jaman kenangan lewat ojek online. Lumayan cepat. Dan juga ternyata dia juga belum beranjak dari meja kerjanya. Entah apa yang lagi dia kerjakan. Begitu terima makanan langsung gue samperin si Ina.





Makan siang berlangsung kaku. Gue banyak  bertanya dan dia menjawab singkat. Seasing itukah kami. Tapi gue tetap menikmati waktu bersamanya.



Dia memperingatkan untuk memanggilnya sama dengan yang lain karena tidak enak bila terdengar dengan panggilan kecilnya saat di rumah.




Dia masih seperti dulu. Makan banyak tidak membuatnya gemuk. Hanya pipinya saja yang berisi tapi itu makin membuatnya menggemaskan.




"Kakak boleh nanya gak?"



"Daritadi kak Radit sudah nanya aku terus."



"Hahaha ia ya. Ina udah punya pacar?"



'Dia melihatku. Dengan mata bulatnya. Duh, anak ini makin bikin gemas. Boleh dicium gak sih?'



Dia mengerjap-erjap kan matanya.



"Sudah"



"Yaah, kakak gak bisa ajak balikan dong."


__ADS_1


"Kak Radit."




Cup..



Aku gak tahan melihat pipinya. Dia semakin mempesona dan menggemaskan.



Bahkan saat matanya terbelalak dengan sikapku.



"Kak Radit itu gak sopan. Ina kan bukan pacar kakak lagi. Lagian ini di kantor. Tolong hargai Ina kak."



Matanya meredup sedih. Aku mungkin sudah keterlaluan karena rindu dan senang bersamaan. Rindu yang sudah menumpuk selama tujuh tahun. Senang yang menggebu karena akhirnya bertemu dan berdekatan. Bukan hanya sekedar melihat dari jauh.



"Maafin kak Radit ya. Kak Radit keterlaluan saking kangennya sama Ina. Kakak gak bermaksud untuk melecehkan Ina."



"Terima kasih untuk makan siangnya. Kali ini Ina maafin kakak. Tolong lain kali kakak hargain Ina. Ini d kantor. Lagian Ina juga udah punya kekasih."



"Ia maafin kakak"




"Sin"



"Mas Adi"



"Siang.. emmm Pak Radit"



"Panggil Radit saja. Kamu panggil Lingga juga nama kan."



"Makan siang sama Sinta?"



"Ia. Saya lagi mengenang masa lalu jaman SMA sama adik kelas saya yang menggemaskan ini."



"Oh, ya sudah silahkan dilanjutkan."



"Terima kasih Kak sudah traktir Sinta makan siang."



"Sama-sama Sintarina. Terima kasih sudah menemani saya makan siang ya."




Mereka pergi dari Pantry. Aku tersenyum miris. Ia. Dia memang sudah bukan milikku. Mungkin aku harusnya mencoba untuk menyembunyikan perasaanku. Atau kucoba untuk berjuang mendapatkan dia kembali saja sebelum janur kuning melengkung?





Gue dan Lingga ngobrol soal tender bersama kami hingga pukul 6. Ternyata bekerja dengan teman tidak terlalu buruk. Entah nanti bila sudah menyangkut masalah prinsip tapi yang pasti gue disini hanya membantu dia memantau perusahaan selama dia kuliah S2 nya dan gaji gue seperti gaji pemilik perusahaan dan bonus setiap tender yang selesai seperti yang Lingga dapat dari bokapnya.




Saat keluar dari ruangan Lingga ternyata masih ada Ina disana. Lingga akan menyapa Ina namun aku cegah.



"Biar gue aja yang ngomong, loe pura-pura udah pulang lama."



"Anjir loe. Ambil kesempatan aja. Ya udah gue duluan. Sampai ketemu besok."



"Oke"




"Sintarina"



Dia menatapku. "Kak Radit, belum pulang?"



"Justru kakak mau nanya. Kamu ngapain jam segini belum pulang?"



"Ini lagi rancang ulang gambar soalnya ternyata daerah lahan klien kadang suka banjir, sedangkan mereka pengen punya basement biar bisa muat mobil seandainya undang banyak tamu."



"Besok kakak bantu, sekarang pulang yuk."



"Nanggung kak."



"Gak nanggung itu. Masih banyak yang kudu ditambahi dan direncanain. Termasuk nanti pembuatan gorong-gorong atau serapan biar rumah gak tergenang. Percaya kakak deh. Lagian udah gak ada orang. Kamu naik apa pulangnya?"



"Naik Taxi Online"



"Bareng kakak aja."



"Tapi kak"



"Udah gapapa. Yuk. Nanti malah kakak cemas kalau kamu pulang sendiri."



"Ina biasa pulang sendiri kok meskipun malam."

__ADS_1



"Ck. Percaya. Ina ini orangnya mandiri. Tapi lebih baik kakak antar. Udah gak usah bantah. Kalau mau gak diantar kakak, minta jemput pacar kamu."



"Huft, ya udah. Bentar Ina beres-beres dulu."




Yes. Lumayan lah bisa anterin pulang Ina. Meskipun agak maksa tapi rasanya dia gak keberatan. Apa dia masih ada rasa?





Gue antar Ina sampai depan rumah yang kebetulan ada Bang Ardan lagi beli Nasi Goreng yang lewat depan rumah.



"Makasih ya Kak Radit sudah antar Ina."



"Sama-sama"



"Lho, kakak mau kemana?"



Dia kaget waktu gue mau keluar sapa Bang Ardan.



"Sapa Bang Ardan lah. Kenal masak langsung pulang gitu aja. Apa kakak gak boleh sapa abang kamu?"



Ina sedikit bimbang.



"Ya sudah kalau gak boleh sapa."



"Eh, gapapa kok kak."



Yes, lolos lagi.



Gue pun keluar dari mobil bareng sama Ina.



"Malam Bang Ardan"



Bang Ardan menoleh. Gue yakin gak ada yang manggil dia abang selain gue. Karena semua pasti panggil dia Kak seperti Ina manggil bang Ardan.



"Lho Radit. Hei. Pa kabar?"



"Baik Bang."



"Kok bareng Ina?"



"Ia. Radit sekarang satu kantor sama Ina."



"Owh, gitu. Udah makan? Nih kebetulan abang beli Nasi Goreng."



"Kak Radit keburu-buru Kak,tadi turun nyapa soalnya gak enak kenal tapi langsung ngloyor pulang aja."



Dindong, yellow lamp.



"Ia bang, Radit udah di tunggu mama. Kapan-kapan aja Radit mampir malakin abang."



"Ya udah kalau gitu. Gak ketemu papa mama dulu. Buat sapa mereka?"



"Gak lah bang. Besok-besok juga bisa. Radit pulang ya bang. Salam buat Om Tante."



"Ia nanti abang salamin ke mereka dari calon mantu. Aowh Ina, sakit. Kakak jangan di cubit."



"Abis mulut kak Ardan ngawur."



Hahahaha,kakak nya aja belum move on. Amin aja deh moga aja beneran jadi mantu.



"Balik dulu ya semua."



Gue langsung ke mobil. Gapapa kali ini gagal buat makan dirumah Ina. Siapa tau nanti ada kesempatan.




--- --- --- --- --- --- --- ---




Cerita ini akan saya gantung sesuka hati saya. Jadi nikmati saja kapan saya update. 😈😈




Like kalau kalian suka. Bisa tinggalkan komentar juga.




See you


__ADS_1




__ADS_2