SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #22 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Kak Anjani dan Bang Wibi. Dan pukul 6 sore adalah waktu acara resepsi mereka. Seperti yang sudah diumumkan mama bahwa aku akan berpasangan dengan Gina. Hal yang sangat membuatku ingin segera pergi secepat mungkin.




Keadaan sudah sangat ramai di rumah sejak 3 hari lalu. Banyak rentetan acara yang terjadi. Tapi sejak kemarin lah puncak acara dengan adanya siraman dan malam midodareni. 




Soal kerjaan aku baru cuti kemarin. Karena banyaknya pekerjaan dan tanggung jawab sebagai pemimpin membuatku lebih tidak dapat berpaling dari pekerjaan dengan mudah. Tapi untungnya pekerjaanku dengan Simon sudah selesai seminggu yang lalu. Dan aku rasanya tidak akan mengambil pekerjaan selama beberapa waktu. Apa aku berlibur saja ya? Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Kira-kita ke kota mana aku akan menghilang? 




"Kak"




Sebuah panggilan dan tangan menyentuhku dan membuyarkan pikiranku tentang liburan.



Aku menoleh pada asal suara. 




"Ada apa?"



"Kakak ganteng banget hari ini."



"Ck" 




Kata-kata yang makin membuatku muak. Aku tidak berdandan selayaknya. Dan saat memakai beskap seperti ini kata gagah lebih dipakai daripada ganteng. Lagian siapa yang akan bilang aku jelek. Bahkan perempuan bule sekalipun bilang aku tampan saat aku sedang berantakan dengan brewok tipis sekalipun. Aku tidak melebih-lebihkan ketampananku. 



"Serius kak. Kakak ganteng banget pakai pakaian ini."



"Terima kasih."



"Kakak cuti sampai kapan?"



"Cuma kemarin."



"Senin sudah masuk dong?"



"Iya lah. Yang nikah bukan kakak, Gin. Ngapain kakak cuti panjang. Lagian kakak disana pegawai jadi gak bisa cuti sembarangan saat masa training."



"Owh. Gitu. Padahal Gina pengen ajak kakak liburan. Soalnya Gina lagi masa libur."



"Kakak sibuk banget 2 sampai 3 tahun ini. Setelah itu kakak mungkin bakal ke US buat ambil kerjaan di sana sama teman kakak."



"Kakak kenapa ke US? Kakak gak menikah?"



"Umur kakak berapa Gin? Masih 25 tahun. Dua Tiga tahun lagi masih 27 28. Yang artinya kakak harus kerja keras sebelum melamar orang yang kakak suka."



"Tapi, kalau.."



"Gin, konsen sama acara aja deh. Kamu tau gak, kakak capek seharian ini. Jangan bikin batas kesabaran kakak hilang."


__ADS_1



Dia akhirnya diam. Sebuah pertunjukan tari dan beberapa hal lainnya telah selesai yang termasuk sambutan. Kini adalah waktunya untuk bersalaman sambil diiringi alunan musik. Tamu yang hadir cukup banyak. Karena undangan yang disebar juga banyak. Dari kedua mempelai menyebarkan undangan 500 undangan, sedang untuk mama papa dan besan juga menyebarkan 500 undangan untuk masing-masing. Makanan yang tersaji cukup banyak. Dan untuk memotong waktu antrian dan memperpendek waktu agar tidak kemalaman kami menyediakan 2 booth untuk makanan-makanan booth dan 3 sisi untuk buffet. 




Waktu berjalan cukup lama. Rasanya badanku sudah remuk. Untungnya Mama dan Papa juga membuka kamar di hotel bintang tiga terdekat dari sini. Sehingga nanti malam aku bisa istirahat dengan tenang. Untukku sendiri aku memesan kamar yang lumayan besar dan dua hari kedepan aku akan tinggal di hotel saja agar lebih santai.




Sedangkan kakak akan berangkat ke Berau Minggu siang dan beristirahat sementara selama semalam sebelum hari Senin melakukan perjalanan ke Derawan.




Gina memberikan pertanyaan sesekali. Aku menjawab dengan malas namun demi kesopanan aku tetap melayaninya. Beberapa meter dari tempatku berdiri aku melihat seseorang. Dia terlihat cantik dengan atasan blouse putih dan bawahan batik, riasan yang cukup tidak berlebihan tapi kesan cantik keluar tanpa permisi, tidak lupa high heels yang mempercantik dan menunjang penampilannya. Aku tersenyum pada kakaknya. Aku tidak tahu mengapa dia bersama kakaknya bukan pacarnya. Namun aku beruntung sekali karena tidak perlu melihat kemesraan dia dan pacarnya.




"Bang"



"Hei Radit. Wah, gagah ya pakai beskap. Kalau gagah gini sudah bisa cepet nikah nih."



"Nungguin abang nikah dulu aja sama pacar abang, baru Radit. Masak saya melangkahi abang."



"Wkwkwk. Abang kan laki-laki masak keburu-buru nikah."



"Tapi pacar abang kan perempuan masak gak di nikah-nikahin."



"Hahaha, bisa aja."



"Halo Na. Malam ini kelihatan cantik banget kamu."




"Jadi adik gue cantiknya malam ini doang?"



"Yaelah bang, cantiknya tiap hari bangetnya jarang-jarang. Udah Na, jangan ngambek. Ke Kak Anjani dulu terus makan ya bang. Nanti Radit temenin."




Mereka pergi menuju panggung pelaminan. Saat Ina tersenyum dia terlihat sangat cantik. Kalau setiap hari dia tampil dengan riasan natural agar cocok untuk bekerja di lapangan dan ruangan kali ini dia benar-benar totalitas berdandan.




"Kak"



Suara Gina membangunkanku dari lamunan lagi.



"Apa Gin?"



"Itu tadi siapa? Kok kakak mujinya gitu banget. Gina aja yang udah dandan dan cantik dari tadi kakak belum puji."




Aku melihat Gina. Ia dia memang terlihat cantik. Tapi mungkin karena staf MUA nya yang jago mengoleskan riasan.




"Ia kamu cantik. Kakak pergi dulu nemenin teman kakak ya. Soalnya kakak yang undang mereka."


__ADS_1



Aku pergi meninggalkan Gina yang terlihat sedikit kesal. Tapi aku mana peduli. 



Aku menunggu hingga Bang Ardan dan Ina selesai bersalaman. Karena antrian cukup panjang. Meskipun tidak sepanjang saat awal lalu. Setelah melihat mereka bersalaman dan sedang menuruni tangga aku menghampiri mereka dan mengajak mereka ke booth makanan. Karena ada dua sisi membuat antrian tidak panjang, apalagi sudah sedikit malam. Sehingga lebih sedikit orang yang antri. Makanan masih cukup banyak. Sehingga masih cukup hingga tamu terakhir nanti. Aku menemani mereka mencoba ada batagor, bakso, kebab, kambing guling, dan beberapa makanan lain. Sedangkan di meja buffet seperti biasa, nasi putih, nasi goreng, ayam kecap, ikan asam manis, fuyunghai dan capcay ditata di samping kanan kiri di tengah-tengah kumpulan booth. 



Kami mencoba makanan sambil ngobrol. Kebanyakan aku ngobrol dengan Bang Ardan. Karena selama ini saat mengantar Ina kami tidak ada waktu mengobrol panjang. Kebanyakan pekerjaan yang bicarakan. Aku tidak bosan melirik dan melihat Ina. Dia membuatku tidak bisa berpaling. Setelah mencoba makanan sampai puas. Akhirnya mereka pulang karena rencananya mereka akan kencan. Kalau itu Ina dan pacarnya aku akan sangat cemburu. Tapi karena itu Bang Ardan aku menyesalkan tidak bisa ikut.




"Abang hati-hati ya. Terima kasih sudah datang ya Ina, Bang Ardan."



"Terima kasih buat penyambutannya dan makanannya. Makanannya enak. Besok-besok kasih tau kakak dimana pesannya biar nanti pas Ina nikah kami bisa pesan."



"Waktu Ina nikah biar aku aja yang pesan, kan Ina nikah sama Radit bang."



Kami tertawa, hanya Ina yang tersipu. 



"Hahaha, langkahi dulu mayat Pacar Ina kalau mau sama Ina. Hahaha."



"Kak Ardan!" Protes Ina sambil memukul Bang Ardan.



"Hahaha, maaf Na. Becanda kok. Ya sudah Dit, abang sama Ina balik dulu. Makasih ya."




Setelah berpamitan mereka akhirnya meninggalkan venue. 



Meskipun sedih harus berpisah tapi aku cukup senang dengan melihat Ina. Setelah itu aku menemui Gina lagi dan menyambut tamu yang semakin sedikit. Dan pukul 9 malam akhirnya Tamu sudah tinggal teman dan keluarga terdekat. Kak Anjani dan Bang Wibi juga sudah makan dengan tenang.  




Setelah selesai acara aku berganti pakaian sebelum kami menuju hotel. Saat sampai di hotel nanti aku akan mandi dan mencuci muka. 



Rasanya badanku saat ini remuk semua. Saking banyaknya rangkaian acara dan banyaknya tamu yang datang. 




--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---



Jadi si Radit harus ngelangkahin mayat Revaro nggak guys?




Kasih like dan komen kalau kalian suka.




Oia, aku mungkin akan up Alinda Season Dua yang berjudul "Karir dan Hidup dalam Cintaku"



By. Dhika.P




Sekitar tanggal 1-5 Agustus nanti. Tolong ditunggu ya. Tolong di ramaikan juga. 




See You...

__ADS_1




__ADS_2