
Hari ini aku masih mode di antar Kak Ardan. Selain aku ada PR sehingga harus berangkat pagi, yang namanya nebeng pasti harus ikutin yang di tebengin.
"Makasih Kak"
"Sama-sama. Nanti pulang kalau bisa bareng nanti kakak jemput."
"Ia. Nanti Ina kabarin."
"Salam buat Radit ya"
"Kak Radit itu sekarang atasanku lho."
"Ya gapapa, dia kan tetap mantan pacar adik kakak."
"Haish"
"Bang, antar Ina?" Tiba-tiba kak Radit datang entah dari mana menyapa Kak Ardan.
"Lho sudah datang. Ia nih antar Ina. Tapi abang buru-buru. Duluan ya. Jagain adek abang."
"Oke. Hati-hati bang"
"Oke. Thanks."
Aku menunggu hingga Kak Ardan hilang dari pandangan. Tapi ada yang aneh kali ini. Setelah ikut menunggu Kak Ardan pergi, kak Radit langsung masuk tanpa menyapaku. Apa sebenarnya yang terjadi.
Kami masuk dan naik tangga hampir bersamaan. Namun aku memilih tetap dibelakang.
"Sintarina, nanti proyek kamu bawa ke ruang meeting ya. Ajak Adi sama Rossa. Aku mau meetingkan soal proyek itu biar kamu lebih cepat menyelesaikannya."
"Oke Kak"
Kak Radit lalu masuk ke ruangan Mas Lingga. Sedangkan aku menyiapkan semua yang diperlukan untuk nanti.
Disini sebenarnya semua dikerjakan sendiri-sendiri. Kami akan membuat meeting bila semua step sudah berjalan. Tapi entah kenapa kali ini berbeda.
***
Setelah semua sudah datang kami melakukan meeting yang diminta Kak Radit. Disana ada Mas Lingga yang mengamati. Disini sepertinya sedang ada yang memperlihatkan bagaimana cara memimpin dan apakah benar keputusannya menyerahkan kepemimpinan sementara ini benar. Nyatanya seperti yang Kak Radit bilang, dia membantuku agar pekerjaan ini secepatnya selesai. Setelah meeting aku segera mengerjakan arahan yang diminta Kak Radit dengan tetap mengikuti alur kreatifitasku. Sedangkan Rossa mengerjakan bagiannya untuk pendesainan Interior sesuai dengan arahan dan pola rancanganku, Mas Adi memperhatikan setiap arahan agar nanti ada kasus yang sama hal ini menjadi pengalaman.
Saat meeting Kak Radit terlihat berbeda, sangat berbeda. Dia benar-benar sudah matang dan berpengalaman. Apakah ini yang namanya berbeda tingkatan dari S1 dan S2. Dimana pengalaman juga berperan.
"Kalau kamu terlalu banyak memikirkan tanpa segera mencoret apa artinya kamu belum mengerti?"
Sebuah pertanyaan terlontar sambil mencubit pipiku.
Aku menoleh ke arah pembuat suara itu sambil makin mencembikan pipi.
"Gak bisa ngomong aja tanpa mencubit pipi apa?"
Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu setelah menjahiliku. Dia memang tidak banyak berubah. Hanya semakin dewasa dan matang, hanya memperlihatkan semakin berkilaunya dia. Sedangkan aku, hanya begini-begini saja.
Aku masih anak manja di depan Kak Ardan, Mama, Papa dan Kak Santi maupun Kak Zaki.
Entahlah, aku yang belum dewasa atau bagaimana.
"Masih melamun aja."
"Ia maaf Kak"
__ADS_1
"Gimana? Apanya yang bingung?"
"Gak bingung kok."
"Mana kakak lihat."
Dia mengamati pekerjaanku. Dia manggut-manggut.
"Bagus. Cuma ini coba maksimalkan lahannya, terus ini mau jadikan taman biasa atau mungkin ada sesuatu lain."
"Emang beda deh sama yang udah S2."
"Gak ada beda. Cuma beda pengalaman aja. Kakak sambil kerja waktu kuliah. Banyak magang. Banyak bantu dosen buat kerjain kerjaannya. Pokoknya nempelin dosen terus."
"Harusnya Ina juga gitu dulu. Tapi Ina terlalu takut buat dibilang cari muka."
"Ya namanya warga +62, dekat orang berpengaruh dikit sudah banyak berasumsi. Udah jam makan siang. Kamu gak makan siang?"
"Pak Radit gak makan siang?"Tanya Kak Rossa dan Mas Aries.
"Kalian makan siang dulu saja. Saya lagi bantu Sintarina buat kerjain proyeknya. Lagian masih pengen mengenang masa lalu. Hahaha."
"Atau mau kita bungkusin?"
"Itu juga boleh. Tolong bungkusin buat kita berlima sama si Adi ya. Kayaknya habis gini dia balik. Ini uangnya."
"Gak perlu pak."
"Gapapa. Ini."
"Waah, baik banget Pak Radit. Terima kasih Pak."
Mereka pun pergi. Aku mengamati tanpa menyela.
"Gapapa. Kak Radit masih sama. Suka traktir."
"Saya kan nanti jadi atasan. Hal kayak gini kan biasa."
"Tapi kakak kan cuma pegawai juga, masih muda, kalau kakak royal, tetap aja bakal nipisin gaji dan bonus kakak."
"Hahaha, perhatian banget sih kamu. Tenang aja. Kakak gak cuma kerja disini kok. Sebagai seorang pekerja kreatif pasti kamu tahu kalau tidak hanya pekerjaan di kantor yang bisa menopang hidup kita."
"Ia Ina ngerti."
Memang sih, pasti bisa ambil kerjaan di luar, tapi bila sepercaya diri itu maka hitungannya dia banyak juga mengerjakan pekerjaan selain disini.
"Kakak sebelumnya kerja dimana?"
"Emm, di perusahaan yang sama kaya gini tapi kerjasama sama teman kuliah kakak dan profesor kakak."
"Owh"
"Kakak masuk ruangan dulu ya. Kalau kakak disini takutnya pengen peluk kamu."
Aku melebarkan mataku mendengar kata-kata kak Radit, namun dia hanya pergi tanpa melihat lagi padaku. 'Apa dia serius'
***
Kami makan berlima, karena yang lainnya sudah pergi makan sendiri, makan dengan klien.
Aku lebih banyak diam dan mendengar Mas Adi, Kak Rossa dan Mas Aries ngobrol dengan Kak Radit, baik soal kerjaan soal hubungan dengan Mas Lingga, bahkan pengalaman-pengalaman masa muda mereka.
Setelah jam makan siang kami pun kembali bekerja. Dan tidak lama Mas Lingga dan Kak Radit pergi.
__ADS_1
Aku menyelesaikan pekerjaanku, kali ini sampai selesai hingga ada telepon masuk.
"Dimana Sin?"
"Di Kantor."
"Belum pulang? Udah jam 7 lho ini."
"Hah?"
Aku melihat jam besar di belakangku. Benar. Sekarang sudah pukul 7 malam. Dan aku sendirian disini.
"Jam berapa kamu pulang?"
"Habis gini mungkin. Kurang dikit lagi selesai. Males bawa kerjaan ke rumah."
"Aku jemput kalau gitu."
"Oke. Aku tunggu Yang"
Telepon itu lalu ditutup. Seperti itu lah kami. Saat Varo ada waktu dia akan telepon lalu mendatangiku, entah di kantor entah dirumah. Tidak ada hari khusus untuk kami.
Setelah mendapat telepon dari Varo aku melanjutkan lagi pekerjaanku. Dan tidak lama Varo datang saat aku masih mengerjakan proyek.
"Belum selesai?"
"Sebentar 10 menit. Kamu duduk dulu."
Tidak sampai 10 menit aku sudah menyelesaikan pekerjaan.
"Sudah selesai" kataku sambil tersenyum pada Varo.
"Kalau kita nikah kira-kira siapa yang akan pulang duluan?"
Kata-kata yang terkesan biasa. Tapi itu pedas sekali. Banyak arti terselip dalam kata-kata itu.
"Yuk pulang."
Varo membimbingku yang sibuk berpikir tentang kata-katanya. Varo mengajakku makan malam di warung nasi uduk favorit kami. Kami mengobrol soal pekerjaan dan hari-hari kami. Setelah makan kami pulang. Varo hanya mampir untuk berpamitan pada mama dan papa. Setelah itu dia pulang. Setelah mandi aku memikirkan lagi apa yang Varo katakan.
'Bila kami menikah, siapa nanti yang pulang duluan?'
Apakah artinya aku harus berhenti bekerja?
Apakah artinya dia tidak suka aku lembur di kantor?
Apa aku harus tanya padanya, maksud kata-kata itu?
Hal ini mungkin simple bagi laki-laki, tapi banyak arti bagi kami kaum hawa.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Sebentar aku belum tarik konflik. Selamat menikmati bila kalian suka.
See you...
__ADS_1