SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #8 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Aku melihatnya di Mall hari ini. Dia tidak berubah. Masih cantik seperti dulu,bahkan saat ini dia terlihat lebih dewasa dan mandiri.




Namun sayang sekali aku tidak bisa menyapanya karena aku sedang bersama orang lain saat ini.



Ia. Aku sedang dalam mode kencan buta dengan keponakan teman mama.



"Kak Radit mau makan apa?"



"Makan apa ya? Fast food itu aja kali ya. Kakak lagi pengen Kebab sih."



"Ya udah itu ada Kebab."



Kami membeli paket nasi dengan ayam boneless, sesuatu yang sangat di sukai sama Ina. Aku tambah kebab mix medium.




"Enak gak kak kuliah di Jogja?"



"Enak"



Gina memang tidak tahu dimana aku kuliah sebenarnya. Karena semua menutupi bahwa aku kuliah di luar negeri. Sebenarnya kuliah di luar negeri itu prestisius banget dan amat sangat bisa di banggakan, tapi aku tidak ingin dianggap berlebihan apalagi oleh orang-orang yang tidak ku kenal. Hanya beberapa orang saja yang tahu aku kuliah di MIT selama beberapa tahun selain keluarga inti, Lingga dan Alfa. Kalau Lingga memang tahu karena kami sama-sama mendaftar kesana sedangkan Alfa karena bertemu di US secara tidak sengaja.




"Kakak kuliah dimana sih?"



"Di UGM"



"Teman Gina ada lho yang kuliah disana."



"Oya?"



"Iya. Dulu Gina pengen banget kuliah disana tapi mama ingetin Gina kalau Gina gak bisa kalau gak ada mama."



"Maksudnya?"



"Ya Gina sih kata Tante anaknya manja. Menurut kakak gimana?"



"Kakak gak tahu sih, kakak kan baru kenal sama kamu. Umur kamu berapa sih?"



"22. Udah tua ya?"



"Masih muda kok. Berarti ini kamu lagi ambil skripsi?



"Semester depan. Gina mundur kayaknya lulusnya."



"Gapapa. Semoga cepat lulus ya."



"Ia. Biar Gina bisa cepat nikah."



"Ia."



"Kakak suka cewek yang gimana?"



"Yang gimana ya? Asal cocok aja kayaknya."



"Cocok yang kayak gimana?"



"Pemikirannya dewasa. Mandiri. Baik, Sabar. Wife material lah pokoknya. Soalnya udah waktunya kakak cari cewek buat dinikahin kan. Tapi kakak juga belum kepikiran sih kapan nikahnya."

__ADS_1



"Berarti harus bisa urus rumah kayak masak, nyuci gitu?"



"Gak juga sih Gin. Kan itu bisa dibantu asisten. Wife material itu panjang kamu mending tanya mama kamu deh, apa sih wife material itu. Kakak gak bisa jelasin banget soalnya."




Terus terang aku tidak merasa cocok dengan Gina. Karena Gina terlihat masih anak kecil sekali. Tapi demi menghargai Tante Widya aku mau saja bertemu dengan Gina.



Regina Ayu Roselina. Seorang gadis yang sedang kuliah Manajemen di salah satu universitas swasta di daerah Palmerah Jakarta ini merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha importir produk dari China, Jepang dan Korea. Juga memiliki beberapa usaha rumah makan dan salon yang dikelola oleh mama Gina. Bisa dibilang keluarga yang berada lah dibanding keluargaku yang hanya Papa sebagai tulang punggung keluarga. Saat ini Papa hanya memiliki perusahaan arsitektur kecil yang memiliki kontraktor sendiri juga jadi setiap pengguna jasa perusahaan papa bisa langsung dieksekusi juga untuk pembangunannya. Karena itu aku memiliki mimpi menjadi seorang arsitek seperti papa. Dan papa sangat berharap aku bisa melanjutkan perusahaannya nanti bila aku sudah siap dan memiliki pengalaman.



Sebenarnya aku sudah memiliki banyak pengalaman sejak kuliah, hanya saja aku masih membutuhkan waktu bila harus jadi pemimpin. Karena menjadi pemimpin itu tidak mudah.




"Kakak punya mantan berapa?"



"Hemm?"



"Ia kakak gak salah denger, kak Radit punya mantan berapa?"



"Berapa ya? Tiga kalau gak salah."



"Dikit ya. Berarti kak Radit tipe yang setia. Terus yang terakhir kapan pacarannya?"



"Em, kalau gak salah lulus SMA."



"Pasti ceweknya gak mau diajak LDR. Sekarang kalau tahu Kak Radit sudah lulus S2 pasti nyesel."



"Nggak sih. Dia bahkan gak tau kakak mau kuliah dimana. Soalnya kakak belum kasih tahu dia kalau kakak apply beasiswa di UGM."



"Oooh gitu. Kakak belum move on dari dia?"




Aku mengelak dari Gina. Aku tidak terlalu ingin dia tahu apa yang aku rasakan tapi saat dia menuding Ina bahwa Ina tidak mau LDR aku merasa harus meluruskan.



"Owh, gitu. By the way, kakak gak pengen tanya apa-apa ke Gina?"



"Emm, tanya apa ya? Kakak bingung udah lama gak jalan sama cewek. Kamu aja yang cerita."



"Gina pernah pacaran beberapa kali. Lebih banyak dari kakak. Terakhir kali Gina pacaran itu 1,5 bulan yang lalu. Aku gak cocok sama dia. Dia itu gak bisa ada buat Gina kak. Masak Gina sering dibiarkan pergi sendiri. Terus dia itu kalau ketemu Gina juga jarang paling banyak seminggu sekali. Emang kerja itu harus kaya gitu?"



Deg..



Agak sadis sih ni si Gina. Apakabar kalau kudu sama dia. Kerja disuruh ngapel mulu. Jadi Arsitek aja malah bakal lupa makan kalau gak diingetin lupa tidur kalau lagi sibuk ngedesain syukur-syukur bisa seminggu sekali ketemu. Haish, ada apa ini Tuhan.



"Kak Radit"



"Eh apa?"



"Ih kak Radit gak dengerin Gina cerita."



"Emm, ya kakak gak tau sih, kalau kakak sih bisa ketemu seminggu sekali udah syukur sih, soalnya kalau gak diseret makan aja kadang lupa makan. Tidur kalau udah bener-bener gak bisa melek baru tidur. Jadi ya kakak bisa pahami kalau kerja itu bener-bener sehectic itu."



"Punya pacar kayak gak punya pacar dong?"



"Ya mungkin Gina bisa pacaran sama teman sekelas Gina aja biar bisa ketemu tiap hari, berangkat pulang bareng, terus bisa jalan-jalan pas kuliah selesai."



"Tapi temen sekelas Gina itu childish banget kak."


__ADS_1


Haduuuh, anak ini, kayak dia enggak.



"Ya gimana dong. Kakak gak punya saran. Eh Gin, pulang yuk. Kakak kudu conference sama temen kakak di US nih. Mau ngobrol soal desain. Penting banget soalnya."



"Jalan sama Gina gak penting?"



"Gak bisa dibandingkan, soalnya ini kerjaan. Kalau sekarang ya lebih penting kerjaan. Yuk."




Aku lalu menyeret Gina pulang. Terus terang sifat Gina yang seperti anak kecil tidak membuatku nyaman.



Secepat mungkin aku mengendarai mobil yang kebetulan tadi aku valet. Aku males banget buat parkir di Mall saat weekend. Karena biasanya sangat ramai. Untungnya Tuhan membantuku, jalanan lancar sehingga cepat sampai rumah Gina. Dan setelah 45 menit aku juga sampai ke rumahku.




Saat aku masuk aku sudah disambut oleh Papa Mama di ruang tamu.



"Gimana Gina Kal?"



"Bentar, Kalea bersih-bersih badan dulu."



Aku membersihkan kaki tangan dan muka di kamar mandi lantai bawah, setelah itu kembali ke ruang tamu. Begitulah kebiasaan di rumahku. Saat pulang dari manapun selalu cuci tangan,kaki dan muka dulu. Kalau kata orang jawa biar gak bawa setan masuk rumah. Hahaha



"Gimana Gina?"



"Kayak anak kecil Ma. Kalea gak mau akh, kalau mama maksa jodohin Kalea sama dia. Gina itu pengennya pacaran sama orang yang setiap saat sama dia. Sedangkan mama tahu sendiri, jadi arsitek itu kayak gimana. Kerja lembur, kadang di rumah masih kerja, bahkan keluar kota. Kalea gak bisa kalau harus ketemu dia minimal seminggu 3 kali. Ya kali Kalea pengangguran bisa nemeni dia mulu."



"Coba kasih dia pengertian Kal. Kata tante Widya, Gina orangnya baik kok. Mama pernah ketemu dia menurut mama Gina anak yang sopan."



"Ya kali ma, cari istri baik doang, Kalea kan juga butuh yang bisa ngimbangi Kalea ma. Emang mama mau kalau Kalea dibilang nelantarin istri soalnya jarang nemenin, kerja mulu."



"Kalea bener ma, mama kan juga tahu kita kerjanya gimana. Mama yang lebih ngerti gimana jadi istri papa yang kerjanya gini. Yang ada mereka bakal berantem terus soal waktu ketemu yang kurang kuantitasnya. Padahal yang dibutuhkan dalam pernikahan kan kualitas."



"Tapi mama gimana nolaknya ke Widya Pa?"



"Ya bilang aja, Mama gak tau gimana perasaan Kalea sebenarnya, biar Kalea sama Gina yang menentukan mereka jodoh apa tidak. Anak jaman sekarang gak bisa dipaksa buat dijodohkan karena salah-salah malah kita sebagai orang tua yang dimusuhi."



"Gitu Kal?" Tanya mama padaku



"Ia. Mama gitu aja kalau gak bisa nolak Tante Widya. Nanti biar Kalea yang pikirin gimana ngomong ke Gina. Pokoknya Kalea gak bisa sama si Gina. Anaknya kurang mandiri terus manja lagi. Ya udah, Kalea ada conference sama klien di Michigan. Kalea naik dulu. Malam Pa, Ma."




Huft akhirnya selesai juga urusan Gina.



Sekarang giliran bekerja. Gini Gina mana bisa ngerti soal kerjaan yang gak tau waktu gini. Yang ada protes mulu.




--- --- --- --- --- --- --- ---




Like kalau suka cerita ini.




Cerita ini gak tahu kapan bisa up, yang pasti setelah di edit baru aku posting, gak usah maksa buat update tiap hari kaya Alinda. Soalnya bikin 2 POV itu lumayan susah. Terus aku belum juga kelar rumusin Konfliknya yang bagus tapi aku bakal nebar Clue jadi perhatikan baik baik.




SEKALI LAGI CERITA INI AKU UP SUKA SUKA AKU  😈😈😈



__ADS_1



__ADS_2