SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #40 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Hari ini padat sekali. Selain harus berlarian mengejar waktu dari Bandara ke kantor untuk meeting, ternyata ada sedikit ganjalan tentang klien yang minta kontraktor dari pilihannya sendiri. Sebenarnya tidak ada masalah, tapi sedikit ribet jika pihak kontraktor tidak mau mengikuti arahan kami sebagai konsultan bangunannya.


Makin sibuklah aku. Dan saat pulang aku bertemu lagi dengan Ina. Dia sepertinya pulang lebih cepat sesuai jadwal karena mungkin lelah setelah liburan.


Namun sesuatu yang mendatangiku membuat moodku menjadi amat sangat buruk.


"Kak Arka, Tari" kalian pasti bisa menebak siapa yang datang.


"Hai Rik" balas sapa Ina. "Mau ketemu kak Radit kan?"


"Iya"


"Ya udah aku duluan ya."


"Oke." Jawab Rika langsung. Sebenarnya aku ingin sekali mencegah Ina. Tapi aku harus menyelesaikan dulu masalahku dengan Rika.


"Hati-hati ya Sin."


"Oke Kak. Bye"


"Bye" balas Rika.


Lalu aku menoleh pada Rika.


"Kok kakak kemarin gak pulang?"


"Kok tahu? Mama ya?"


"Ia, beliau khawatir."


"Buat apa? Kayaknya aku udah bilang pergi kemana dan buat apa."


"Tapi tetap saja beliau khawatir. Namanya juga orang tua kak."


"Oh, ya sudah biar nanti aku jelasin. Btw, ngapain kesini? Kok tau tempat kantorku?"


"Dikasih tau tante sih. Suruh cek, kakak sudah di kantor enggak."


"Owh, udah lihat kan. Ya sudah bilang aja ke mama."


"Kok kakak gitu? Kakak marah ya sama Rika? Jangan marah sama Tante, kan tante cuma dukung Rika supaya dekat sama kakak."


"Hemmm, kamu pulang deh, kakak capek. Pagi kudu kejar-kejaran sama waktu meeting."

__ADS_1


"Yah, padahal Rika pengen di antar Kak Arka. Atau Rika main ke rumah kakak aja ya? Tante kapan hari bilang supaya Rika ke rumah."


"Kalau ngantar kayaknya gak bisa. Soalnya aku capek banget."


"Kalau gitu Rika ikut ke rumah kakak."


"Ngapain?"


"Mau ketemu Tante"


Aku melihatnya lagi, masih belum percaya apa yang dipikirkan Rika. Sebenarnya apa yang mama dan Rika rencanakan. 


Aku lalu ke arah mobil dan Rika mengikutiku.


"Beli martabak telur dulu Kak, buat oleh-oleh tante."


"Kakak capek banget Rik. Tolong kamu ngertiin."


Aku melaju kencang menuju rumah. Beberapa kali Rika bertanya namun aku menjawab seadanya lalu aku diam. 


Setelah sampai rumah, aku segera masuk, ada Papa, mama, kakak serta kakak iparku disana. Rika mengikutiku.


"Baru pulang banget Kal?" Tanya Kak Anjani


"Kok Rika nya di tinggal ke kamar Kal?" Tanya mama.


"Rika pengen ketemu mama, sedangkan Kalea capek banget. Selain dari luar kota Kalea juga langsung kerja ketemu klien dan sebagainya. Jadi permisi."


Aku langsung menuju kamar. Aku sempat mendengar perkataan Rika agar membiarkan aku ke kamar karena sudah dari awal aku bilang aku  lelah. Setelah masuk kamar aku segera mengunci pintu dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Badan rasanya sangat lelah. Belum lagi harus melihat Rika di rumah. Entah apa yang sudah dipikirkan oleh mama sehingga semua orang diberitahu tentang letak kantorku. Kemarin Gina sekarang Rika. 


Rika sepertinya sudah bertekad mendekatiku melalui mama.


***


Setelah mandi aku segera menuju kasur setelah mematikan lampu dan bergegas tidur. Tidur adalah kegiatan yang mungkin tidak menyelesaikan masalah namun bisa menenangkan pikiran sehingga aku bisa berpikir lebih logic.


Tidur terasa berlangsung cepat, tidak terasa pagi telah datang.


Aku bangun pukul 5.30 pagi. Setelah bangun aku bersiap lalu turun. Sudah ada Mama, Kak Anjani, Kakak Ipar dan Papa di meja makan.


Mereka sudah makan duluan jadi aku langsung makan juga.


"Baru banget bangun Kal?" Tanya papa.

__ADS_1


"Iya Pa. Kalea capek banget. Kurang tidur juga. Mungkin kayak gini jadi pimpinan di Perusahaan. Apalagi bukan punya sendiri, jadi makin harus maksimal supaya tidak mengecewakan atasan." Jawabku


"Papa senang kamu mulai dari ikut perusahaan orang. Ya meskipun papa tahu kamu dulu kerja juga disana, tapi pengalaman kerja di Indonesia bakal bikin kamu menyesuaikan gimana pola kerja disini."


"Iya. Tapi pekerja di tempat Lingga cukup bagus. Mereka cukup menghargai deadline sampai mereka juga menghargai detail permintaan dan yang terbaik buat Klien. Jadi gak heran meskipun kecil mereka memiliki klien-klien tetap bahkan baru yang lumayan banyak."


"Jadi paling nggak, nanti kalau kamu buat Perusahaan sendiri kamu sudah tahu harus bagaimana."


"Iya Pa."


"Kalian pagi-pagi di meja makan ngobrolnya kerjaan terus." Protes mama.


"Memang mama mau obrolan yang gimana? Papa kan lumayan jarang ngobrol sama Kalea. Jadi wajar dong tanya anak gimana kerja di Indonesia."


"Iya,iya. Mama tahu apa sih." Jawab mama dengan muka sedih.


"Emang mama mau ngobrol apa?" Tanya papa lagi.


"Kamu kok tega sih Kal, ajak anak orang kesini tapi di tinggal tidur?" Tanya mama padaku.


Sudah kuduga. Mama pasti  akan menanyakan masalah Rika cepat atau lambat. Jadi sengaja banget mama menyela obrolanku dengan Papa.


"Kalea sudah bilang ke Rika sebelum kesini. Kalau Kalea capek banget habis dari luar kota. Jadi waktu dia minta antar Kalea pulang, Kalea tolak. Lalu dia sendiri yang pengen kesini. Pengen ketemu mama. Lagian Kalea juga gak ngira sih, mama ngulang lagi masalah kasih tahu orang-orang Kalea kerja dimana. Jadi biar semua pada nyamperin Kal ke kantor semua."


"Mama gak maksud gitu Kal. Kamu kan gak pulang-pulang, mama khawatir."


"Kalea kan udah besar. Sudah bilang juga lagi dimana Kalea. Tapi mama bilang ke Rika, aku ada dimana. Mama tahu gak, Rika minta bareng balik ke Jakarta. Mama ngerti gak kalau Kalea disana kerja. Masak diminta ketemu lah, minta bareng lah. Gak habis pikir sih. Atau Kalea balik aja ke US. Kalea bisa kok hidup sendiri lagi. Nanti kalau udah dapat calon mantu buat maka, Kalea bisa balik ke Indonesia buat nikah, lalu  balik dan menetap di US. Green Card Kalea masih bisa diurus kok." Jawabku sedikit emosi. Entah kenapa aku akhir-akhir ini sedikit tidak sabaran dengan kelakuan Mama. Apa yang membuat mamaku seperti ini.


"Kok kamu ngomong kayak gitu ke Mama sih Kal?"


"Sudah sudah. Kalian jangan berdebat. Kalea kamu jangan emosi sama mama. Mama juga jangan campuri urusan Kalea lagi. Kalau jodoh sama Rika, Kalea pasti bakal nikah sama dia. Seperti yang mama pengen. Lagian Kalea juga masih muda. Laki-laki harus mapan supaya bisa bertanggung jawab ke istri dan anaknya lagi." Tengah papa.


"Kalea berangkat. Maaf sudah bikin gara-gara pagi-pagi."


Aku segera pergi setelah berkata seperti itu. Ini untuk terakhir kalinya aku mentolerir apa yang sudah dilakukan mama. Lain kali aku akan memilih membeli apartemen saja dan tinggal disana sendiri kalau mama masih meributkan soal dengan siapa aku. Apalagi mengaturku dengan Rika. Orang yang tidak sungkan membuat aku dan Ina putus. 


--- --- --- --- --- --- --- --- ---


Maaf ya guys. Authornya lagi bikin bisnis di luar kota jadi makin gak ada waktu untuk edit dan lanjut nulis. Semampunya ya untuk update. 


Thanks. 


See You…

__ADS_1


__ADS_2