
"Kamu kelihatannya dekat sama atasan kamu Sin"
"Mas Radit?"
"Iya"
"Dia kakak kelasku waktu SMA, jadi memang kami sudah kenal seperti mas Lingga. Mereka menolak untuk dipanggil Pak selain dalam meeting dan saat dengan klien. Kami sama-sama memiliki batas meskipun memanggil mereka dengan santai."
"Owh"
"Kenapa tiba-tiba tanya?"
"Aku lihat gerak gerik kamu sedikit tegang saat lihat pintu mungkin kamu lihat dia tadi. Dan kamu kelihatan canggung, bahkan tidak mengajak untuk duduk bersama."
"Kita sedang kencan, lagian aku juga lupa. Shock sih iya, gak nyangka ketemu padahal dia tadi pulang lebih awal dariku."
"Hemm, oiya, aku akan keluar kota Hari Rabu minggu ini ke Makasar selama 10 harian."
"Kok baru bilang?"
"Banyak hal yang aku urusin Sin, lagian pertanyaannya si Lano juga salah satu yang bikin aku lupa kalau aku belum bilang kamu soal perjalanan ini."
"Hemm, it's ok."
"Kenapa muka kamu gitu?"
"Nope"
"Sudah tahu jawaban dari pertanyaan aku?"
"Belum aku putusin"
"Oke, kamu pikirin aja sampai aku balik nanti."
"Kamu cinta gak sama aku?"
"Cinta dong, kalau nggak kita pasti gak pacaran."
"Kenapa pakai syarat gitu?"
"Itu bukan syarat, itu juga jadi bukti keyakinan kita pada pasangan kita. Kamu yakin aku bisa jadi suami dan kepala rumah tangga kita. Dan aku yakin, kamu akan kadi istri dan ibu yang baik buat anak-anak kita. It's win win solution for us Sin. Menikah untuk sekali seumur hidup, kalau kamu tidak ingin menyesal aku juga tidak ingin."
"If I have a decision, what happen with us?"
"If you want, we can get married soon. But if you need a time, I can give you a year or two years. It's enough for you?"
"Ok. I'll try to make a decision as soon as possible."
"We must go home right now. It's to late for go home."
"Ok"
Kami akhirnya meninggalkan restoran karena merasa sudah terlalu malam. Biasanya Kak Ardan akan menunggu hingga aku pulang. Iya, memang Kak Ardan sudab seperti papa ku, yang bila aku pulang telat dia akan menunggu. Kak Ardan akan jadi ayah yang protektif ke anaknya nanti kalau sudah menikah dan berkeluarga. Poor you my nephew, you have over protective father, I hope my nephew is not a girl.
Mobil Varo melaju dengan kecepatan standart, bahkan dalam kecepatan ini hanya perlu lima belas menit untuk sampai rumah.
__ADS_1
Dan benar saja, Kak Ardan lagi di depan pagar sambil makan nasi goreng dan ngobrol dengan tukang nasi goreng.
Dia sebenarnya bisa bawa piring rumah dan makan di dalam, tapi karena aku belum pulang, dia akan bertingkah seolah membuat tulang nasi goreng menunggu dia makan itu hal yang lumrah.
"Kak" Sapa Varo ketika kami turun dari mobil.
"Kalian, jemput Ina Var?"
"Ia, sambil mampir Restoran cepat saji tadi sama pamit mau ke Makasar 10 hari."
"Ngapain?"
"Biasa, tugas."
"Nasi goreng dulu Var?"
"Nggak kak udah malam. Makasih tawarannya."
"Owh, ok. Hati-hati pulangnya ya."
"Ia. Aku balik dulu ya Yang."
"Ia hati-hati. Nanti kabarin ya kalau udah sampai."
"Ia."
"Yuk Kak."
"Ia"
"Kakak ngapain gangguin kang nasgor?"
"Kakak gak gangguin ya, kakak beli."
"Beli sepiring aja bikin beliau nunggu sejam. Cepetan makannya, kasihan abangnya."
"Hehe, gapapa mbak."
"Ina masuk duluan ya kak, mari bang."
"Ia mbak"
Aku masuk rumah dan segera ke kamar. Mandi dengan cepat, lalu tidak lama ada ketukan.
"Cie, pacarannya kayak anak SMP di Mekdi"
"Kak Ardan mah gitu"
"Kakak nungguin tahu, kok gak ngabarin mama?"
"Iya, Ina lupa. Tadi mama nanyain Ina emang?"
"Enggak, cuma kakak yang nyariin kamu. Kamu kemana kok kakak pulang jam 9 kamu belum balik juga."
"Emang kakak dari mana?"
"Dari ngantar mbakmu cari sepatu buat acara apa gitu. Lupa."
__ADS_1
"Haish, biasa. Gak beliin juga buat Ina?"
"Beliin. Tuh, di pojokan."
Aku segera mencari oleh-oleh yang dikatakan Kak Ardan.
"Kok sandal jepit?"
"Lha terus?"
"Katanya mbak Lita beli sepatu?"
"Kan mbakmu, bukan kakak. Kakak juga cuma beli sandal."
"Terus beli sandal buat apa?"
"Buat ke pantai."
"Pantai? Kapan?"
"Kapan ya? Besok weekend gimana? Kita ke Bali sebentar."
"Serius?"
"Iya"
"Kita berdua?"
"Iyalah, mang mau jadi nyamuk? Kalau mau ya kakak ajak mbakmu."
"Ya jangan"
"Ya sudah"
"Makasih Kak"
"Sama-sama"
Aku memeluk kak Ardan. Dia memang protektif tapi itu karena sayang, dan sayangnya juga dia buktikan kayak gini. Tiba-tiba ngerencanain liburan meskipun cuma sebentar.
Setelah Kak Ardan keluar aku segera rebahan. Dan mengecek ponsel, ternyata ada pesan dari Varo kalau dia sudah sampai rumah. Aku pun juga bercerita kalau weekend akan diajak Kak Ardan ke Bali.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Alinda sudah di Publish hari ini, tapi aku juga belum bisa search dan lihat bagaimana jadinya. Jadi semoga nanti kalian bisa search.
Tenang, atas rekomendasi seseorang akhirnya aku membuay judul
"ALINDA SEASON TWO : KARIR DAN HIDUP DALAM CINTAKU"
So, nanti kalau kalian bisa langsung tahu thats what you search and wait for a long time.
Klik like kalau suka dan jangan lupa komen juga.
See you.
__ADS_1