SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #35 Sintarina Dewi Safitri


__ADS_3

Aku menangis setelah Kak Radit meninggalkanku. Sungguh hal yang sangat kusesali. Aku memang sangat buruk, aku tidak menganggap hubungan kami penting hingga perlu mengalah pada Rika. Aku tidak memikirkan apakah Kak Radit menyukai Rika atau tidak dulu. Kami bertiga sama-sama terluka.


Sudah selayaknya Kak Radit marah, karena apa yang aku lakukan memang sangat tidak bisa ditolerir. Namun selama ini aku tidak merasa bersalah, hanya memikirkan tidak enak karena sudah tidak jujur, padahal harusnya rasa bersalah lah yang muncul lebih dulu karena menyia-nyiakannya. Itu mengapa bahkan Revaro merasa perlu bertanya, apa yang bisa kuberikan padanya dalam pernikahan. Dia sudah merasa perlu meragukanku apakah aku bisa tulus dan bertahan dalam sebuah pernikahan. Bagaimana bila nanti sebelum pernikahan ada perempuan yang menangis dan mengiba padaku untuk aku menyerahkan Varo? Apakah aku akan memberikan begitu saja seperti aku memberikan Kak Radit. Sungguh aku tidak tahu bahwa apa yang kulakukan dulu sangat buruk.


Ada sebuah tangan yang memegang bahu lalu merengkuhku. Aku melihat ke arah si empunya badan, dan ternyata Kak Ardan.


"Kenapa nangis?"


"Kakak kok disini?"


"Radit yang bilang, dia ninggalin kamu disini sendirian karena dia capek. Tapi aku tidak melihat capek badan pada raut mukanya jadi kuanggap kalian ada perselisihan. Ada apa sebenarnya?"


"Aku udah ngaku kenapa kami putus."


"Lalu?"


"Lalu Kak Radit bertanya dengan kecewa apa dia tidak pantas untuk ditanya apakah dia mau untuk berhubungan dengan Rika, apakah dia tidak cukup berharga daripada Rika untuk dipertahankan."


"Lalu?"


"Dia ninggalin Ina, dan Ina jadi mikir, betapa Ina jahat banget sama Kak Radit dulu, tapi selama ini yang Ina pikirin cuma Ina pengen jujur, bukan rasa bersalah karena tidak menghargai hubungan kami dan perasaan Kak Radit sendiri."


"Jadi?"


"Jadi Ina cuma bisa menyesal karena Ina jahat banget ternyata Kak"


Kak Ardan hanya menepuk-nepuk punggung ku tanpa berbicara apapun. Benar-benar tanpa bicara apapun. Lalu dia bernyanyi, seperti dulu saat kecil, saat aku menangis karena bertengkar dengan siapapun termasuk dirinya. Hanya ada debur ombak, isakku, dan lagu dari Kak Ardan yang menemani dinginnya malam. 


Sebuah kesalahan yang baru aku ketahui, dan hanya bisa kusesali. Sebuah kesalahan yang tidak mampu bisa ku elak lagi. Betapa bodohnya aku dulu. Disaat kami baik-baik saja, aku melepasnya karena tidak enak dengan Rika, yang membuatku tidak hanya kehilangan teman, tapi juga kekasih yang baik. Sejak dulu tidak ada yang mampu bilang Kak Radit tidak baik. Dia selalu baik dari dulu. Baik bersikap padaku, pada keluargaku, pada teman-temannya. Tidak akan ada perempuan manapun yang tidak menyukainya, wajar jika Rika menyukainya, tapi Kak Radit adalah pacarku, kenapa aku melepasnya padahal Kak Radit tidak mencintai Rika. Pikiran itu berputar terus menerus. Hingga saat Kak Ardan mengajakku ke kamar pun aku masih memikirkannya. Aku tidak tahu sampai jam berapa Kak Ardan ada di sampingku, namun saat terbangun, sudah tidak ada Kak Ardan dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. 

__ADS_1


Tidak seperti kemarin pagi-pagi Kak Ardan sudah membangunkanku. Kali ini dia membiarkanku bangun hingga siang. Mungkin Kak Ardan tahu, ini bukan waktu yang pas untuk kami berlibur pagi-pagi.


Kemarin kami setuju untuk pergi ke sebuah Beach Club yang terkenal bersama. Ternyata Kak Ardan sudah melakukan reservasi sebelumnya agar mendapat tempat di samping kolam. Sebenarnya sempat ditolak kata Kak Ardan namun dia memaksa dengan jaminan bahwa meskipun tidak direservasi akan mendapatkan tempat yang kami inginkan hingga akhirnya kami mendapat tempat yang kami inginkan. 


Tapi apa mungkin Kak Radit akan ikut seperti rencana kami kemarin, atau karena pengakuanku, dia merasa tidak perlu mengenalku lagi. Aaarg pusing banget rasanya.


Tok tok tok


Tok tok tok


Rasanya pintu kamarku diketuk. Jadi aku segera menuju pintu dan membukanya sedikit. Dan ternyata Kak Ardan.


"Baru bangun?"


"Iya."


"Mandi dulu terus sarapan. Kita main ke Pantai Pandawa sebentar sebelum ke beach club."


"Jauh juga gapapa. Penerbangan kita jam 10 malam WITA."


"Malam banget Kak. Biar puas. Kamu tinggal tidur aja nanti di pesawat sama mobil."


"Iya. Kak Radit sudah bangun?"


"Sudah. Dia ikut kok. Nanti kamu cari waktu  buat minta maaf. Akui kalau kamu salah."


"Apa dia bakal maafin?"


"Itu bukan urusan kamu, kewajiban kamu minta maaf buat luka yang kamu kasih ke dia."

__ADS_1


"Tapi.."


"Kalau kamu mau minta maaf kalau dimaafkan berarti kamu tidak menyadari kesalahan dan tidak tulus minta maaf."


"Iya. Aku bakal minta maaf."


"Ya sudah. Kamu mandi siap-siap. Sambil Packing, nanti barang Radit bakal dipindah kesini"


"Lho? Ini kamar Kak Radit?"


"Ia. Kamar yang kakak pakai, ya itu kamar kita. Makanya pesan yang twin."


"Ina pikir?"


"Gak usah dipikirin. Pokoknya gitu aja. Kamu beresin semua, nanti waktu mau keluar Radit sama kakak bakal kesini buat naruh barangnya dan bantu kamu bawa barang. Sebagian barang sudah kakak packing. Jadi udah gak ada baju yang bertebaran di gantungan."


"Iya."


"Ya udah kakak balik ya. Belum selesai packing juga."


"He'em."


Jadi ini sebenarnya kamar Kak Radit, dia bukan cancel kamar tapi memberikan kamarnya untukku. Betapa bodohnya aku sudah menyia-nyiakan orang yang baik.


--- --- --- --- ---


Gak tau ini sudah panjang belum. Ia seperti yang kalian tahu, ini sudah masuk konflik. Konflik dimulai disini dan akan diteruskan dengan sesuatu nanti di kota asal mereka.


Aku harap kalian suka.

__ADS_1


Klik Like kalau kalian suka dan kasih komentar kalian.


See you...


__ADS_2