
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat aku sampai di rumah. Setelah memasukkan mobil aku langsung masuk. Rencananya aku akan langsung tidur karena beberapa hari ini aku tidak bisa tidur dengan tenang demi menyelesaikan semua proyek yang aku tangani. Bahkan karena harus menggantikan aku juga harus mempelajari semua proyek yang sedang dilakukan olehnya dan menemui klien-klien yang berasal dari perusahaan besar yang sudah berpartner dengan Lingga.
Karena harus duduk di posisi tertinggi mau tidak mau aku harus menjadi diriku sendiri. Berdiri sebagai lulusan MIT yang sudah berpengalaman sehingga perusahaan tidak dipandang remeh ketika ditinggal oleh Lingga.
Beberapa klien bahkan mulai mencari pendapatku untuk beberapa proyek mereka. Namun semua pasti akan kupastikan harus berada ditangan perusahaan sebelum ide ide itu ku berikan.
"Baru pulang Kal?"
Ada Papa, Mama dan Kak Anjani yang sedang berkumpul di Ruang Tamu.
Saat keluarga lain berkumpul di ruang keluarga, keluargaku lebih senang berkumpul di ruang tamu. Karena selain kami bukan penikmat tayangan televisi, kami juga menjadi lebih dekat karena memang duduk dan sambil ngobrol.
"Ia Pa, bersih-bersih dulu ya."
"Ia."
Aku pamit membersihkan badan seperti biasanya setelah aku mencium tangan mereka.
Setelah mandi kilat dan ganti baju aku turun lagi untuk ikut ngobrol. Mereka sedang membicarakan pernikahan Kak Anjani yang kurang 1 Bulan lagi. Foto Prewedding akan dilakukan besok di Kota Tua, Monas dan entahlah lokasi mana lagi. Hanya kakakku dan fotografernya yang tahu.
"Kok pulang malam Kal?" Tanya papa.
"Tadi pergi acara sama orang kantor." Jawabku.
"Lho gak pergi sama Gina?" Tanya mama.
"Siapa yang bilang Kalea bakal pergi dengan Gina? Lagian Kalea gak ada waktu main sama dedek-dedek gemes yang manja yang kemana-mana minta ditemani padahal gak ada hubungan apa-apa."
"Lho emang Gina kenapa Kal?" Sekarang giliran kak Anjani yang ingin tahu.
"Gina minta antar ke nikahan temennya, padahal Kalea udah bilang Kalea kerja dan gak tahu bisa antar nggak. Kalea juga bilang nanti dikabarin kalau bisa. Dia sudah Kalea minta buat cari teman yang lain buat antar dia."
"Terus?"
"Ada orang yang kasih tahu dimana kantor Kalea padahal Kalea lagi sibuk dan lagi ada acara juga di Kantor. Belum lagi maksa buat minta ditemani gara-gara takut. Sok polos banget, ke kantor naik taxi aja berani sendiri, masak ke nikahan temennya yang lebih dekat dari rumahnya ke kantor ku malah gak berani. Belum lagi, malah minta ikut acara kantor. Emang dia siapa?"
"Gak nyangka ponakan Tante Widya agresif memalukan."
"Hust" sela mama pada omongan Kak Anjani.
"Mama yang kasih tahu dimana kantor Kalea ke Gina?" Tanya papa pada mama.
"Ia." Jawab mama pelan.
__ADS_1
"Untuk apa?"
Aku hanya melihat bagaimana mama akan menjelaskan semua ini padaku. Karena tidak ada sepatah katapun dariku bahwa aku setuju untuk lebih dekat dengan Gina.
"Gina bilang sudah janjian sama Kalea, lalu sampai sore belum juga ada kabar dimana kantor Kalea jadi mama kasih tahu nama perusahaan sama daerah tempat kerja Kalea." Jelas mama.
"Bukannya Kalea sudah bilang ke mama kalau Kalea gak suka Gina?" Kali ini aku berusaha bertanya dengan menahan emosi.
"Mama gak tahu kalau kamu gak janjian Kal."
Rasanya aku ingin meledak mendengar pengakuan mama. Mama benar-benar berusaha membantu Gina.
"Apa mama pengen Kalea sama Gina?" Tanyaku lagi pada mama.
"Mama pengen Kalea bahagia, move on dari Ina. Ina sekarang sudah punya pacar Kal. Mama gak mau kamu dibilang merebut pacar orang." Jawab mama.
"Apa Kalea pernah bilang akan merebut Ina dari pacarnya?"
"Tapi, tapi kamu bilang selama janur kuning belum melengkung…"
"Artinya Kalea akan memanfaatkan kesempatan kalau memang ada ma. Bukan merebut. Mama tahu gak, Kalea bukan gak suka Gina karena belum berpaling dari Ina ma. Tapi karena Gina bukan tipe Kalea. Gina manja, sok polos, dia gak bisa sejajar sama Kalea. Kalea sudah berteman dengan orang luar negeri yang sudah mandiri dari kecil, maka setidaknya Kalea tidak mau pasangan Kalea seperti Gina. Apa mama gak enak sama Tante Widya?"
"Asal mama tahu, Gina bilang ke Kalea kalau keluarga sudah menjodohkan kami. Apa mama sudah berniat menjodohkan dan memaksaku terima Gina? Apa mama yakin kalau dengan sopan santun sementara Gina di depan mama membuktikan kalau Gina adalah orang yang tepat buat Kalea? Apa mama justru butuh menantu seperti Gina yang nantinya bakal menemani mama kemanapun? Atau.."
"Mama gak berpikir kayak gitu. Mama memang gak enak sama Tante Widya tapi mama sayang kamu Kal, mama cuma gak mau kamu melajang hanya untuk menunggu Ina."
"Umur Kalea berapa sih ma? 30?35?40? Kalea baru 25. Lihat karir Kalea ma? Kalea lagi berkembang, 3 tahun ini Kalea akan belajar memimpin Perusahaan, Kalea lagi meniti karir. Untuk apa mama mikir soal jodoh Kalea sekarang. Tuhan pasti kasih Kalea jodoh. Entah itu Ina atau bukan. Yang pasti Kalea belum berpikir untuk menikah sekarang. Kalau mama gak enak sama Tante Widya maka Kalea yang bakal nyakitin Gina supaya dia menjauh, dan mama akan semakin merasa gak enak dengan Tante Widya."
Aku lalu pergi ke kamar karena sudah tidak tahan. Makin lama bila diteruskan perbincangan itu akan semakin memanas. Aku tidak ingin kelepasan sehingga makin melukai Mama.
Setelah masuk kamar aku segera mencuci muka. Saat mendengar ketukan pintu.
Ternyata Kak Anjani.
"Masuk kak"
"Makasih ya Kal udah bantu kakak buat preweddingnya."
"Sama-sama"
"Emmm"
__ADS_1
"Kakak mau ngomongin soal mama?"
"Ia"
"Kenapa sama mama?"
"Maafin mama Kal, mama pasti gak bermaksud buat maksa kamu."
"Huft, Kalea gak ngerti Kak. Yang pasti Kalea harus tekanin kalau Kalea gak bisa sama Gina."
"Kakak tau kok, Gina gak pantas sama kamu. Sebenarnya kakak tahu Gina gak sepolos itu. Kakak dulu kan sering nemenin mama arisan dan kadang ketemu Gina. Gina bahkan gak pernah ngobrol sama kakak. Cuma asik ngobrol di telepon. Belum lagi 2 atau 3 kali kakak melihat dia sama laki-laki tapi mereka berbeda dan kakak lihat mereka bergandengan erat bahkan ada yang memeluk pinggang Gina sambil berbelanja. Kakak ngerti kamu pasti juga bisa menilai. Kakak disini cuma mau bilang kakak dukung keputusan kamu untuk gak sama Gina karena kakak pernah tahu gimana Gina bersikap. Tapi Kakak juga minta kamu, supaya maafin mama dan lebih ngertiin mama. Sebentar lagi, kakak bakal ikut suami, jadi gak bisa sering-sering ketemu dan nemenin mama. Jadi kamu harus lebih mengerti dan perhatian sama mama."
"Ia. Kalea bakal coba selalu ngertiin mama kak. Kalea bakal jagain Mama sama Papa semampu Kalea."
"Kakak tahu didikan mama papa pasti selalu kita jaga."
"Ia"
"Ya sudah kamu istirahat kalau gitu. Kakak mau telepon Bang Wibi buat ngobrolin soal Pelaminan sama dekor."
"Kalea bakal kasih hadiah kakak untuk bulan madu."
"Mentahannya aja Kal."
"Jangan ngelunjak Kak. Kado dari Kalea udah cukup ya."
"Yaelah, bercanda Kal. Ya udah makasih ya. Nanti kakak kabarin kapan kakak bakal bulan madu. Biar kamu bisa cepat pesan tiket. Love you adikku yang paling ganteng "
"Kayak loe punya adik lain aja. Ia sama-sama. Dah keluar, Kalea mau tidur."
Setelah kak Anjani keluar aku segera rebahan dan bersiap tidur.
Ina, apa kakak harus merebut kamu dari pacar kamu?
Kasih tahu kakak, Na!
--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Kalau suka Like sama Komen ya. Ceritanya lambat tapi sebisa mungkin saat ada di puncak kalian gak akan nemu flat lagi.
Memang bukan seperti ekspektasi kalian tapi yang pasti saya usahakan saya juga bisa menikmati karya saya ini.
See you...
__ADS_1