
Hari berganti dengan cepat. Aku mendapat titipan undangan dari Kak Anjani melalui Kak Radit.
"Ini undangan pernikahan dari Kak Anjani, Sin"
"Kak Anjani mau menikah?"
"Ia"
"Masih sama Bang Wibi?"
"Ia"
"Mereka langgeng ya Kak?"
"Ia"
Rasanya ada yang aneh, daritadi dia hanya iya iya saja.
"Kakak kenapa?"
"Gapapa. Yaudah undangan udah kakak kasih, kakak mau balik dulu. Kamu pulang naik apa?"
"Taxi mungkin."
"Mau kakak antar?"
"Emm, ngerepotin nggak?"
"Nggak."
"Kalau gitu Ina nebeng pulang ya kak."
"Ia. Kamu siap-siap kakak juga siap-siap."
Aku tidak tahu mengapa aku menerima tawaran dari Kak Radit, tapi yang pasti aku akan ungkapkan rahasia yang pernah aku simpan.
"Sudah siap?"
"Sudah"
"Yuk!"
Kami pun segera menuju mobil Kak Radit. Mobil yang umum namun tetap terlihat sporty untuknya dan menunjang penampilannya.
"Kita makan dulu ya. Aku dari tadi siang udah ngiler pengen fast food."
"Oke kak."
Kami pun pergi ke restoran Fast Food 24 jam terdekat.
Hanya perlu waktu 15 menit untuk sampai ke restoran itu. Setelah parkir kami turun.
Antrian tidak terlalu panjang. Jadi dengan cepat kami sudah ada di depan kasir, tapi siapa yang menyangka seseorang menyapa kami.
"Tari, Kak Arka"
"Rika" panggil kami bersamaan.
"Lama gak ketemu Kak, Tar. Gimana kabar kalian?"
"Baik" jawab Kak Radit
"Aku juga baik." Jawabku
"Duduk bareng yuk. Kangen nih udah lama gak ketemu. Kebetulan aku sendirian kesini."
Kami akhirnya duduk bersama setelah menerima pesanan kami.
"Lama gak ketemu ya Kak Arka." Kata Rika pada Kak Radit.
"Ia. Lama banget. Terakhir ketemu waktu sebelum kakak berangkat ke Jogja ya?"
"Ia mungkin. Kalau gitu sudah 7 tahun lebih ya."
"Hemmm… lama juga. Sekarang kamu kerja?"
"Ia Rika udah kerja. Di Bank XXX jadi Customer Service yang di Mall."
"Itu kayak yang bisa buat tabungan langsung sama foto di box itu?"
__ADS_1
"Ia betul."
"Sambil makan yuk. Kakak lapar. Ina kamu makan juga, biar gak sakit."
"Kalian udah balikan. Terakhir Rika tahu kalian putus." Kali ini Rika melihat dan menekankan kata putus tepat di jantungku. Dia ingin mengingatkan kalau Kak Radit dulu adalah orang yang dia sukai. Tapi bukannya dia sudah menggandeng sosok seseorang yang sudah dewasa di Mall. Lalu untuk apa dia menekankan lagi.
"Ia kami sudah putus. Tapi kebetulan kakak masuk ke tempat kerja Ina. Jadi sekarang sering ketemu. Ini baru pulang meeting liat rumah klien terus benerin beberapa bagian desain."
"Kalian di bidang yang sama?"
"Ia. Kamu gak tahu kalau Ina juga kuliah Arsitektur?"
Hah. Bagaimana dia tahu. Setelah meminta aku putus dengan Kak Radit dia menghilang dan seolah-olah kami tidak kenal setelah menyalahkanku bahwa aku merebut orang yang dia sukai. Dia bahkan tidak menghargai pertemanan yang sudah berlangsung lama.
"Nggak. Rika gak tahu. Selepas Kak Radit pergi, Rika diminta mamanserius belajar supaya bisa masuk kuliah di Sidney. Tapi karena nilai Rika kurang bagus dan Essay nya gak memenuhi syarat jadi gak keterima. Jadi Rika kuliah di Universitas Swasta jurusan Manajemen."
"Owh gitu. Ina juga pasti sibuk belajar soalnya dia masuk IPB. Ya kan Ina?"
"Ia. Ina juga kan banyak ikut kegiatan sekolah dan les-les biar bisa masuk IPB."
"Lagian Tari kan pinter kak. Jadi wajar belajar dikit sudah bisa masuk negeri. Apalah Rika ini."
"Hahaha.. Ia. Ina memang rajin, pintar dan tekun orangnya. Kakak bisa lihat waktu dia bekerja."
"Eh Kak Arka kerja di daerah mana sih? Nanti kapan-kapan ketemu dong. Rika jomblo kalau gak sering ketemu teman nanti menangis kesepian."
"Haha.. masak sih Rika jomblo? Kok kakak lihat banyak cowok yang antri deketin kamu."
"Yang deketin banyak kak. Tapi yang bisa klik di hati susah."
"Nanti kapan-kapan ketemu bertiga. Kita nongkrong."
Aku mendengar mereka ngobrol sambil makan. Sebenarnya aku pingin cepat-cepat pulang. Rasanya sudah gak tahan harus melihat Rika. Bagaimanapun cara dia memperlakukanku itu buruk.
Tapi akan tidak sopan bila mengajak Kak Radit pulang saat ngobrol gini.
"In, Ina.."
Kak Radit menggoyangkan tanganku. Ternyata aku sudah melamun sambil melihat ke arah lain.
"Mungkin Tari bosan kak. Apalagi dia kan dari tadi gak ikut nimbrung."
"Emm maaf, ngantuk dan capek banget aku. Atau aku pulang duluan aja Kak Radit, aku naik taxi."
"Jangan. Kakak kan janji antar kamu pulang. Ini kakak juga udah selesai makan."
"Rika boleh ikut nebeng pulang gak?"
Aku melihat ke arah Rika. Dia benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Dia tersenyum sambil memperlihatkan tampang sedikit memohon.
Kak Radit terlihat bimbang.
"Oke Rika bareng kita aja. Nanti Kakak antar kamu dulu baru Ina."
Kami pun menuju mobil setelah Kak Radit membungkus 2 kantong makanan.
***
Ketika hampir sampai daerah rumah, tiba-tiba Rika menyeletuk.
"Gimana kalau Kak Arka antar Tari dulu. Rumah Rika dekat sama jalan utama, jadi nanti habis antar Rika, Kakak bisa langsung jalan pulang."
"Gimana Na?"
"Ina terserah kak Radit aja."
"Emm, ya sudah kakak antar Ina dulu ya. Nanti baru antar Rika."
Rika tersenyum menang. Aku yang semula ingin mengakui kenapa aku bisa minta putus tidak punya kesempatan kali ini. Apa memang Tuhan sudah menakdirkan agar rahasia ini tertutup rapat?
Setelah sampai di depan rumah aku segera turun setelah berterima kasih. Tapi ternyata Kak Radit turun.
"Kak Radit temenin masuk. Biar Om Tante atau Bang Ardan tau Ina sama kakak tadi pulangnya."
"Gak usah kak."
__ADS_1
"Gapapa"
Ternyata ada Kak Ardan di luar. Sedang duduk di teras entah sedang apa dia.
"Bang"
"Lho Radit, ngantar Ina."
"Ia. Tadi pulang terakhir, jadi Radit antar pulang sekalian."
"Maaf ya adik abang ngerepotin kamu."
"Nggak lah bang. Oiya, ini burger buat abang. Maaf cuma bisa bawain burger. Tadi sekalian mampir makan."
"Ia gapapa. Abang yang makasih, sudah bantu Ina eh dibawain oleh-oleh. Sayang belum jodoh."
"Kak"
Aku memukul lengan Kak Ardan. Mulutnya emang suka pengen ditimpuk sandal.
"Kak Arka"
Suara Rika memanggil. Aku hampir lupa kalau ada dia diantara kami tadi.
"Eh Kak Ardan. Malam kak."
"Rika ya?"
"Ia."
"Wah, makin cantik ya."
"Kak Ardan bisa aja."
"Mampir aja dulu gimana?"
"Radit harus pulang bang. Nanti malam harus lanjutin kerjaan. Maaf ya gak bisa mampir. Salam buat om tante."
"Ia nanti abang salamin. Makasih sekali lagi ya dit."
"Sama-sama bang."
"Rika pamit ya Kak."
"Ia. Hati-hati kalian."
"Ia Kak."
Aku masuk setelah kata dari Rika.
Aku sedikit bad mood karena harus bertemu Rika.
"Kok bisa sama Rika dek?"
"Tadi ketemu di restoran."
"Owh. Gak nyangka dia tetap terlihat biasa meskipun sudah lama gak ketemu kamu."
"Gak tau kak. Mungkin karakternya Rika gitu. Atau memang Rika yang gak tahu malu."
"Hust. Mulut kamu Na. Jangan gitu akh."
"Ya udah. Ina naik terus mandi. Gerah banget. Capek dan ngantuk juga."
"Ia"
Aku benar-benar merasa capek. Karena si Rika dan karena kesempatan yang hilang.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Jadi ada penghalang lagi. Kira-kira Radit pilih siapa?
Kasih like dan komen kalau kalian suka.
Dan mohon maaf tentang alur yang lambat.
See you...
__ADS_1