
Semalam aku pulang dari nongkrong dengan Kak Ardan jam 11 malam. Karena dengan kakakku sendiri tidak ada yang mencari kami. Selain itu kami juga sudah bilang ke Mama kalau akan nongkrong setelah pergi ke kondangan. Kami membawa oleh-oleh untuk kakak beradik yang langsung menagih ketika bertemu denganku. Kami membelikan kue desert yang tersedia di Kafe yang kami datangi.
Hari ini aku tidak kemana-mana, namun Varo akan mampir setelah mengantar sepupunya ke Stasiun. Katanya, sepupunya akan ke Surabaya, lalu kenapa dia tidak langsung menuju ke Surabaya tapi mampir ke Jakarta lebih dahulu.
“Auntie, kenapa kok auntie belum menikah?”Kata Lano. Keponakanku itu memang sedikit lebih besar, namun entah darimana dia mendapat kata-kata itu.
“Lano dapat dari mana kata-kata auntie dan menikah?”
“Dari Ibu, kata Ibu waktu dek Lani minta adik, Ibu bilang dek Lani akan dapat adik dari Auntie. Tapi tunggu auntie nikah dulu. Terus waktu dek Lani tanya kapan, katanya dek Lani suruh tanya sendiri ke auntie.” Jelas Lano.
Nih emaknya bagaimana sih, kenapa anaknya minta adik malah dioper ke aku.
“Coba nanti tanya Om Varo. Om Varo yang tahu soal kapan auntie nikahnya.”
Hahaha, kalau sebagai cewek gak boleh terlalu nanya soal nikah, biar ponakan aja yang ku minta.
Terdengar suara mobil samar di depan. Aku yakin kalau itu Varo. Ternyata sekarang emang udah siang. Pantas aja tadi tiba-tiba kebangun pas enak-enak mimpi.
Ia setiap libur aku memang selalu bangun siang bila tidak ada acara kemanapun.
Aku menyambut aro di depan pintu.
“Hai Yang.”
“Eh ada Lano.”
“Sini bang, salim dulu sama Om Varo.”
Lano mendatangi Varo untuk salim. Lalu duduk di sofa.
“Kok cuma Lano yang disapa?”
“Pengennya sama cium kamu pas nyapa. Ternyata ada bocah yang lihat. Gak enak lah Yang.” Bisik Varo.
“Huft”
“Jangan cemberut.”
“Ya sudah, aku buatin minum ya. Mau apa?”
“Es Kopi boleh?”
“Boleh. Americano ya?”
“Boleh”
Aku meninggalkan dua laki-laki yang kucintai itu di ruang tamu. Di rumah kami ada mesin kopi mini. Karena selain lebih praktis juga lebih pas. Kami tidak perlu mengira-ngira seberapa banyak takaran kopi dan air.
Setelah membuat es kopi Americano untuk Varo aku segera ke depan lagi. Tiga buah kue juga tersaji selain dua gelas es kopi dan air putih.
“Bang, ini kue abang, abang makan kue nya sambil nonton TV aja ya. Auntie mau ngobrol sama om Varo.”
“Ia”
Setelah Lano pergi aku melihat pada Varo yang terlihat mengerutkan dahi.
“Why?”
__ADS_1
“You never ask me about that?”
“About what?”
“Married”
Aku kaget namun tetap tersenyum. Ternyata keponakanku sudah menanyakan apa yang menjadi teka-teki untuknya.
“Menurutku bila kamu sudah ada niat maka kamu yang akan bertanya padaku Var, tapi saat aku ditanya Lano tadi, menurutku hanya kamu yang tahu jawabannya.”
“Sebelum aku bertanya tentang pernikahan dan kapan tepatnya aku akan melamar kamu Sin, boleh aku bertanya, kira-kira apa yang kamu tawarkan pada pernikahan kita nanti?”
Aku melihat Varo dengan pandangan bertanya. Apa yang kutawarkan pada pernikahan kami. Bukankah harusnya pihak laki-laki yang menawarkan bagaimana dia akan memberi pernikahan pada sang perempuan. Namun kali ini aku yang ditanyai. Apa kira-kira yang dia inginkan.
Dia menangkap raut bingungku.
“Bukan hanya pihak laki-laki yang menawarkan, namun pihak perempuan juga harus menawarkan, pernikahan seperti apa yang dapat diberi olehnya pada suaminya. Saat aku akan ditanya apa yang sanggup aku beri buat kamu, aku akan beri kamu kehidupan yang berkecukupan. Aku akan melindungi kamu dan martabat kamu. Aku akan berusaha menjadi suami yang mengerti kamu. Tapi apa yang akan kamu beri padaku? Kalau kamu sudah menemukannya, kamu boleh mengatakan padaku. Saat kita sudah sepakat maka pernikahan kita akan berlangsung.”
Dia mengakhiri perkataannya dengan senyum. Apa yang sebenarnya Varo inginkan? Aku tidak pernah memikirkan hal ini sedikitpun. Apa yang aku beri pada Varo nanti saat sudah menikah.
“Jangan dipikirkan kalau itu berat Sin. Kamu masih ada waktu untuk memikirkan hal itu. Kenapa aku menanyakan hal itu, karena ikatan pernikahan hal yang serius. Bukan hanya sekedar kata cinta dan nafkah. Disana ada tanggung jawab masing-masing bagi suami dan istri. Kamu bisa bertanya dan memikirkan semua sebelum kita mencapai kata ‘Will You Marry Me?’ It's simple thing, justru yang sulit adalah setelah pernikahan itu.”
“Oke. Bakal aku pikirin hal itu. Apa yang sanggup aku beri sama kamu saat kita menikah nanti.”
“Sepupu kamu kenapa gak langsung ke Surabaya?”
“Soalnya dia ada reuni semalam. Jadi mampir Jakarta dulu.”
“Jadi semalam kamu pergi sama dia?”
“Owh. Makan siang disini yuk.”
“Emang kamu belum sarapan?”
“Belum. Tadi cuma makan sandwich aja. Belum makan berat. Aku lihat ada printilan nasi uduk. Yuk”
Aku menyeret Varo untuk makan. Dia terlihat sungkan, tapi dia sudah termasuk keluarga, maka sudah sepatutnya dia juga makan di rumah.
Saat kami makan, aku melihat Kak Ardan turun.
“Pagi”
“Ini sudah siang kak.” Protesku
“Pagi Kak” Jawab Varo.
Dia akhirnya duduk di depan kami di meja makan.
“Makan Kak Ardan.”
“Ia. Lanjutin aja. Ntar gue makan juga.”
“Oke”
Kami makan sambil mengobrol. Kak Ardan ini mudah akrab dengan siapa saja. Sehingga dengan siapapun dia bisa mengobrol panjang lebar. Banyak hal yang dia bicarakan dengan Varo, baik saat Varo masih makan maupun saat dia yang ganti makan.
__ADS_1
“Kalian gak ada rencana keluar?” Tanya Kak Ardan.
“Belum sih kak. Gak tau nih kalau Sinta ngajak keluar.”
“Di rumah dulu aja Yang, itu anak kasihan di tinggal sendiri, Ayah,Ibu, Adik, Kakek sama Neneknya lagi keluar cari apa gitu buat nikahannya Kak Dila.”
“Owh. Ia. Kita temenin Lano dulu. Untung aja gak ada acara keluar juga.”
“Ia”
“Kakak mau nonton nanti. Kalian mau ikut? Kalau ikut nanti ketemu aja di tempatnya.”
“Jam berapa?”
“Jam tigaan kakak berangkat jemput. Nontonnya jam enaman."
“Pas lah. Kamu tidur siang dulu disini. Pas Nungguin tuh bocah tidur siang.”
“Bang, makan kue nya udah? Dah jam 12 lebih nih, waktunya bobok siang.”
“Kan gak ada Ayah, auntie. Abang gak usah tidur siang ya?”
“Kalau ayah datang abang belum bobok siang, Auntie gak ikut-ikut ya kalau abang dihukum ayah.” Ancamku padanya.
Dia tahu kalau dia tidak tidur siang maka dia akan tidak akan mendapat jatah dessert selama satu minggu penuh. Baginya dessert adalah makanan yang wajib ada di rumah. Bahkan disini.
“Ia ia, abang tidur siang. Tapi Abang tidur sama auntie ya?”
“Ia”
“Yang, nanti sama Kak Ardan dulu ya. Aku nemenin Lano tidur bentar.”
“Oke”
Akhirnya aku menemani Lano tidur siang. Dia bukan tipe anak yang susah tidur. Cukup temani saja dia sebentar maka dia akan tidur sendiri.
Namun saat setelah menemani Lano tidur aku turun menuju kamar tamu. Aku ingin melihat apa Varo disana karena dia tidak ada di meja makan tempat aku meninggalkannya.
Tok..tok..tok
Tidak lama dia membuka pintu dan menarikku masuk. Dia langsung menutup pintu pelan dan menciumku dibalik pintu. Kami berciuman cukup lama, namun segera berhenti sebelum kelewatan.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Udah segitu dulu.
Menurut kalian apa yang perlu ditawarkan Ina ke Varo?
Klik Like dan jangan lupa komen kalau kalian suka. Kasih masukan kalau ada kesalahan dalam karya ini.
See You…
__ADS_1