
Aku sudah selesai mandi dan bersiap. Cepat? Ia aku mandi dan bersiap dengan cepat. Kak Ardan benar-benar membuatku harus menyeret badan untuk mandi dan bersiap. Karena kalau dia bilang "cepet ya dek" dia bener-bener non toleran. Dia tinggal ya dia tinggal. Jadi saat dia mengangkatku dan mendudukanku ke lantai kamar mandi yang dingin, artinya dia ingin aku segera mandi saat itu juga. Apalagi waktu tahu aku tidur masih dengan pakaian yang sama dengan kemarin dan muka kucel, dia makin ngomel dong pagi-pagi, dengan bilang aku jorok dan bakal ada jerawat dan sebagainya dan sebagainya. Dia cerewet, banget.
Setelah meletakkanku di lantai kamar mandi dan membasuh mukaku dengan air dingin dia bilang dalam 10 menit lagi dia akan datang setelah mandi dan bersiap. Dia cowok woy, mandinya cepet. Kami kaum hawa kan lebih menikmati apa itu mandi, kenapa buat kami mandi dengan waktu secepat itu. Dia gila apa. Saat ku bilang itu terlalu cepat, dia menjawab, bakal lebih cepat kalau dia yang memandikan. Iuch, emang kita apaan, mayat, mayat aja dimandikan sama sesamanya, mayat cewek ya cewek yang mandiin, mayat cowok ya cowok, ini kakak bakal mandiin, yang ada bukan mandiin, dia cuma guyur-guyur doang. Jadi ku bilang, aku bakal mandi saat dia keluar kamar mandi.
Jadi begitu dia keluar kamar mandi aku segera buka baju dan mulai mandi, mungkin dia menunggu sampai ada suara air, karena begitu aku membuka shower dan mulai membasuh tubuh ada suara pintu yang ditutup. Aku mandi dengan cepat, setelah mandi, aku segera ganti baju dan pakai make up natural, hanya skincare bedak dan blush on serta lipstik supaya nggak pucat, sedikit eyeshadow berwarna peach supaya mata juga bersinar. Rambut belum aku apa-apain ketika ada suara ketukan di luar. Lebih dari 10 menit sih, tapi tetap saja itu kecepetan, dengan rambut sedikit basah yang sedang kuurai aku membukakan pintu buat dia, namun ternyata bukan Kak Ardan. Yup. Benar, itu Kak Radit. Dia sempat bengong sambil melihatku.
"Kak"
"Kak Radit"
"Heh"
"Malah ngelamun. Ina pikir Kak Ardan."
"Bang Ardan lagi siap-siap. Kamu belum siap?"
"Udah"
"Rambut kamu masih basah"
"Gapapa, nanti kering sendiri."
"Masih bandel kayak dulu. Nanti masuk angin. Keringin dulu gih."
Aarg, nih mantan, gak ngerti apa kalau tersenyum sambil ngomongin masa lalu itu bikin kita makin susah move on tahu. That's so rude dude.
"Masuk dulu deh kak. Ina keringin rambut bentar. Tadi buru-buru. Kak Ardan kan suka kejam kalau apa yang dia suruh gak dilakuin."
"Dia kasih longgar kali, Na. Kalau nggak, dia sendiri yang jemput kamu sekarang."
Aku segera masuk kamar mandi dan mengeringkan rambut.
Setelah rambutku kering dan sedikit menatanya agar indah sedikit seperti duta shampo di iklan, aku keluar kamar mandi dan melihat Kak Radit sedang menata tempat tidur. What the hell, awkward banget sambil kami bertatapan. What's going on dude? Why you do that? It's embarrassing, you shouldn't do that.
"Kak Radit ngapain?"
"Hehe, bantu kamu beresin kasur."
"Maaf ya kamar Ina berantakan."
"Nope"
"So? Why?"
__ADS_1
"Awkward banget Na, aku nungguin kamu keringin rambut sambil do nothing. This is not my girlfriend room, so I can do anything I want, like, help to comb her hair. Or something else. I'm sorry cause what I do."
"Just forget it. Come on. It's too late for us."
"Ok"
Kami keluar kamar dan segera berjalan menuju lift untuk ke Area restaurant di bawah. Disana sudah ada Kak Ardan yang memandang kami menelisik.
"Lama banget"
"Ina ngeringin rambut dulu Kak"
"Radit yang nyuruh, tadinya Ina mau bikin rambutnya kering sendiri. Cuma takutnya malah jadi penyakit, kan lagi liburan gak lucu kalau sakit."
Kak Ardan masih melihat kami dengan fokus dan mencoba melihat apa kami berbohong atau tidak.
"Yaelah bang, mau bohong juga buat apa coba."
"Ya udah, kalian ambil makan, masih lama juga, paling jam 8an orang yang bawa mobil kesini."
"Iya" jawabku dengan Kak Radit bersamaan.
Kami mencari makan, namun rasanya tidak ada makanan yang cocok untukku. Tapi aku tetap mengambil siapa tahu nanti lumayan bisa ditelan.
Namun selalu ada penyelamat, egg corner. Aku memesan 2 omelet untukku, karena aku masih underestimate nih sama yang namanya makanan yang aku ambil. Biasanya Bali selalu memberi kesan europe style pada makanan mereka. Jadi agak kurang berasa untuk yang di hotel-hotel.
Lalu kami makan bersama, tidak berselang nada ringtone berbunyi dari ponsel Kak Radit, dan aku melihat nama Rika disana.
Rasanya ada yang mengganggu, kenapa wanita itu pagi-pagi menelpon Kak Radit.
Aku tetap makan meski banyak pertanyaan, dan Kak Radit mengangkat teleponnya.
"Halo! Ada apa Rik?"
"Sarapan. Kenapa?"
"Iya, aku lagi di Bandung."
"Oya? Ngapain kamu di Bandung?"
"Owh ada event."
"Kerja. Padat sih. Ini juga rombongan. Nanti paling besok liburan sama anak-anak."
__ADS_1
"Heh? Bareng balik ke Jakarta?"
"Gimana ya Rik? Kakak lagi sama staf yang lain. Gak enak lah sama mereka. Awkward pasti. Kamu balik sama teman-teman kamu aja."
"Pengen ketemunya kapan-kapan aja. Udah dulu ya. Bentar lagi mau ke Proyek. Bye"
Begitulah kira-kira apa yang dibilang Kak Radit pada Rika.
"Rika Dit?" Tanya Kak Ardan
"Iya Bang."
"Kalian ada hubungan apa?"
"Gak ada?"
"Bohong banget, sampai di telepon pagi-pagi gitu."
"Kalau ada hubungan kan gak dibohongi bang."
"Hahaha, ngapain bohong?"
"Males lah bang, lagian yang gue kasih tahu kalau gue di Bandung cuma mama. Ini pasti ada andilnya mama sampai Rika tau Radit di Bandung."
"Gila, ama nyokap bohong juga loe?"
"Waktu itu ada teman mama yang lagi jodoh-jodohin gue ama ponakannya Bang, tapi masalahnya tuh ponakan agresif, dan kayak anak ABG yang nempel mulu sama gebetan, ya gue bohongin aja. Gak tahunya rasanya bener banget jalan gue bohong, ternyata gak cuma 1 yang kena, yang gak gue prediksi juga kena."
"Rika suka ama elo?"
"Gimana ya ngomongnya?"
"Ngomong aja kali, asal loe tau aja, sejak SMA yang elo putus ama adek gue, Rika udah ngilang dari kehidupan adek gue, jadi loe gak bisa ngitung dia masih teman baik adek gue, teman SD ia. Kenalan ia. Teman baik bukan."
"Iya sih bang, Rika pernah bilang soal suka sama Radit, tapi dia kan teman Ina dan kode etik buat Radit juga berlaku, Radit bukan piala yang bisa dioper meski bukan dioper Ina langsung tapi karena pilihan Radit bang."
Aku langsung menatap Kak Radit. Dia merasa seperti piala bila dia mau berpacaran dengan Rika yang notabene teman dekatku.
Bagaimana kalau Kak Radit tau, kalau alasan aku putusin dia karena Rika yang sahabatku juga menginginkan dia untuk jadi pacarnya, dan aku memilih untuk mengalah dan memberi jalan untuk Rika.
--- --- --- --- --- --- ---
Jangan lupa Promoin "Yes, I'm a Secretary" ke media sosial kalian agar novel kesukaan kalian itu bisa menang kontes.
__ADS_1
Terus klik like dan kasih komen kalian juga.
See you...