SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #34 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Kami hari ini berjalan-jalan ke Tanjung Benoa untuk bermain air. Karena sudah ada Tol jadi mempermudah kamu untuk sampai disana. 


Kami memulai dengan mengunjungi penangkaran penyu. Setelah itu kami bermain Banana Boat, Flying Fish dan sebagainya. Banyak hal yang kami lakukan. Hingga tidak sadar kami sudah melupakan makan siang. Setelah rengekan dari Ina bahwa dia lapar, kami baru sadar jika sudah hampir sore. Dan kami memilih makan di Restoran Seafood terdekat agar tidak semakin kelaparan. Ternyata lumayan enak juga.


"Habis ini kita mau kemana Kak?" Tanya Ina pada Bang Ardan.


"Liat sunset?"


"Kalau ke Kuta kejauhan emang bisa sampai tepat waktu? Belum macetnya."


"Ke ITDC Nusa Dua, yang dekat sini aja. Gimana Dit?"


"Radit sih kemana aja hayuk. Yang penting refreshing."


"Pulang dari sana terus kita kemana?"


"Balik Hotel lah Na, mang kamu mau kemana lagi?"


"Cari oleh-oleh. Biar bisa langsung di packing rapi. Biar besok gak susah lagi. Kan besok kita jalan-jalan sekalian check out dan balik."


"Iya juga. Ya sudah. Nanti mampir."


"Besok Radit antar ke Bandara aja. Mobilnya biar sopir teman abang ambil di Hotel, Radit balik pagi kok."


"Lho, kamu balik Senin."


"Iya."


"Ya sudah. Kalau makannya sudah, kita balik sekarang, kurang dikit sunset nih."


Kami akhirnya pergi. Hari ini Ina agak aneh. Dia tidak berbicara sama sekali denganku setelah Sarapan tadi. Apa ada yang salah ya?


Kami menikmati Sunset di ITDC Nusa Dua. Lumayan bagus. Apalagi tidak seramai dan sebising Kuta dan tergolong bersih. Kami cukup menikmati pemandangan sambil sedikit mengabadikan. Aku tidak mengupload apapun. Aku tidak ingin ada yang tahu keberadaanku. Sebenarnya Rika mulai cerewet dan ingin bertemu di Bandung, mulai mengajak ke Dago, tiba-tiba ngajak ke Lembang, tapi jelas aku tidak bisa. Bahkan dia ingin menghampiri hotelku dan bergabung, karena kebanyakan di rombongannya adalah Pria. Yang secara logika itu agak aneh, bank ini memang ada pria, tapi yang selevel dengan Rika menurutku lebih banyak wanita. Namun tentu saja aku tidak mengatakannya dan kekeh memberi alasan aku harus mendahulukan kenyamanan staf yang lain, apalagi tidak ada Ina yang juga temannya di Bandung. 


Benar kan? Aku tidak bohong bahwa Ina tidak di Bandung.


Setelah dari perburuan water sport dan sunset kami menuju ke pusat hiruk pikuk turis yaitu Badung, kami menuju ke Pusat oleh-oleh yang lumayan terkenal sebagai clothesline nya Bali, Ina membeli beberapa potong baju, begitupun Bang Ardan. Aku membeli dua buah kaos untukku dan sebuah jaket. Setelah oleh-oleh baju dan aksesoris, kami menuju oleh-oleh makanan. Disini juga menyediakan pakaian, namun sepertinya kualitasnya masih lebih baik yang sebelumnya. Ina membeli beberapa makanan. Aku menambahinya, karena aku tidak bisa bilang aku juga di Bali juga.


"Biar kakak yang bayar, nanti bilang ini dari kamu, supaya tidak ada gosip, nanti dipikir kerja kamu merayu atasan."


Ina menoleh padaku.


"Aku nggak ya"


"Makanya itu Ina. Biar kakak belikan, biar teman-teman yang lain senang dapat oleh-oleh banyak. Dan kita gak kena gosip. Bukan baik buat kakak. Tapi baik buat kamu."


"Iya"


Setelah memilih dan membayar serta packing karena ternyata banyak kami akhirnya makan ke warung pedas yang terkenal di Area Kuta ini. Kami makan disana dan lumayan terjangkau juga. Sesuai dengan lauk yang diambil, dan makanannya pun enak. Kami makan sebagai makan malam karena begitu sampai Hotel mungkin kami hanya akan tidur.


Setelah  makan kami kembali ke hotel dan pergi ke kamar masing-masing, kamar kami sudah rapi karena ada cleaning service.


"Kamu mandi dulu aja Dit, Abang mau ngabari ibu negara sama Ibu Suri dulu."


"Iya"

__ADS_1


Maksudnya adalah pacar dan mama Bang Ardan dan Ina. Kami kaum laki-laki selalu punya panggilan aneh pada orang-orang kesayangan kami itu. Ini Rahasia, mohon untuk dijaga.


Setelah mandi aku masih melihat Bang Ardan masih Video Call dengan pacarnya di balkon, jadi setelah memakai setelan santai aku pamit untuk duduk-duduk di dekat kolam renang agar dia tidak mencariku. Setelah melihat kolam aku akhirnya berpindah ke Pantai. Dan karena area privat hotel jadi tidak banyak orang saat ini. Aku duduk bersantai setelah memesan minuman dan mulai mengerjakan apa yang diminta Simon. Setelah agak lama aku melihat sesosok yang kukenali. Gadis itu sedang menikmati air laut, dan parahnya sandalnya terbawa ombak sehingga dia sibuk mengejar sandal agar tidak jauh terbawa ke tengah.


Aku tertawa melihat tingkahnya. Dia memang menggemaskan. Dari dulu hingga sekarang. Tidak lama dia melihatku dan mendatangiku.


"Kerja?"


"Iya."


"Tapi katanya mau liburan?"


"Kerjaan banyak."


"Dari kantor?"


"Nggak, dari teman. Proyek lumayan besar."


"Fee nya juga besar dong?"


"Iya."


"Uangnya banyak?"


"Gak juga. Pokoknya cukup buat nikahin anaknya orang."


"Beruntung yang jadi istri kakak nanti."


"Masak sih?"


"Iya."


Ina lalu duduk di tempat duduk samping.


"Nanya apa?"


"Kenapa seharian kamu kayak gak ngomong sama kakak dan kurang happy?"


"Ngomong gini. Lagian happy kok."


"Ia sekarang, tadi pagi sampai kita balik nggak. Kakak juga bilang kurang bukan nggak happy."


"Emm"


"Ada apa Na?"


"Ada hal yang lagi Ina pikirin?"


"Kakak gak boleh tahu?"


"Sebenarnya harusnya Ina kasih tahu lama."


"Berarti ini soal kakak?"


"Iya."

__ADS_1


"Soal apa?"


"Emmm"


"Bilang aja. Kakak gak akan marah kok?"


"Yakin?"


"Iya"


"Emmm.. soal kenapa Ina mutusin kakak dulu. Ina mau cerita biar Ina gak merasa memiliki beban karena kakak sudah tau Ina bohong alasan waktu itu."


"Jadi, karena apa?"


"Ina, mutusin kakak karena Rika. Rika marah sama Ina karena pacaran sama kakak. Selama ini Rika suka kakak. Dan Ina gak tahu kalau Kak Arka yang dimaksud Rika itu Kak Radit. Lagian Rika gak pernah nunjukin foto kakak. Tapi waktu tahu Rika marah dan bilang Ina pengkhianat."


Seperti ada petir yang menyambar. Aku diputusin karena masalah pertemanan. Aku masih mendengarkan Ina dengan seksama dan dengan rasa jengkel.


"Ina merasa tidak menghianati, tapi Ina juga sedih dan menyesal karena tidak tahu kalau yang dimaksud Rika dari SMP itu kakak. Hingga akhirnya Ina memilih mengalah, dan melepas kakak."


"Padahal waktu itu kakak sayang banget sama kamu dan mau kasih tahu kabar baik."


"Ina juga sayang banget sama kakak waktu itu. Tapi Ina merasa tidak enak karena mengkhianati pertemanan Ina dan Rika waktu itu."


"Jadi hubungan kita tidak lebih penting?"


Ina terdiam. Ia mungkin bingung akan menjawab apa. Karena nada bicaraku mulai berubah.


"Penting"


"Lalu, kenapa kamu mengalah?"


"Karena Rika lebih dulu mencintai kakak?"


"Memang kakak mencintai Rika?"


"Nggak tahu."


"Kakak kasih tau ya, kakak tidak pernah mencintai Rika. Dari SMP hingga sekarang."


"Maaf."


"Jadi intinya Kakak bukan orang yang pantas kamu pertahankan waktu itu."


"Maaf Ina sudah bodoh."


Aku menutup laptopku lalu meninggalkan Ina. Aku tidak ingin bertanya atau apapun lagi. Aku sangat kecewa dengan kenyataan ini. Aku hanya seperti sebuah trophy baginya. 


--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---


Gimana? Kecewa gak kalian jadi Kalea?


Klik like kalau suka dan juga kasih komentar kalian ya.


Oiya, terima kasih yang udah kasih tip ke aku, terima kasih atas apresiasi lebihnya. Maaf hanya terima kasih yang bisa saya kasih.

__ADS_1


Promoin "Yes,I'm a Secretary" ke Media Sosial kalian dan ajak mereka untuk baca supaya novel aku itu bisa menang kontes. 


See you...


__ADS_2