
Tok tok tok
Terdengar suara kaca jendela mobil diketuk. Aku tersentak sadar, dan lebih terkejut melihat siapa yang mengetuk kaca mobil Kak Radit.
Lalu dengan cepat aku keluar dari mobil.
"Jadi, aku harus bagaimana setelah lihat ini?"
Dengan muka serius tanpa emosi dia bertanya.
"Maaf" Hanya kata itu yang bisa kuberikan saat ini.
Sekali lagi aku melihat muka dingin itu.
"Kalau gitu, bisa kamu masuk dulu. Ada yang sudah ikut nunggu dari tadi."
Aku segera lari masuk menuju rumah namun selanjutnya aq mendengar sesuatu yang keras.
Brak..
Aku menoleh, Kak Radit sudah tersungkur di depan mobil.
"Gue tau siapa elo. Tapi mestinya loe tau, dia itu cuma mantan loe. Bukan pacar loe lagi."
Aku lalu berlari kembali ke arah Varo.
"Cukup Yank!"
"Kamu belain dia?"
Aku diam.
"Kamu belain mantan kamu Ina?"
"Ng.. nggak"
__ADS_1
"Kenapa kamu hentikan aku?"
"Aku.. aku gak tau."
Terus terang aku gak tau, sebenarnya apa yang aku lakukan. Menghentikan Varo atas dasar apa.
Varo lalu melepaskan pelukanku. Tapi langsung pergi menuju mobilnya tanpa berkata apapun lagi. Lalu pergi meninggalkan area rumahku dengan cepat.
Aku menangis. Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Tapi aku menangis tersedu-sedu hingga ada tangan yang menarik memelukku.
Tapi aku sangat hafal dengan rasa dan harum tubuh ini.
Tubuh ini berusaha menenangkanku.
"Jangan menangis."
"Kamu, lebih baik pergi dari sini sekarang. Tolong jauhin adikku dulu. Dia, perlu waktu."
Iya. Benar. Dia kakakku. Dia meminta Kak Radit untuk pergi. Lalu membawaku masuk ke rumah.
Aku tidak tahu, aku beruntung atau bagaimana.
"Ada apa dek? Kamu cerita kakak sini."
Namun aku malah menangis sambil memeluk kakak kandungku itu.
"Ya sudah nangis dulu. Nanti cerita."
Aku menangis cukup lama. Kak Ardan cukup telaten menemani sambil mengusap punggungku untuk menenangkanku.
"Varo ngelihat aku dipeluk Kak Radit"
"Apa?"
"Revaro lihat aku dipeluk Kak Radit di dalam mobil."
__ADS_1
"Radit peluk kamu?"
"Iya"
"Ngapain?"
"Gak tau, Kak Radit tiba-tiba peluk Ina setelah bilang kalau Kak Radit masih sayang Ina, Kak"
"Terus?"
"Varo ngelihat itu lalu ketok kaca mobil Kak Radit."
"Gila. Terus?"
"Ina keluar mobil, lalu disuruh Varo masuk rumah, pas mau masuk halaman aku denger suara ternyata Kak Radit udah dipukul Varo."
"Terus?"
"Ina lari ke Varo lalu peluk Varo supaya Varo berhenti."
"Tapi kamu gapapa?"
"Gapapa. Tapi Varo marah."
"Ya jelas lah dek. Laki-laki mana yang gak marah dan cemburu lihat pasangannya pelukan sama cowok lain. Kecuali tuh cowok emang udah niat selingkuh dan mau lepasin tuh pasangannya."
"Tapi Ina juga gak tau bakal dipeluk Kak Radit Kak"
"Tapi kamu juga terbuai kan? Kamu ngelupain kalau kamu masih punya Varo meskipun sejenak."
Aku mulai menangis lagi. Iya aku akui, kalau aku sempat melupakan Varo saat dipelukan Kak Radit. Dan aku gak tau, kenapa aku harus melerai mereka. Entah untuk Kak Radit atau Revaro. Ini pertama kalinya buatku. Dan ini juga sangat menyakitkan. Melihat Varo yang marah dan melihat Kak Radit yang dipukul Varo. Entah sudah berapa lama aku menangis. Hingga paginya aku terbangun oleh sakit kepala dan sakitnya tenggorokan karena kering.
--- --- --- --- --- --- --- ---
Jadi begitulah guys. Kira-kira Kalea tetap maju atau maju mundur cantik?
__ADS_1
Karya saya ini akan saya update, entah bergantian dengan karya yang lain atau update setiap hari. Yang pasti akan ada karya saya yang update setiap harinya. Jadi tolong di tunggu ya.
See ya…