SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #24 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Badanku rasanya remuk, bagaimana tidak aku harus membantu mulai dari hari Kamis saat aku pulang lebih awal setelah melakukan meeting dengan klien. Adanya pengajian, lalu siraman dan midodaren esoknya lalu akad nikah dilanjut resepsi di malam harinya. Kurang tidur dan banyak yang perlu dibantu serta mondar mandir membuatku berolahraga berat tanpa sengaja.



Bahkan saat ini, saat aku diambang antara masih mengantuk sehingga malas bangun namun harus rela mendengar suara dering telepon hotel yang berisik. Aku tidak mau tahu ini jam berapa, tapi kenapa ada yang menelponku saat ini. Suara yang berisik membuatku mau tidak mau beringsut mengangkat telepon.



"Halo"



"Sarapan Kal. Udah siang." Itu suara mama.



"Kalea ngantuk ma."



"Nanti tidur lagi. Kamu masih menginap disini kan sampai besok?"



"Iya. Iya Kalea bangun."



"Bangun ya. Jangan tidur lagi."



"Iya mama sayang."



"Ya sudah."



Tuut tuut tuut



Panggilan itu diakhiri. Aku melihat jam tangan yang ada di meja samping telepon. Ini masih pukul 9.15, masih sempat bila aku bangun lalu sarapan. Jadi aku menuruti perintah mama untuk sarapan. Aku beranjak dari tempat tidur lalu ke kamar mandi untuk gosok gigi cuci muka. Mengganti kaos agar tidak terlalu lusuh. Aku memang membawa beberapa baju agar aku tidak perlu khawatir kekurangan baju. Selesai urusan kamar mandi aku turun. Ternyata keluarga masih berkumpul. Bahkan kakak dan kakak iparku. Semua masih asik ngobrol sebelum melepas pasangan pengantin itu pergi bulan madu.




"Makan dulu Kal"



"Iya Pa" 



Aku menyapa seluruh keluarga yang ada. Mereka akan kembali ke Jogja dan kota masing-masing setelah check in. Bahkan sebenarnya ada yang sudah pulang tadi pagi untuk mengejar pesawat pagi.




"Mas Kalea"



"Hai Mit"



Mita adik sepupuku. Dia tinggal di Jogja dan mungkin sekarang sudah berada jenjang pendidikan SMA. Karena saat aku berada di Jogja di bilang sudah akan lulus SMP.



"Kok baru bangun Mas?"



"Capek Mit,Mas kan kerja terus bantu-bantu dari Kamis. Keretamu jam berapa nanti?"



"Sore kok Mas. Ini nanti dari sini mau main dulu ke Mall. Mas Kalea ikut ya?"



"Nggak Mit, sama budhe mu aja. Mas mau tidur."



"Jangan ajak Masmu Mit, Masmu itu kerjaannya begadang kayak Pakdhemu. Kalau nemu hari libur dia pasti pengennya tidur. Lagian dia pasti capek kan?" Sela Bulik Anis.



Meskipun aku bisa memanggilnya Tante, Bulik Anis lebih suka menyuruh kami, Kak Anjani dan Aku, memanggilnya Bulik. Bulik Anis cukup dekat dengan keluargaku, karena beliau lah yang merawat Simbah. Bulik Anis adalah anak terakhir dari keluarga Papa. Papa merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Yang pertama ada Pakdhe Wanto kependekan dari Dewantoro, Pakde Anggara dengan pembacaan orang jawa menjadi Anggoro, lalu Papa dan yang terakhir Bulik Rengganis atau biasa dipanggil Bulik Anis. Karena itu Bulik Anis sekeluarga menjadi dekat dengan keluargaku karena rumah simbah lah yang selalu aku  kunjungi dan tempatku menginap. 



"Bulik terbaik. Ngerti banget sama Kalea."



"Bulik sudah tau pekerjaan papamu dari bujang Kal, gimana Bulik gak hafal kalau ponakan Bulik juga punya kebiasaan yang sama dengan Papanya. Lagian Mamamu itu selalu mengeluh kamu katanya banyak kerjaan meski di rumah."



"Iya bulik. Kalea kan harus kerja keras, biar nanti istri Kalea gak sampai kekurangan."



"Jangan lupa senengin mama papamu dulu Kal, sebelum kamu memikirkan kesenangan anak orang lain."



"Iya Bulik. Kalea ngerti. Tapi belum waktunya. Papa yang masih belum pensiun, masih belum membutuhkan apapun selain kado ulang tahun dari anak-anaknya Bulik."



"Kamu bener juga Kal. Lagian papamu itu meskipun dikasih hadiah liburan juga belum bisa, soalnya yang di otaknya masih bisnis saja. Terus semalam itu gadis cantik pasanganmu itu, apa pacar kamu?"

__ADS_1



"Memang Bulik mikir gitu?"



"Kan Bulik nanya le (berasal dari kata Tole = yang merupakan panggilan bagi anak laki-laki."



"Nggak Bulik. Dia bukan pacar Kalea."



"Sayang Kal, cantik gitu."



"Cantik sih Bulik. Tapi gak setara sama Kalea."



"Memang gak setaranya kenapa?"



"Perangai dan sifatnya Kalea kurang cocok Bulik."



"Hoalah, ya memang kalau sifat itu memang harus cari yang pas. Supaya pernikahan itu langgeng."



"Iya Bulik."



"Ya sudah kamu sarapan. Bulik mau ngobrol sama saudara yang lain."



"Iya Bulik. Nanti hati-hati ya. Kalea minta maaf tidak bisa mengantar dan menemani."



"Gapapa Kal. Kalian sudah menyambut kami dan memberi fasilitas yang baik bagi kami semua.




Aku lalu melanjutkan makanku. Pasti semua orang berpikir hal yang sama. Kalau Gina cantik dan bila bersanding kami cocok. Namun sayang, sifat kami tidak secocok raga yang bersanding.




Setelah makan dan ngobrol aku segera pamit untuk kembali ke kamar. Dan meminta maaf karena tidak bisa mengantar berjalan-jalan sebelum mereka pulang. Mereka maklum karena seluruh keluarga tahu bagaimana pekerjaan kami para Arsitek. Bisa dibilang, lebih banyak bekerja dari istirahat kami. Baik di meja kerja maupun di lapangan mengawasi proyek agar tidak melenceng dari yang sudah kami rancang.





Aku melihat nama Rika terpampang disana. Ada apa dia telepon?




"Halo"



"Kak Arka"



"Iya Rik. Ada apa?"



"Kakak lagi tidur?"



"Iya. Lagi tidur siang. Ada apa?"



"Maaf ya kak ganggu."



"Iya. Gapapa. Ada apa Rik?"



"Rika kesepian. Pengen ajak Kakak nongkrong."



"Kapan?"



"Hari ini."



"Maaf Rik, kakak capek banget. Kakak pengen tidur."



"Yaah, Rika gimana dong?"



"Coba ajak temen yang lain."

__ADS_1



"Mereka lagi kencan Kak. Sekarang kan weekend."



"Kakak ngantuk Rik. Kalau mau nanti sore aja. Jam Limaan."



"Iya gapapa. Kakak jemput Rika ya?"



"Nggak bisa. Kita ketemu aja. Nanti kakak antar kamu pulang."



"Hemm, ya sudah kalau gitu. Sampai ketemu nanti di tempat. Habis gini Rika kirimin lokasi ketemunya."



"Oke."




Aku mematikan  telepon dan bersiap tidur kembali. Tapi sebelum itu aku mengeset Alarm pukul 3 sore. Sebenarnya aku tidak berminat untuk pergi dengan Rika namun entahlah.




Aku bangun ketika alarm berdering. Ternyata aku bangun 15 menit setelah alarm berdering pertama kalinya.




Aku segera bangun dari tempat tidur lalu ke kamar mandi. Kali ini bukan untuk cuci muka saja, tapi mandi juga. Tepat pukul 4 sore aku sudah siap. Namun aku masih duduk-duduk untuk cek email. Ada email dari Simon untuk tender terbaru dua bulan lagi. Lalu ada beberapa email dari klien-klienku sendiri di luar, namun aku membalas agar memberikan pekerjaan melalui Simon karena aku sudah tidak di US dan melalui perusahaanku dan Simon lah pekerjaan di sana aku handle.




Pukul 4.20 sore aku segera berangkat. Karena tidak membutuhkan waktu lama kesana. Apalagi ini hari minggu. Pukul 4.50 sore aku sudah sampai di Coffee Shop tempatku dan Rika janji bertemu. Aku segera memesan minuman untukku dan dua buah kue. Dua buah kue yang menjadi adat kesopanan. Meskipun aku tidak tahu apa kue itu kesukaannya atau bukan.




Pukul 5.05 sore Rika sampai di depanku. Seperti pertemuan sebelumnya, Rika terlihat menarik dan cantik. Namun hanya sebatas itu saja penilaianku. Karena sebenarnya aku tidak begitu suka penampilannya. Dengan dress selutut berwarna biru navy dengan potongan dada V dan lengan pendek dan sebuah sepatu wedges berwarna hitam dan tas hitam keluaran merk yang lumayan bagus.




Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya.




"Sudah lama ya Kak? Nunggunya?"



"Nggak. Kamu kalau pesan minum, pesan dulu, kakak cuma pesan kue saja buat kamu. Itu pun sama dengan kakak karena kakak tidak tahu kesukaan kamu."



"Terima kasih. Rika suka kok. Rika pesan minum dulu."



Aku menunggunya sambil membaca email kembali. Kami mengobrol sebentar sebelum dia mengutarakan ide untuk nonton. Aku ikut saja apa mau dia. Aku tidak antusias dan tidak tertarik menolak. Kami berjalan di bioskop. Aku melihat siluet seseorang disana. Seseorang yang aku kenal. Dia disana bersama seseorang yang pernah kulihat juga bersamanya. Sedikit rasa pedih menusuk, bagaimanapun aku memang masih berharap bisa kembali bersamanya lagi. Aku memalingkan pandangan sebelum dia menyadari aku melihatnya dan sebelum Rika tahu aku melihat orang tersebut.



"Kak, kita nonton film ini ya?"



Sebuah film superhero terkenal. Jadi bukan film yang bisa kutolak.



"Boleh. Kakak beli tiket dulu." Aku menawarkan diri membeli tiket. Pergi nonton tidak akan membuatku miskin. Setelah membeli tiket kami pergi ke Kafe di sana untuk membeli Popcorn. Saat itu lah hal yang kuhindari harus terjadi.



"Tari" Dia menoleh dan tampak kaget karena Rika yang menyapanya dan dia terlihat lebih kaget lagi setelah melihatku di samping Rika.



Tolong Na, kamu jangan salah paham.



--- --- --- --- --- --- --- --- ---



Yah, ketemu mantan. Sama pacarnya lagi.




Klik like dan kasih komen kalau kalian suka.




See You...



__ADS_1



__ADS_2