
Aku memang tidak bilang padanya akan pergi ke Bali dengan Kak Ardan. Namun bertemunya kami membuatku merasa bersalah pada Varo. Penerbangan kami memang berbeda. Kak Radit memilih penerbangan yang lebih malam. Hanya beda sekitar 1 jam. Namun hotel kami sama. Aku sudah tidak sanggup berkata apapun. Aku duduk dengan gelisah di samping Kak Radit. Sedangkan Kak Ardan memilih duduk di depanku. Aku tidak tahu apa yang membuat otak isengnya untukberbuat seperti itu.
Kak Ardan dan Kak Radit sibuk berbincang, sementara aku hanya diam sambil otak atik ponsel karena harus mengabari Varo. Varo terkejut dengan kepergianku sebenarnya, tapi perginya aku dengan Kak Ardan membuatnya mau tidak mau mengizinkan.
"Na"
"Hemm"
"Otak atik hape mulu."
"Pamit Kak"
"Emang gak dibolehin?"
"Ya boleh. Tapi tetap pamit kan. Save flight gitu."
"Hemmm"
Entah kenapa aku lalu melihat Kak Radit. Dia tersenyum padaku,namun senyum kecut yang kutafsirkan.
Aku lalu menyimpan ponsel kemudian berdiri.
"Kemana?" Tanya Kak Ardan dan Kak Radit bersamaan.
"Yaelah kompak banget. Cari cemilan. Laper."
"Sama kakak aja ya?" Tawaran kak Radit datang lebih awal.
"Iya, kalian pergi cari cemilan."
"Aku beli donat ya?"
"Yang mini aja." Jawab Kak Ardan.
"Oke."
"Pergi dulu bang"
"Beli cemilan, KUA sudah tutup sekarang."
__ADS_1
"Kakak" teriakku tidak sadar. Dan akhirnya aku menjadi tontonan calon penumpang yang sedang menunggu.
Aku segera pergi karena malu.
"Bang Ardan cuma bercanda."
"Aku tahu, tapi tetap aja keterlaluan."
"Gak suka banget di bercandain sama aku."
"Bukan kayak gitu kak."
"Lalu?"
"Itu kan masa lalu, sekarang kak Radit juga udah sama Rika."
"Nggak. Kemarin cuma karena kakak lagi males aja denger rengekan Rika."
Aku menoleh pada Kak Radit.
"Iya. Kakak lagi asik tidur di hotel habis acara. Lalu Rika telepon. Ngrengek minta ditemani nongkrong, tapi jadinya nonton."
"Ina gak butuh penjelasan."
"Tapi kakak cocok kok sama Rika."
"Oya?"
"Iya."
Tidak terasa kami sudah berada di depan toko. Aku memesan donat mini lalu Kak Radit memesan 4 buah donat ukuran biasa. Kami akan berpisah gate jadi kami memang harus beli sendiri-sendiri. Tapi ternyata Kak Radit bayar semua pesanan.
"Kok dibayarin?"
"Ya gapapa. Kan kakak cowok."
"Ina bisa bayar sendiri."
"Iya tahu kok. Tapi kakak pengen aja bayarin biar gak ribet juga kalau bayar sendiri-sendiri."
__ADS_1
Kami berjalan lagi menuju tempat Kak Ardan. Namun sepertinya aku melihat seseorang. Tapi mungkin saja aku salah lihat.
Setelah sampai di tempat Kak Ardan kami menuju gate kami masing-masing. Karena waktu sudah menunjukan waktu penerbangan, kurang 30 menit lagi.
Kami akan bertemu di Bandara Ngurah Rai lagi dan menuju hotel bersama. Sebenarnya Kak Radit menolak takut aku ngantuk, tapi kelihatannya kakakku benar-benar suka pada Kak Radit hingga tetap memaksa untuk bareng ke Hotel. Bali punya begitu banyak Hotel kenapa harus sama.
Begitu panggilan untuk masuk pesawat, aku dan Kak Ardan segera antri untuk masuk.
Aku masih dalam suasana bete karena Kakakku yang tetap teguh pendirian itu.
"Kenapa ngambek?"
"Kenapa mesti bareng sih?"
"Ya gapapa, kan kenal, satu tujuan juga."
"Kan udah malam?"
"Kamu tidur aja sekarang,nanti biar bisa sambil nungguin si Radit."
"Aku udah punya Varo lho kak?"
"Ya terus? Siapa yang nyuruh kamu gantiin Varo sama Radit? Kakak gak nyuruh kamu balikan sama Radit kok. Atau kamu gak yakin sama perasaan kamu ke Varo?"
Aku terdiam. Apa yang dikatakan Kak Ardan memang benar. Ini benar-benar takdir. Aku tidak bilang aku akan ke Bali, sama juga Kak Ardan gak mungkin bilang Kak Radit kami akan menginap dimana. Semua takdir. Dan Kak Ardan tidak sekalipun memintaku untuk memutuskan Varo demi Kak Radit.
Aku tidak tahu mulai kapan aku tertidur, tiba-tiba Kak Ardan membangunkanku karena kami sudah landing. Ini sudah hampir tengah malam. Dan kami akan menunggu Kak Radit hingga dia tiba. Semoga saja pesawatnya tidak delay dan tidak lama berputar untuk landing.
Aku pun tertidur lagi saat menunggu. Lelah? Tentu saja. Setelah berkutat dengan pekerjaan dan jalan aku juga harus menunggu, dan saat Kak Radit membangunkanku karena dia sudah tiba dan Kak Ardan juga barusan pergi ke toilet membuat dia mendapat tugas membangunkanku.
"Ngantuk banget ya? Maaf ya? Harusnya ditinggal aja tadi."
"Gapapa kok."
Setelah sepenuhnya aku tersadar, kami akhirnya menuju pangkalan Taxi untuk menuju hotel. Taxi disini bukan taxi biasa, taxi disini adalah mobil selayaknyanya ojek mobil yang punya tarif sesuai tempat yang di tuju. Setelah 30 menit kami akhirnya sampai di hotel. Hotel yang dekat dengan pantai. Terlihat indah. Tapi kata Kak Ardan ini merupakan hotel bintang empat. Kami menuju kamar masing-masing. Dan saking ngantuknya aku, setelah cuci muka aku langsung tidur.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
__ADS_1
Klik like dan kasih komen kalian.
See you…