
Aku sedang duduk di Balkon kali ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih, dan Bang Ardan sedang membangunkan Ina.
Perasaanku saat ini sedang kacau,ada rasa kecewa yang terselip sejak aku tahu apa alasan aku diputuskan oleh Ina saat itu, namun setelah perbincanganku dengan Bang Ardan semalam…
Flashback On..
"Loe masih belum tidur?"
Tanya bang Ardan yang melihatku di Balkon.
"Belum Bang"
"Karena kecewa sama Ina?"
"Iya"
"Gue perlu ikut campur jelasin gak? Karena meskipun gue tahu beberapa waktu lalu, gue tahu ceritanya sedikit."
Aku terdiam. Terus terang aku bingung. Apakah aku perlu mendengar penjelasan dari Bang Ardan atau nggak. Lama aku terdiam. Hingga Bang Ardan berbicara lagi.
"Kalau elo gak mau denger gapapa. Itu hak loe. Lagian ini juga bukan masalah gue. Cuma gue udah dengar alasannya. Dan gue bisa menelaah dan bisa kalau loe pengen gue tetap di tengah."
"Oke. Loe boleh cerita bang."
"Jadi si Ina ini emang udah lama banget dikasih tau sama Rika, kalau Rika itu suka sama kakak kelasnya. Bahkan Rika sebenarnya pernah daftar ke SMA yang sama kayak elo. Tapi sayangnya dia gak keterima, dan Ina yang teman baik Rika gak pengen kehilangan kesempatan buat sama-sama lagi dengan teman SDnya akhirnya daftar di SMA yang sama."
"Gue gak tau ceritanya, apa si Rika ini masih cari info tentang loe ke Ina apa enggak. Tapi waktu loe akan lulus, akhirnya si Rika tau kalau pacar Ina itu cowok yang selama ini dia sukai dan sering cerita ke si Ina. Rika marah dan bilang kalau Ina itu pengkhianat. Gue tau mereka bertengkar, tapi gue gak tau kalau Ina bakal ambil keputusan mutusin elo buat Rika. Supaya tidak di bilang pelakor atau pengkhianat. Dia cuma pengen baikan dengan teman baiknya meskipun dia harus bersedih kehilangan kekasihnya. Loe tahu perlu 6,5 tahun buat Ina, supaya dia bisa nerima orang baru. Dan itu pacarnya yang sekarang. Itu Pun dia masih terombang-ambing karena perasaan bersalah gak jujur sama elo. Dia gak bermaksud buat jadiin loe kayak Trophy. Yang dia tahu, asal temannya bahagia, loe bahagia itu cukup waktu itu. Tapi sayang, setelah elo ke rumah, Rika udah gak pernah hubungi Ina. Dan melupakan Ina sebagai teman baiknya. Bahkan dulu sering Ina ke rumah Rika, tapi orang rumahnya bilang Rika gak pernah ada di rumah. Padahal beberapa kali gue dan Ina lihat, dia ada di rumah, tapi dia gak pernah mau ketemu Ina sama sekali. Udah kayak gitu ceritanya. Gue tau loe kecewa berat, tapi gue harap loe tau kalau adek gue gak anggap loe Trophy. Dan gue sebagai kakak minta maaf, kecolongan dan gak mendidik adik gue dengan baik. Gue masuk dulu, gue ngantuk dan capek banget. Loe jangan lama-lama diluar. Nanti sakit.
Setelah mendengar apa yang sudah diceritain sama Bang Ardan masih merenung di luar mencoba memahami situasi saat itu.
Flashback Off..
Aku berkali-kali berpikir soal memahami perasaan Ina waktu itu, dan hampir berhasil memahami, meski tetap saja ego merasa seperti benda yang mudah dilemparkan ke orang lain karena orang lain itu suka. Tapi aku sudah mendapat rasa takut dicap buruk oleh sahabatnya dari kecil menjadi momok Ina saat itu.
Pikiran ini saling tarik menarik di kepala, sehingga terasa pening.
Apakah aku sudah waktunya melupakan cintaku karena kekecewaanku, namun berdamai dengan semua kecewa dengan memaafkan Ina?
Inilah jawaban yang ku inginkan selama 7 tahun lamanya. Jadi setelah tahu apakah aku masih harus perlu membawa kecewa seumur hidupku?
Suara pintu terbuka dibelakang. Itu Bang Ardan.
__ADS_1
"Sorry, adik gue lama. Dia baru bangun. Loe sudah selesai packing?"
"Udah bang, tinggal bawa aja."
"Ya udah entar tas loe gue bawain naik. Terus barang gue bawain turun, entar barangnya si Ina biar gue bawa turun sekalian tuh bocah."
"Iya bang."
"Huft"
Terdengar helaan nafas dari Bang Ardan. Aku cukup tau, masalahku dan Ina cukup membuatnya pusing juga. Bagaimanapun dia terlihat tidak enak denganku, namun dia tau juga adiknya tidak seperti yang aku pikirkan, namun dia menghargai juga kekecewaanku.
"Abang biasa aja sama Radit. Masalah ini murni masalah Radit dan Ina. Biar kami yang selesaikan dengan dewasa. Kami cukup besar untuk menghandle perasaan kami ini."
"Masalah ini bikin rumit liburan kita."
"Tapi akhirnya apa yang ingin Radit tau, akhirnya terjawab, dan Ina pun mungkin lega sudah mengatakan alasannya. Mungkin sudah jalannya, dan bagaimanapun, alasan putus yang tidak didasari kejelasan pada awalnya, akhirnya akan membawa kekecewaan tersendiri cepat atau lambat. Abang tenang aja. Radit cukup dewasa kok."
"Sekali lagi gue minta maaf atas apa yang dilakuin adik gue dit."
"It's ok Bang. Radit ngerti posisi abang."
Kami berdiam, bang Radit melakukan cek ulang barang-barang yang mungkin tertinggal, sementara aku asyik melihat pemandangan pantai dan mencoba menenangkan segala emosiku.
10 menit, Bang Ardan sudah dibawah bersama Ina. Ina terlihat muram, dan matanya sedikit terlihat bengkak. Meskipun aku tahu, dia sudah berusaha untuk membuatnya tidak terlihat.
Setelah dibawah, Kak Ardan segera mengurus check out kamar miliknya. Dan apabila ada yang ketinggalan maka bisa dibawakan ke kamarku. Sedangkan aku serah terima kunci dengan Ina.
"Makasih ya Kak Radit."
"Sama-sama. Nanti kalau ada yang ketinggalan akan kakak bawakan ke kantor besok."
"Iya. Terima kasih."
"Yuk. Sarapan dulu lah."
Kami sarapan sebentar sebelum pergi, karena ternyata kami masih bisa mengejar waktu breakfast hotel. Setelah itu kami pergi menuju Pantai Pandawa dan mungkin beberapa spot lainnya sebelum menuju ke beach club yang sedang trend saat ini itu.
Banyak foto yang kami abadikan, baik pemandangan foto bersama. Meski kaku aku mencoba untuk seluwes mungkin menghadapi Ina. Agar tidak mengganggu liburan kami.
__ADS_1
Dan sampailah kami di beach club. Sudah melewati makan siang. Jadi kami disini makan siang sekaligus menikmati sunset nantinya.
Cukup mahal untuk bisa disini. Namun kami sangat menikmati view yang ada. Aku berenang, begitupun Kak Ardan. Ina juga berenang, dengan baju renang two piece meskipun tidak bikini sekali. Tapi cukup terbuka untukku yang memang tidak pernah melihat Ina berpakaian minim. Hampir saja mataku tidak bisa berpaling. Namun akhirnya aku memilih untuk menikmati view di kolam dan melihat ke arah laut yang luas.
"Kak"
Itu suara Ina. Dia menghampiriku. Aku menoleh dan mengulurkan tangan agar mendekat padaku.
"Ada apa?"
Dia diam dan mulai melihat ke arah laut. Kami diam. Mungkin ini saatnya menyelesaikan masalah kami. Ini berat buatku dan Ina.
"Maafin Ina. Dulu Ina tidak pernah memikirkan perasaan kakak. Yang Ina tahu, Ina pengen mematahkan hati kakak, dan membuat kakak berpaling dari Ina. Dan melihat Rika."
"Tapi nyatanya tidak seperti itu."
"Karena itu Ina minta maaf, sudah sangat kekanakan dulu. Ina bilang, kalau Ina sayang kakak, cinta kakak. Tapi buktinya Ina benar-benar menyakiti kakak. Bukan dengan alasan yang Ina sampaikan, tapi karena justru alasan sebenarnya lah yang membuat semakin sakit. Ina tidak bermaksud membuat kakak seperti Trophy untuk kami. Ina dulu hanya memikirkan, biar Ina yang memendam rasa sakit, asal orang yang Ina sayang dan cintai mendapatkan cinta baru dan cinta yang diidamkan."
"Apa kamu masih ingin aku dengan Rika, Na?"
"Ina gak tau, Ina cukup tau bahwa itu bukan ranah untuk Ina ikut campur. Itu semua terserah kakak. Tapi Ina berharap kakak merasa bahwa Rika lah yang memang pantas buat kakak. Bukan karena alasan yang lain. Dan kakak juga mencintai Rika dengan tulus. Disini Ina cuma pengen minta maaf atas apa yang Ina lakukan."
"Lupain Na. Itu masa lalu. Kakak memang kecewa, tapi bukankah harusnya kakak sudah kecewa dengan alasan yang dahulu, sudah tidak masanya kakak masih mengungkit alasan 7 tahun putusnya kita. Kakak akan mencoba berdamai. Tapi kakak memaafkan kamu. Mari kita di kantor berpartner sebagai teman yang baik, dan saling mendukung dalam pekerjaan."
"Terima kasih kak."
"Sama-sama. Cheers?"
"Cheers"
Kami bersulang sambil melihat sunset.
Matahari, tenggelam lah
Bawalah luka hati masa lalu yang menyala
Dan esok bawakan perdamaian baru dalam hatiku.
--- --- --- --- --- --- --- ---
Sudah dimaafin guys. Dewasa ya?
Tapi yang namanya kecewa gak mudah hilang dalam sekejap. Biarkan Radit berdamai dengan caranya. Dan kalian nikmati konflik barunya.
Klik like kalau kalian suka. Jangan lupa buat komentarin apapun tentang mereka. Yang berfaedah. Kalau ada typo tolong dimaafkan. Cuma aku baca sekali. Demi ini demi kalian dan ngejar bab-bab yang gak aku posting sekitar dua mingguan kemarin.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah doain kesehatan ku. I luuvv kalian semua.
See you…