
Saat aku kembali untuk mengambil laptopku yang tertinggal aku melihat suatu pemandangan yang sedikit melukai hatiku.
Ina dengan pacarnya. Aku tidak menyangka secepat ini harus bertemu pacar Ina. Ganteng,memang Ina tidak salah pilih. Terlihat seperti eksekutif muda kebanyakan dan memperhatikan penampilan meskipun memakai seragam. Seragam dengan warna khas provider telekomunikasi terkemuka dengan logo pada dadanya.
Aku tersenyum kecut. Bagaimana caraku untuk membuat Ina memperhatikanku bila seperti ini. Bila saat kuliah aku merasa patah hati dan hanya berkutat pada pekerjaan dan kuliah. Namun kini setelah bertemu Ina aku menemukan lagi hidupku, tapi ternyata hambatan yang perlu aku singkirkan lumayan besar.
Bila kata orang lain banyak sekali perempuan disana kenapa harus mengincar mantan yang sudah punya kekasih, mungkin mereka belum tahu rasanya adanya ganjalan hati.
Apa aku harus berjalan pelan dulu dan memastikan bahwa Ina benar-benar mencintai pacarnya dan sudah melupakanku?
***
Setelah mereka pergi aku segera masuk dan mengambil laptop yang tertinggal. Laptop ini adalah aset. Bukan karena aku tidak mampu membeli lagi, tetapi meski ini adalah laptop cadangan, laptop ini cukup berkesan karena merupakan pemberian Simon. Dia selalu berkata, bahwa kami tidak boleh membawa perangkat utama kami karena bila terjadi masalah maka semua yang sudah kami kerjakan akan sia-sia.
Aku segera pulang setelah mengambil barangku, saat di mobil aku melihat ada telepon masuk dari nomor yang tidak ku kenal.
"Halo"
"Kak Radit"
"Siapa ini?" Tanyaku. Aku sebenarnya tahu siapa yang menelponku hanya saja aku tak ingin Gina tahu bahwa aku mengingat suaranya.
"Gina"
"Oh kamu, ada apa? Kakak lagi nyetir nih. Telepon nanti saja ya pas kakak di rumah."
"Yaah, gak pake earphone?" Tanya Gina. Tentu saja pakai. Mana mungkin aku tidak pakai tapi bila aku tidak berbohong dia akan melanjutkan ngobrol hingga sampai rumah.
"Nggak. Kakak lupa bawa earphone bluetooth kakak. Udah dulu ya Gin. Ribet nih."
"Ia kak. Nanti Gina telepon."
"Oke."
Done. Bagaimana caraku selama ini menghindari para perempuan, beginilah. Aku terkesan dingin kalau mereka bilang. Bahkan akan lebih kejam bila pada seseorang yang aku anggap agresif. Aku tidak suka dipaksa bila aku tidak mau, dan aku akan berjuang sepenuh hati bila aku tertarik. Itulah kenapa aku berhasil dalam sekolahku. Tidak mudah untuk lulus dari MIT. Bila kalian pikir juara umum se Indonesia Raya ini membanggakan maka bila kalian bisa lulus dengan nilai terbaik dan dalam jangka waktu secepat-cepatnya dan tetap memiliki kehidupan itu baru membanggakan. Jangan pernah membanggakan kalian menjadi siswa berprestasi saat kalian di kampus terbaik, itu akan terlihat bodoh karena banyak orang yang terbaik juga disana.
Aku sampai dirumah 30 menit kemudian. Sudah ada papa, mama dan kak Anjani.
__ADS_1
Aku datang dan salim pada semua. Bahkan pada kakakku. Mama menekankan bahwa meskipun kak Anjani muda dia tetap berlabel orang yang lebih tua jadi mama tetap memintaku salim.
"Baru pulang Kal?"
"Nggak, mestinya dari tadi tapi laptop Kalea ketinggalan jadi ambil dulu. Tadi habis meeting di luar."
"Gimana kerja di Kantor?"
"Biasa aja."
"Gimana biasa aja? Kamu kan pengangguran selama ini?" Sela Kak Anjani
"Loe aja yang gak ngerti kak. Gue di US juga kerja kali. Malah di perusahaan yang lebih gede. Gaji gue juga dollar. Uang gaji loe aja gak seberapa ketimbang uang gaji pokok gue belum bonus."
"Masak?"
"Sudah-sudah, gak perlu dibahas kayak gitu. Anjani, adik kamu emang kerja dari waktu kuliah. Papa aja udah gak kasih dia uang jajan sejak dia lulus S1. Dan kamu Kal, katanya gak mau sombong?" Papa menengahi adu argumen ku dengan Kak Anjani.
"Ia Pa" Kata kak Anjani pada papa.
"Maaf kak" kataku pada kak Anjani.
"Maaf juga Kal"
Beginilah keluarga kami. Saling meminta maaf secara langsung supaya tidak ada dendam atau dongkol.
Banyak diantara kita yang saling mencoba melupakan masalah tanpa ada kata permintaan maaf. Katanya sudah lupa, tapi ketika ada masalah baru yang lama akan terungkit. Betul kan?
"Berarti loe bisa sumbang Catering makanan gue dong Kal kalau uang loe banyak?" Ledek Anjani
"Kalau gue bayarin Catering loe, buat apa tabungan laki loe yang katanya Tajir? Gue bayarin Prewed loe. Udah prewed belum?"
"Belum sih. Masih cari."
"Ntar gue coba tanya temen gue. Kayaknya kemaren Lingga bilang dia jadi Fotografer gitu. Lumayan laris juga. Si Alvin."
"Temen loe Alvin?"
"Ia."
__ADS_1
"Masak terkenal sih Kal?"
"Gak tau, katanya Alvin D.E.C lumayan terkenal gegara menang lomba fotografi gitu dan dia beberapa kali ikut pameran."
"Alvin D.E.C? Gila? Itu temen loe? Ia itu terkenal banget Kal. Tapi itu mahal banget. Terus padat banget juga jadwalnya."
"Kalau misal nanti bisa, loe dan laki loe kudu sinkronin jadwal sama dia. Jangan bikin dia yang sinkronin jadwal kalian berdua. Mau gak loe?"
"Gue bilang dulu,nanti loe kabarin."
"Oke. Gue masuk dulu. Mau tidur. Besok jam 2 dini hari gue mau VC sama klien."
"Ya sudah, tapi kamu makan dulu Kal." Ingat Papa
"Ia Pa."
"Masak sih Pa anak kamu itu kerja beneran?" Kata mama samar
"Lha, mama selama ini gak percaya kalau Kalea kerja. Papa kan juga udah cerita mama kalau Papa udah gak kasih Kalea uang jajan. Bahkan uang saku Kalea waktu masih S1 aja dia simpan di rekening Indonesia nya. Paling masih utuh sampai sekarang."
"Anjani gak nyangka deh Pa."
"Kan Papa juga udah bilang ke Anjani, Anjani kuliah Arsitek aja sama kayak Papa, paling gak di Desain Interiornya lah, karena kan jaman sekarang orang pasti butuh saat bangun rumah, biar rumah mereka lebih optimal. Di bidang kreatif sekarang enak kali kak, banyak pekerjaan sampingannya, jadi gak mengandalkan gaji dari perusahaan."
"Ia pa. Tapi anjani gak suka bidang itu."
"Ia ia."
Setelah makan aku tidak mendengar perbincangan mereka tentangku. Aku pun benar-benar segera mandi dan tidur karena pukul 1 aku harus siap untuk persentasi. Beginilah nasib laki-laki yang ingin bisa mapan.
--- --- --- --- --- --- --- --- ---
Jangan lupa like serta kasih komentar kalian kalau suka.
See you..
__ADS_1