
Setelah aku mengantarkan Ina kini saatnya aku mengantar Rika.
Rika yang ternyata teman baik Ina dan adik kelasku saat SMP. Tujuh tahun yang lalu dia menyatakan cinta padaku. Namun aku tidak bisa menerimanya karena aku memang tidak tertarik padanya. Siapa yang menyangka setalah tidak bertemu Tujuh tahun dia sudah menjadi wanita yang bisa dibilang menawan. Mungkin pekerjaannya juga yang membuat dia agar bisa merawat diri dan berpenampilan menarik.
“Kakak udah lama kerja di Tempat Tari kerja?”
“Belum. Baru sekitar satu bulan. Kenapa emang?”
“Nggak. Bukan apa-apa. Cuma aneh kok bisa ketemu.”
“Emang kebetulan kok. Kebetulan perusahaan itu punya teman kakak. Jadi waktu teman kakak bakal kuliah lagi di US kakak diminta buat pegang dulu sampai dia lulus. Mungkin 2-3 tahun lagi dia balik.”
“oh gitu..”
“Ia. Lagian Ina juga udah lama kerja disana. Katanya sejak dia lulus kuliah. Jadi emang mungkin udah jodoh ketemu.”
“Enak dong, bisa CLBK nanti.”
“hahaha… emang ada CLBK itu?”
“Adalah”
“Mana sih Rik, rumah kamu?”
“Itu di ujung gang kan jalan besar, belok kanan maju dikit sudah sampai.”
“owh. Oke.”
“Kak Arka udah punya pacar?”
“Belum”
“Kenapa?”
“Ya belum ada yang cocok aja Rik. Kemarin waktu kuliah kakak juga konsen banget buat kuliah dan kerja sambilan. Gimanapun kakak kan laki-laki harus serius sekolah serius kuliah supaya bisa menyejahterakan keluarga nantinya.”
“Kak Arka emang beda. Dari dulu sampai sekarang. Dulu selalu jadi juara sama selalu kakak OSIS favorit. Sekarang jadi pacar idaman banget.”
“Hahaha.. kamu bisa aja.”
“Kapan-kapan Rika ajak Kak Arka nongkrong boleh?”
Ternyata gadis ini masih sama seperti dulu. Tapi saat ini dengan segala pengalamannya dia berusaha menunjukkan sisi menariknya juga selain bersikap agresif.
“Boleh. Nanti ajak Ina.”
“Yah, padahal Rika pengen ajak kakak doing.”
“Hahaha… Kakak punya Handphone kan?”
“Hahaha… ngomong apaan sih Rik?”
“Ya kali kakak kalau dimintai nomor handphone mau ngelak gak punya.”
“Ya punya lah.”
__ADS_1
“Minta ya kak.”
“Ia. Kamu catat. Tapi sebelumnya yang mana rumah kamu?”
“Itu yang pagar Hitam tapi ada kak bola warna Pink.”
“Oke”
Kami sudah sampai rumah Rika. Sedikit lama karena sebelumnya harus putar balik dari rumah Ina dan melaju pelan saat berada di Gang.
“Nomor kakak?”
“08x-xxx-xxx-x74”
“Makasih ya kak. Ini Rika miscall.”
♫♫
When she was just a girl she expected the world
But it flew away from her reach
So she ran away in her sleep and dreamed of
Para-para-paradise, para-para-paradise, para-para-paradise
♫♫
Aku segera melihat ponselku.
“Ok kakak simpan ya”
“Ia. Makasih ya Kak. Kapan-kapan ketemu. Tetap keep in contact ya Kak.”
“Ia. Hati-hati ya.”
“Kakak juga hati-hati.”
Setelah saling mengatakan hati-hati dan Rika turun aku langsung melaju pulang.
Sebenarnya saat aku makan tadi, aku ingin menanyakan alasan mengapa dulu Ina meminta untuk putus. Tapi ternyata karena bertemu dengan Rika, aku tidak jadi menanyakan dan mungkin memang belum waktunya aku untuk tau.
Ternyata bukan hal yang mudah untuk mengungkit masa lalu. Selain waktu apakah yang kita Tanya mau membuka luka lama juga jadi faktor.
Dua puluh lima menit adalah waktu yang aku tempuh untuk sampai rumah.
Kali ini rumah sudah seperti kapal pecah. Karena hanya tinggal dua minggu lagi pesta pernikahan Kak Anjani digelar.
Aku juga sudah memberikan kado untuk pernikahan mereka. Yaitu perjalanan ke Derawan selama satu minggu. Sebenarnya tidak sampai satu minggu hanya saja itu termasuk perjalanan ke Kalimantan dan beristirahat sebelum menempuh perjalanan ke Derawan.
__ADS_1
Kak Anjani menyukai kadoku. Tentu saja. Siapa yang tidak suka mendapat paket perjalanan senilai hampir sepuluh juta. Sebenarnya aku bisa saja memberi Kak Anjani uang tunai, namun itu tidak akan membuat kenangan. Dengan memberi paket Prewedding dan Paket Perjalanan untuk Honeymoon maka itu akan menjadi kenangan yang indah.
Aku melihat Kak Anjani sedang membungkus Souvenir ke dalam kotak. Entah apa yang ada dipikirannya tidak memesan semua langsung. Malah memesan secara terpisah dan menghandle semua sendiri dengan dibantu asisten di rumah. Ini membuatku belajar, bahwa aku akan memastikan calon istriku nanti tidak akan repot-repot seperti Kak Anjani. Aku akan memastikan souvenir pernikahan kami sudah beres dan dipack dengan baik dan rapi sehingga tinggal membagikan saat di Gedung. Kami menyewa sebuah Gedung serbaguna yang ada di antara Rumah kami dan Bang Wibi. Termasuk gedung yang bagus dan favorit orang-orang yang ingin melangsungkan pernikahan. Catering juga sudah beres. Untuk Catering mama dan papa yang memilihkan. Karena bagaimanapun Catering adalah hal yang krusial. Seindah apapun sebuah pernikahan, bila catering buruk maka akan cacat semua pernikahan itu. Bahkan demi agar tidak kekurangan makanan, Papa dan Mama memesan lebih banyak dari yang dipesan orang lain.
“Baru Pulang Kal?”
“Ia. Kakak lagi apa?”
“Bungkusin Souvenir?”
“Kenapa gak pesan langsung jadi semua sih?”
“Kakak pengen pastiin semua bagus dan gak ada cacat. Lalu cukup.”
“Tinggal pesan yang paling bagus dan dilebihi jumlahnya kan?”
“Gapapa. Kakak juga harus berhemat. Pernikahan bukan hanya sehari, jadi meskipun ada uang kami juga harus memikirkan kehidupan setelah pesta pernikahan. Kami gak mungkin menghabiskan uang hanya untuk Pesta. Sedangkan perlu waktu seumur hidup untuk menjalani pernikahan.”
Apa yang dikatakan oleh Kak Anjani ada benarnya. Mereka tidak bisa menghabiskan tabungan yang mereka kumpulkan hanya untuk sebuah pesta. Jadi meskipun bisa kakak harus tetap berhemat. Dan sebisa mungkin tidak membuat repot Mama Papa mereka masing-masing.
Ternyata pernikahan tidak semudah itu bahkan untuk tahap awalnya. Banyak hal yang harus dipikirkan. Dan ternyata bagi pihak perempuan semua tetap saja sulit, sehingga pertengkaran-pertengkaran tentang pernikahan mereka juga terjadi. Bagi kami kaum laki-laki, kami ingin semua simple dan kami tidak perlu repot-repot dan terlalu banyak waktu mengurusi semua. Sedangkan bagi pihak mempelai perempuan, mereka menginginkan semua sebagus mungkin agar tidak mempermalukan keluarga, dan memang meskipun sudah dibantu oleh WO tetap saja ada bagian yang perlu ada sentuhan dari pasangan yang akan menikah.
“Kalea mandi dulu ya. Nanti Kalea bantu. Ini ada Burger. Kakak bisa makan. Buat Mbak sama Bibi bisa makan juga. Kalea belikan juga kok.”
“Makasih ya Kal. Ayo makan dulu.”
Setelah menyerahkan makanan aku segera naik untuk mandi. Rasanya hari ini aku akan lembur membantu Kak Anjani bukan lembur bekerja. Akh sudahlah memang mungkin harus mengerjakan yang lain selain kerjaan.
Aku menikmati waktu mandi dan setelah itu memakai pakaian dinasku di rumah. Sebuah kaos dalaman tipis dan celana pendek pas di atas lutut. Sesuatu yang cukup nyaman untuk dipakai di rumah dan dipakai bergerak.
Setelah itu aku turun dan membantu Kak Anjani serta yang lain untuk membungkus Souvenir. Sementara Mama Papa, sudah dari kemarin ke Jogja untuk menemui keluarga yang lain agar bisa ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Kak Anjani.
Kami dari keluarga Jawa sehingga saat aka nada hajat, selain memberi undangan kami juga harus mengundang secara langsung bahwa kami menginginkan mereka datang sebagi keluarga dan membantu sedikit. Yah meskipun semua sudah siap. Tapi tetap saja semua juga perlu ada kata-kata meminta bantuan agar terkesan lebih sopan.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Gimana? Semoga kalian suka. Semoga tidak terlalu mengecewakan ya.
Kasih like dan juga komen kalau kalian suka.
Tentang Alinda Season 2 akan saya beri tahu saat cerita ini sudah selesai. Masih lama dong? Ia masih lama emang. Karena menulis disela aktivitas yang lain itu juga tidak mudah. Cukup capek bila harus mengerjakan beberapa karya dalam satu waktu. Jadi mohon ditunggu. Oke?
See You…
__ADS_1