
Hari ini adalah hari Sabtu, dan hari ini
adalah hari pesta pernikahan Kak Anjani. Sebenarnya aku sedang bingung karena
aku belum juga bilang ke Varo kalau hari ini ada undangan pernikahan. Selain
karena kesibukan pekerjaanku, aku juga sempat memikirkan soal apakah alasan
putusnya aku dengan kak Radit perlu ku utarakan.
Namun saat ini sangat mendesak. Tidak
mungkin aku akan pergi ke Pernikahan Kak Anjani tanpa bilang ke Varo. Tapi
seandainya nanti Varo tidak bisa, maka aku akan mengajak Kak Ardan kesana. Supaya
aku tidak perlu sendirian. Karena akan menjadi canggung sekali bila sendirian
di sebuah pesta pernikahan. Apalagi dalam kasusku, pernikahan ini bukan
pernikahan teman yang meskipun datang sendiri tetap akan ada yang kukenal di
lokasi. Hanya ada Kak Radit dan keluarga yang mengenalku disana. Sementara
mereka adalah tuan rumah yang pastinya sangat sibuk.
Aku memutuskan untuk menelpon Varo.
Tuut.. Tuut.. Tuut..
“Halo” terdengar suara khas Varo yang sedang
bangun tidur.
“Yang”
“hem”
“Kamu masih tidur?”
“Ia. Ada apa Sin?”
“Hari ini ada acara gak?”
“Nanti sore mau jemput sepupu di Bandara
kan.”
“Jam berapa?”
“Berangkat jam 4. Kalau gak salah dia
pesawatnya landing jam 6”
“yaah”
“Kenapa?”
“Aku lupa bilang kamu hari ini ada pesta
pernikahan temanku.”
“Kok dadakan?”
“Nggak dadakan sih, akunya lupa kasih tahu
kamu. Kamu tahu sendiri aku kan lagi sibuk-sibuknya ngawasin proyek sejauh mana
pembangunan dan urus proyek lain.”
“Terus gimana?”
“Ya terpaksa berangkat sendiri kalau kamu
gak bisa?”
“Gapapa berangkat sendiri? Berani?”
“Aku coba ajak Kak Ardan aja. Nanti kalau
gak bisa baru berangkat sendiri.”
“Ia. Kamu ajak kak Ardan dulu. Maaf ya gak
bisa nemenin.”
“Iya gapapa. Yaudah, aku ngomong kakak dulu.
Kamu istirahat lagi aja.”
“Iya”
Ternyata Varo tidak bisa menemani. Lalu aku
harus bagaimana? Apa aku harus coba buat ajak Kak Ardan sesuai omonganku dengan
Varo.
Tok Tok Tok
“Kak”
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
“Kak. Kak Ardan”
Panggil ku lagi sambil mengetuk pintu,
mungkin dia masih tidur. Jangan tanya mengapa kami para pekerja selalu asik
bangun siang saat hari libur. Itu karena setiap hari kami harus berpacu dengan
macet dan pekerjaan sehingga saat hari libur tidur juga merupakan surga untuk
kami.
Saat aku akan berbalik menuju kamarku, aku
mendengar pintu dibuka.
“Ada apa dek?”
“Kakak nanti sore ada acara?”
“Ngapel termasuk acara gak?”
“Ya termasuk sih.”
“Yasudah kakak ada acara kalau gitu.”
“Ikh, bukan gitu. Ada acara lain gak selain
ngapel rutin?”
“Gak tahu mbakmu itu.”
Oia, Kak Ardan punya pacar. Namanya Mbak
Erlita. Mereka sudah pacaran sekitar 2 tahunan mungkin. Kakakku ini lumayan
sering ganti-ganti pacar. Bukan yang tiap bulan ganti tapi sudah lama tapi
__ADS_1
tahu-tahu putus. Entah kenapa.
“Yah, kok kakak jawabnya gitu?”
“Bentar”
Setelah berbicara kata sebentar kakak masuk
kamar ternyata buat ambil ponselnya.
“Yang, ni Ina mau ngomong.” Setelah
berbicara itu kak Ardan mengulurkan ponselnya yang sudah tersambung dengan Mbak
Erlita.
“Halo Mbak”
“Iya Na, ada apa cari mbak?”
“Mbak ada acara gak selain diapelin Kak
Ardan?”
“Kayaknya nggak. Cuma kencan biasa aja.
Kenapa?”
“Mbak, Kak Ardannya buat aku ya malam ini.
Ina ada undangan pernikahan kakaknya mantan Ina. Varo gak bisa nemenin Ina.
Boleh ya?”
“Owh, ya sudah gapapa. Daripada pergi
sendiri minta antar Mas Ardan aja.”
“Makasih ya Mbak.”
“Sama-sama. Nanti kalian hati-hati ya
berangkatnya.”
“Iya.”
“Mana Masmu Na?”
“Bentar. Ina kasihkan Kak Ardan dulu.”
“Kak, Mbak mau ngomong. Udah di-acc nyulik
kakak.”
“Halo Yang”
Kak Ardan langsung menutup pintu begitu aku
selesai ngomong. Akh, gak sopan. Tapi gapapa lah ketimbang dia gak jadi nemenin
ke Nikahan Kak Anjani.
***
Setelah dari Kak Ardan aku turun untuk makan
pagi yang kesiangan. Ia sekarang sudah pukul 11 dan aku baru mau makan pagi.
Hari ini mama memasak Rawon dengan Empal
goreng ada juga telur asin namun aku bukan pecinta telur asin. Hanya Papa, Mama
Oiya, tidak lupa toge pendek dan sambal. Meskipun ada asisten, mama selalu
usahakan masak sendiri kecuali sedang sakit atau pergi. Jadi aku dan
kakak-kakak ku sudah terbiasa makan masakan mama. Hari ini harusnya Lano akan
datang kalau mama masak Rawon. Iya keponakanku itu paling suka Rawon masakan
neneknya.
Kak Santi kakakku yang pertama sebenarnya
tinggal tidak jauh dari sini. Kak Santi tinggal di Cipayung sehingga hanya
perlu satu jam untuk sampai. Namun Kak Santi adalah tipe Ibu rumah tangga yang
tidak akan pergi tanpa suaminya. Karena dia selalu bilang, Suaminya adalah
orang terpenting yang harus dia jaga selain anak-anaknya. Ia Kak Santi sudah
memiliki 2 anak. Yaitu Melano dan Melani. Melano saat ini sudah sekolah kelas 3
SD sedangkan Melani masih di bangku Taman Kanak-Kanak. Kak Santi rela tidak
bekerja lagi karena Kak Rendy mau istrinya hanya sebagai Ibu Rumah Tangga saja.
Untung saja Kak Rendy selain bekerja di sebuah perusahaan Manufakturing besar
juga memiliki usaha lainnya yaitu café yang sudah berjalan sehingga Kak Santi
hanya membantu memeriksa keuangan dan standart pelayanan yang ada.
Semua perempuan di keluargaku adalah seorang
ibu rumah tangga, sehingga aku sebenarnya juga ingin menjadi seperti mereka,
namun pekerjaanku saat ini amat sangat aku sukai, sehingga ku masih ragu untuk
melepaskannya atau menjanjikan untuk melepasnya. Meskipun iya, ada keinginan
untuk menjadi Ibu Rumah Tangga.
***
Saat makan aku melihat Kak Ardan turun
menuju meja makan. “Mama masak apa?”
“Masakan kesukaan keponakan kamu.”
“Rawon?”
“Iyup.”
Kak Ardan segera mengambil piring, kami
sekeluarga memang suka rawon bikinan mama. Bila papa sudah benar-benar ingin
pension, aku ingin mereka membuka depot masakan jawa timur. Karena mama pintar
sekali masak makanan khas mereka.
“Nanti jam berapa dek?”
“Undangannya jam 6 sampai jam 9 Kak”
“Dimana?”
“Di Gedung XXX”
__ADS_1
“Oh, Yasudah, Nanti kita berangkat jam 6.
Paling lambat kita sampai jam setengah Delapan, nanti habis itu kita malam
mingguan yuk.”
“Kemana?”
“Enaknya kemana?”
“Ke Café aja lah kalau gitu.”
“Oke deh”
Kami makan dengan hikmat sebelum akhirnya
mendengar ada tamu agung yang sudah ditunggu-tunggu datang.
“Nenek”
“Nenek pergi”
“Auntie, Uncle”
“Salim dulu sini Bang”
Keponakan-keponakanku mendatangi kami dan
salim. Lano mengajari adiknya Lani juga agar salim dengan kami. Setelah
bersih-bersih badan, mereka lalu makan siang dan kami menemani mereka ngobrol
tentang sekolah mereka. Sedangkan ayah dan Ibu mereka hanya melihat dan
membenarkan jika salah sambil bersantai di ruang keluarga. Kami menemani mereka
hingga pukul 1 siang. Karena mereka harus tidur siang. Sebenarnya mereka
inginnya tidak tidur siang, namun peraturan tetaplah peraturan, yaitu tidur
siang. Mereka pasti akan merindukan tidur siang saat mereka bekerja nanti.
***
Pukul 17.30 aku sudah siap. Hanya tinggal
memakai sepatu. Sambil menunggu Kak Ardan yang sedang mandi setelah mencuci
mobil dengan Lano dan Lani.
“Mau kemana dek?” Tanya Bang Rendy.
“Ke nikahan teman bang”
“Sama Varo?”
“Nggak.”
“Sendiri?”
“Sama Kak Ardan kok.”
“Ya sudah. Kalau sendiri jangan malam-malam
berangkatnya.”
“Nggak kok. Tadi untung aja Mbak Erlita
ngizinin Kak Ardan nemenin Ina.”
“Ya pasti boleh lah dek. Abang juga pasti
antar adek-adek abang kalau misal pergi sendiri kalau abang di rumah dulu.”
“Kak Santi mana bang?”
“Nemenin mama ke minimarket sama
ponakan-ponakan kamu.”
“Owh”
“Papa?”
“Di kamar mandi mungkin.”
Aku tidak terlalu dekat dengan Bang Rendy,
bukan tidak suka, tapi memang canggung. Kami mengobrol tapi kadang juga
kehabisan obrolan. Tapi kedatangan Kak Ardan menyelamatkan kecanggungan ini.
“Wah tumben ganteng Kak.”
“Nanti kalau kakak nggembel kamu malu.”
“Ya jangan nggembel juga dong kak”
“Makanya kakak dandan dikit.”
“Berangkat sekarang?”
“Mama Papa mana?”
“Mama sama Kak Santi ke minimarket depan,
kalau papa di kamar.”
“Tunggu mama balik aja deh dek. Sekalian
pamit. Khan kita pulang agak malam.”
Kami mengobrol sambil menunggu mama. Sambil
menunggu papa akhirnya keluar kamar dan ikut mengobrol. Setelah mama datang
kami pamit kepada semua termasuk Lano dan Lani yang titip Fast Food yang ada
mainannya. Namun karena larangan dari sang ayah, kami akhirnya mengatakan
tidak. Dan akan berjanji membawakan kue saja sebagai gantinya.
Ternyata perlu waktu satu jam lebih sedikit
untuk sampai. Setelah parkir kami turun dan menuju venue. Mengisi buku tamu dan
berfoto di fotobooth yang sudah disediakan. Namun saat berjalan kearah
pelaminan, aku melihat Kak Radit bersama dengan seseorang.
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Masih diatur supaya jalannya pas ya. Maaf
kalau saya tipe penulis yang tidak memberi konflik yang banyak.
Klik Like dan tinggalkan komentar kalian
kalau kalian suka.
See You…
__ADS_1