SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #21 SIntarina Dewi Safitri


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu, dan hari ini


adalah hari pesta pernikahan Kak Anjani. Sebenarnya aku sedang bingung karena


aku belum juga bilang ke Varo kalau hari ini ada undangan pernikahan. Selain


karena kesibukan pekerjaanku, aku juga sempat memikirkan soal apakah alasan


putusnya aku dengan kak Radit perlu ku utarakan.


Namun saat ini sangat mendesak. Tidak


mungkin aku akan pergi ke Pernikahan Kak Anjani tanpa bilang ke Varo. Tapi


seandainya nanti Varo tidak bisa, maka aku akan mengajak Kak Ardan kesana. Supaya


aku tidak perlu sendirian. Karena akan menjadi canggung sekali bila sendirian


di sebuah pesta pernikahan. Apalagi dalam kasusku, pernikahan ini bukan


pernikahan teman yang meskipun datang sendiri tetap akan ada yang kukenal di


lokasi. Hanya ada Kak Radit dan keluarga yang mengenalku disana. Sementara


mereka adalah tuan rumah yang pastinya sangat sibuk.


Aku memutuskan untuk menelpon Varo.


Tuut.. Tuut.. Tuut..


“Halo” terdengar suara khas Varo yang sedang


bangun tidur.


“Yang”


“hem”


“Kamu masih tidur?”


“Ia. Ada apa Sin?”


“Hari ini ada acara gak?”


“Nanti sore mau jemput sepupu di Bandara


kan.”


“Jam berapa?”


“Berangkat jam 4. Kalau gak salah dia


pesawatnya landing jam 6”


“yaah”


“Kenapa?”


“Aku lupa bilang kamu hari ini ada pesta


pernikahan temanku.”


“Kok dadakan?”


“Nggak dadakan sih, akunya lupa kasih tahu


kamu. Kamu tahu sendiri aku kan lagi sibuk-sibuknya ngawasin proyek sejauh mana


pembangunan dan urus proyek lain.”


“Terus gimana?”


“Ya terpaksa berangkat sendiri kalau kamu


gak bisa?”


“Gapapa berangkat sendiri? Berani?”


“Aku coba ajak Kak Ardan aja. Nanti kalau


gak bisa baru berangkat sendiri.”


“Ia. Kamu ajak kak Ardan dulu. Maaf ya gak


bisa nemenin.”


“Iya gapapa. Yaudah, aku ngomong kakak dulu.


Kamu istirahat lagi aja.”


“Iya”


Ternyata Varo tidak bisa menemani. Lalu aku


harus bagaimana? Apa aku harus coba buat ajak Kak Ardan sesuai omonganku dengan


Varo.


Tok Tok Tok


“Kak”


Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.


“Kak. Kak Ardan”


Panggil ku lagi sambil mengetuk pintu,


mungkin dia masih tidur. Jangan tanya mengapa kami para pekerja selalu asik


bangun siang saat hari libur. Itu karena setiap hari kami harus berpacu dengan


macet dan pekerjaan sehingga saat hari libur tidur juga merupakan surga untuk


kami.


Saat aku akan berbalik menuju kamarku, aku


mendengar pintu dibuka.


“Ada apa dek?”


“Kakak nanti sore ada acara?”


“Ngapel termasuk acara gak?”


“Ya termasuk sih.”


“Yasudah kakak ada acara kalau gitu.”


“Ikh, bukan gitu. Ada acara lain gak selain


ngapel rutin?”


“Gak tahu mbakmu itu.”


Oia, Kak Ardan punya pacar. Namanya Mbak


Erlita. Mereka sudah pacaran sekitar 2 tahunan mungkin. Kakakku ini lumayan


sering ganti-ganti pacar. Bukan yang tiap bulan ganti tapi sudah lama tapi

__ADS_1


tahu-tahu putus. Entah kenapa.


“Yah, kok kakak jawabnya gitu?”


“Bentar”


Setelah berbicara kata sebentar kakak masuk


kamar ternyata buat ambil ponselnya.


“Yang, ni Ina mau ngomong.” Setelah


berbicara itu kak Ardan mengulurkan ponselnya yang sudah tersambung dengan Mbak


Erlita.


“Halo Mbak”


“Iya Na, ada apa cari mbak?”


“Mbak ada acara gak selain diapelin Kak


Ardan?”


“Kayaknya nggak. Cuma kencan biasa aja.


Kenapa?”


“Mbak, Kak Ardannya buat aku ya malam ini.


Ina ada undangan pernikahan kakaknya mantan Ina. Varo gak bisa nemenin Ina.


Boleh ya?”


“Owh, ya sudah gapapa. Daripada pergi


sendiri minta antar Mas Ardan aja.”


“Makasih ya Mbak.”


“Sama-sama. Nanti kalian hati-hati ya


berangkatnya.”


“Iya.”


“Mana Masmu Na?”


“Bentar. Ina kasihkan Kak Ardan dulu.”


“Kak, Mbak mau ngomong. Udah di-acc nyulik


kakak.”


“Halo Yang”


Kak Ardan langsung menutup pintu begitu aku


selesai ngomong. Akh, gak sopan. Tapi gapapa lah ketimbang dia gak jadi nemenin


ke Nikahan Kak Anjani.


***


Setelah dari Kak Ardan aku turun untuk makan


pagi yang kesiangan. Ia sekarang sudah pukul 11 dan aku baru mau makan pagi.


Hari ini mama memasak Rawon dengan Empal


goreng ada juga telur asin namun aku bukan pecinta telur asin. Hanya Papa, Mama


Oiya, tidak lupa toge pendek dan sambal. Meskipun ada asisten, mama selalu


usahakan masak sendiri kecuali sedang sakit atau pergi. Jadi aku dan


kakak-kakak ku sudah terbiasa makan masakan mama. Hari ini harusnya Lano akan


datang kalau mama masak Rawon. Iya keponakanku itu paling suka Rawon masakan


neneknya.


Kak Santi kakakku yang pertama sebenarnya


tinggal tidak jauh dari sini. Kak Santi tinggal di Cipayung sehingga hanya


perlu satu jam untuk sampai. Namun Kak Santi adalah tipe Ibu rumah tangga yang


tidak akan pergi tanpa suaminya. Karena dia selalu bilang, Suaminya adalah


orang terpenting yang harus dia jaga selain anak-anaknya. Ia Kak Santi sudah


memiliki 2 anak. Yaitu Melano dan Melani. Melano saat ini sudah sekolah kelas 3


SD sedangkan Melani masih di bangku Taman Kanak-Kanak. Kak Santi rela tidak


bekerja lagi karena Kak Rendy mau istrinya hanya sebagai Ibu Rumah Tangga saja.


Untung saja Kak Rendy selain bekerja di sebuah perusahaan Manufakturing besar


juga memiliki usaha lainnya yaitu café yang sudah berjalan sehingga Kak Santi


hanya membantu memeriksa keuangan dan standart pelayanan yang ada.


Semua perempuan di keluargaku adalah seorang


ibu rumah tangga, sehingga aku sebenarnya juga ingin menjadi seperti mereka,


namun pekerjaanku saat ini amat sangat aku sukai, sehingga ku masih ragu untuk


melepaskannya atau menjanjikan untuk melepasnya. Meskipun iya, ada keinginan


untuk menjadi Ibu Rumah Tangga.


***


Saat makan aku melihat Kak Ardan turun


menuju meja makan. “Mama masak apa?”


“Masakan kesukaan keponakan kamu.”


“Rawon?”


“Iyup.”


Kak Ardan segera mengambil piring, kami


sekeluarga memang suka rawon bikinan mama. Bila papa sudah benar-benar ingin


pension, aku ingin mereka membuka depot masakan jawa timur. Karena mama pintar


sekali masak makanan khas mereka.


“Nanti jam berapa dek?”


“Undangannya jam 6 sampai jam 9 Kak”


“Dimana?”


“Di Gedung XXX”

__ADS_1


“Oh, Yasudah, Nanti kita berangkat jam 6.


Paling lambat kita sampai jam setengah Delapan, nanti habis itu kita malam


mingguan yuk.”


“Kemana?”


“Enaknya kemana?”


“Ke Café aja lah kalau gitu.”


“Oke deh”


Kami makan dengan hikmat sebelum akhirnya


mendengar ada tamu agung yang sudah ditunggu-tunggu datang.


“Nenek”


“Nenek pergi”


“Auntie, Uncle”


“Salim dulu sini Bang”


Keponakan-keponakanku mendatangi kami dan


salim. Lano mengajari adiknya Lani juga agar salim dengan kami. Setelah


bersih-bersih badan, mereka lalu makan siang dan kami menemani mereka ngobrol


tentang sekolah mereka. Sedangkan ayah dan Ibu mereka hanya melihat dan


membenarkan jika salah sambil bersantai di ruang keluarga. Kami menemani mereka


hingga pukul 1 siang. Karena mereka harus tidur siang. Sebenarnya mereka


inginnya tidak tidur siang, namun peraturan tetaplah peraturan, yaitu tidur


siang. Mereka pasti akan merindukan tidur siang saat mereka bekerja nanti.


***


Pukul 17.30 aku sudah siap. Hanya tinggal


memakai sepatu. Sambil menunggu Kak Ardan yang sedang mandi setelah mencuci


mobil dengan Lano dan Lani.


“Mau kemana dek?” Tanya Bang Rendy.


“Ke nikahan teman bang”


“Sama Varo?”


“Nggak.”


“Sendiri?”


“Sama Kak Ardan kok.”


“Ya sudah. Kalau sendiri jangan malam-malam


berangkatnya.”


“Nggak kok. Tadi untung aja Mbak Erlita


ngizinin Kak Ardan nemenin Ina.”


“Ya pasti boleh lah dek. Abang juga pasti


antar adek-adek abang kalau misal pergi sendiri kalau abang di rumah dulu.”


“Kak Santi mana bang?”


“Nemenin mama ke minimarket sama


ponakan-ponakan kamu.”


“Owh”


“Papa?”


“Di kamar mandi mungkin.”


Aku tidak terlalu dekat dengan Bang Rendy,


bukan tidak suka, tapi memang canggung. Kami mengobrol tapi kadang juga


kehabisan obrolan. Tapi kedatangan Kak Ardan menyelamatkan kecanggungan ini.


“Wah tumben ganteng Kak.”


“Nanti kalau kakak nggembel kamu malu.”


“Ya jangan nggembel juga dong kak”


“Makanya kakak dandan dikit.”


“Berangkat sekarang?”


“Mama Papa mana?”


“Mama sama Kak Santi ke minimarket depan,


kalau papa di kamar.”


“Tunggu mama balik aja deh dek. Sekalian


pamit. Khan kita pulang agak malam.”


Kami mengobrol sambil menunggu mama. Sambil


menunggu papa akhirnya keluar kamar dan ikut mengobrol. Setelah mama datang


kami pamit kepada semua termasuk Lano dan Lani yang titip Fast Food yang ada


mainannya. Namun karena larangan dari sang ayah, kami akhirnya mengatakan


tidak. Dan akan berjanji membawakan kue saja sebagai gantinya.


Ternyata perlu waktu satu jam lebih sedikit


untuk sampai. Setelah parkir kami turun dan menuju venue. Mengisi buku tamu dan


berfoto di fotobooth yang sudah disediakan. Namun saat berjalan kearah


pelaminan, aku melihat Kak Radit bersama dengan seseorang.


--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---


Masih diatur supaya jalannya pas ya. Maaf


kalau saya tipe penulis yang tidak memberi konflik yang banyak.


Klik Like dan tinggalkan komentar kalian


kalau kalian suka.


See You…

__ADS_1


__ADS_2