
Banyak banget kerjaan dalam minggu ini, mulai dari tender hingga memantau pekerjaan staf dan juga memberi solusi-solusi saat ada masalah dalam proyek bangunan maupun interior design.
Bahkan aku hampir melupakan rasa bimbangku.
Dan tidak terasa saat ini hari Jum'at dan weekend di depan mata. Di tengah kemacetan dan keruwetan di pagi hari ini tiba-tiba terbersit waktu liburan. Kira-kira dimana aku bisa melepas penat minggu ini. Kota mana yang oke untuk bersantai dalam dua hari.
Saat sampai di depan kantor tiba-tiba jari ini dengan cepat memesan tiket pesawat paling memungkinkan setelah pulang kerja nanti, dan memesan sebuah kamar hotel yang nyaman. Aku akan bersantai selama dua hari. Tidak perlu memikirkan kendaraan karena aku mungkin tidak akan kemana-kemana selama disana.
Setelah semua beres aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.
Hari ini aku hanya akan menemui satu klien. Jadi aku bisa pulang lebih awal agar bisa bersiap-siap pergi.
Tok tok tok
"Masuk"
Ina. Ada apa dia tiba-tiba ingin menemuiku.
"Maaf Kak, saya ganggu gak?"
"Nggak. Masih pagi ini. Ada apa Sin?"
"Saya bisa izin pulang cepat? Jam 3 sore."
"Ada apa?"
"Ada acara keluarga Kak"
"Kamu hari ini ada janji sama orang gak?"
"Ada. Pagi ini. Mungkin sampai makan siang."
"Sama siapa pergi ketemu kliennya?"
"Sendirian pak. Ketemu di Proyek."
"Langsung balik aja kalau gitu kalau sudah selesai. Saya juga pulang cepat soalnya. Kamu ke HR langsung buat surat izin biar gak dicari kalau gak balik. Saya acc."
"Oke. Makasih Kak Radit."
"Sama-sama"
Ina keluar setelah meminta izin. Acara keluarga? Ada apa ya?
Hah, ingat Kalea, dia cuma mantan.
Setelah pergi bertemu klien hari ini aku segera pergi untuk pulang dan berkemas.
Ada mama yang lagi duduk-duduk dengan Tante Widya di taman.
"Siang Tante."
__ADS_1
"Hai Kal, sudah pulang?" Tanya Tante Widya.
"Kamu sakit Kal? Tumben pulang cepet?"
Jujur apa nggak ini. Aku khawatir, saat aku jujur nanti keponakan Tante Widya itu akan mengikutiku.
Ada jeda untukku menjawab.
"Kal" panggil mama.
"Kalea harus pergi ke Bandung. Ada urusan kerjaan disana."
"Weekend?" Tanya mama tidak percaya
"Sekalian liburan nanti setelah lihat proyek."
"Kamu kerja terus Kal, kapan nikahnya?"
"Kalea masih muda Tante, masih punya banyak waktu buat nikah. Lagian Kalea juga belum nemu orang yang Visi dan Misi nya sama Kalea. Nikah kan buat sekali seumur hidup, jangan sampai karena keburu-buru karena umur bikin kita sembarangan cari jodoh. Kan bukan hanya dia dari keluarga mana baik nggak. Tapi apakah dia benar-benar bisa dampingi Kalea waktu susah dan senang. Ya pastinya Kalea gak akan ajak anak orang susah. Tapi kalau takdir mau apa. Gak mungkin ngrepotin mama papa mulu kan?"
Tante Widya terdiam, begitu juga mama. Ada kemungkinan inilah cara penolakanku tentang keponakannya.
"Aku balik dulu ya, aku lupa harus fitting kebaya yang untuk minggu depan. Kalau mepet kan susah."
"Maaf ya Wid"
"It's ok. Tante balik ya Kal."
"Tante hati-hati ya."
Aku menuju kamar setelah mama dan Tante Widya meninggalkanku.
Di dalam kamar aku bersiap, memilah baju mana yang cocok untuk ku bawa. Dari yang celana pendek hingga celana panjang. Hanya sedikit yang ku bawa. Itu pun dalam bentuk koper kecil.
Tok tok tok
"Masuk"
"Kal"
"Mama mau ngomongin Tante Widya sama Gina?"
"Tapi harusnya kamu tidak sefrontal itu."
"Mau sampai kapan?"
"Tapi kan?"
"Semakin diulur untuk jujur, masalah akan semakin runyam. Kalau Tante Widya Menyadari, hal ini gak akan berpengaruh pada persahabatan kalian."
"Kal"
"Apa lagi ma? Kalea sayang banget sama mama. Tapi Kalea gak akan ngalah soal jodoh. Kalea ingin bersanding sama orang yang Kalea mau, yang seperti Kalea bilang, Visi Misi nya sama dengan Kalea. Kalea buru-buru ma. Nanti Kalea hubungi. Jangan coba bikin perjalanan Kalea bete dengan kirim orang kesana."
__ADS_1
"Kok bilang gitu?"
"Kalea tahu mama. Mama kalau excited pasti menghalalkan segala cara. Salam buat Kakak kalau udah balik. Kalea pergi dulu."
Aku salim dan mencium kening dan pipi mamaku. Aku ingin meredam rasa takutnya dan bilang aku sayang dia dengan caraku sendiri.
Setelah ritual pamit aku segera menuju mobil. Sebenarnya lebih enak kalau tidak bawa kendaraan. Tapi karena penerbanganku Pagi di hari Senin, aku memilih membawa mobil agar lebih mudah ke kantor nantinya.
Masih terlalu awal, penerbanganku adalah penerbangan termalam. Jadi ke restoran cepat saji dulu untuk Drive Thru agar nanti aku tidak kelaparan.
Setelah Drive Thru aku menuju Bandara. Aku sudah check in online jadi aku lebih tidak perlu terburu-buru.
Hari ini jalanan lumayan macet, namun masih tetap awal bagiku. Setelah parkir aku segera berjalan ke dalam bandara. Namun ada dua sosok orang yang amat ku kenal. Hanya mereka berdua. Apa ini yang namanya acara keluarga.
"Bang Ardan"
Dia mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Bang"
Aku memanggilnya lagi ketika kami sudah dekat.
"Radit" Dia terkejut, karena bertemu denganku.
"Oh, jadi ini acara keluarga"
"Ina pamitnya gitu?"
"Iya. Kalian mau kemana?"
"Bali"
"Kok sama?"
"Sama apa di sama-samain?"
"Ina gak cerita mau kemana Bang"
"Berarti kalian jodoh dong"
"Kak Ardan"
Aku tertawa dengan kata-kata Kak Ardan. Mungkin kami memang jodoh.
--- --- --- --- --- ---
Sudah baca Alinda Season 2?
Maaf ya, kalau lambat buat up. Badan lagi gak mau kompromi. Sering kambuh sakitnya kalau capek.
Alinda bakal aku posting sebisaku ya cerita ini juga. Soalnya nulis banyak itu juga bikin kepala puyeng. Semoga gak banyak typo.
Klik Like kalau suka. Komen juga boleh.
__ADS_1
See you