SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #26 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

"Terima kasih Kak Arka udah nemenin aku hari ini."


"Sama-sama"


"Kak Arka gak turun?"


"Nggak, kakak langsung balik aja. Capek banget."


"Oke. Makasih ya kak." Cup


Aku menoleh pada Rika yang sudah berani mencium pipiku. Dia tersenyum, namun aku tidak bisa melihat aku senang dengan apa yang dia lakukan. Aku hanya diam. Setelah bertemu Ina otakku hanya berputar-putar pada Ina. Namun apa yang dilakukan Rika menyadarkanku. Aku memegang pipi yang dikecup oleh Rika.


"Malam Kak"


Rika lalu turun dari mobil dan setelah dia menutup pintu aku langsung jalan tanpa menunggunya masuk ke rumah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Apa Rika masih memiliki perasaan padaku seperti dulu? Tapi dia bukan Rika  yang dulu. Atau bahkan Rika yang sama jauh lebih berkembang dari Rika yang dulu. Aku dulu pun tidak terlalu mengenal Rika yang bagaimana. Kami hanya dekat karena dulu berada dalam OSIS. Meski dulu banyak yang bilang Rika menyukaiku tapi aku tidak pernah menyukainya. Bahkan sejak aku tahu Rika adalah teman baik Ina, aku semakin berpikir bahwa tidak seharusnya aku dekat dengan Rika.


Aku benci dengan apa yang dilakukan Rika dan mungkin sampai disini saja kedekatan kami.


Aku sudah sampai di hotel lagi,lalu aku mandi kemudian memesan makanan hotel. 


Rika   -


21.57 PM


Sudah sampai rumah Kak?


Sebuah pesan chat masuk ke ponsel  ku. Aku hanya membuka tanpa berniat membalas.


22.00 PM


Kok gak dibalas? Kakak marah sama Rika ya?


Aku hanya melihat pesan itu. Masih kuingat bagaimana Rika dengan frontal mencium pipiku. Mungkin laki-laki lain akan merasa beruntung, tapi tidak denganku. Ponsel ku taruh di meja dan aku langsung tidur. Mood ku sudah jelek karena kejadian dengan Rika. Setelah bersusah payah aku akhirnya tertidur. Dan tepat pukul 5 alarm sudah berbunyi, saatnya untukku pulang lalu berangkat bekerja.


Sebelum check out aku menyempatkan mandi agar nanti aku tidak terlalu terburu-buru. Dan tepat pukul 6 karena sudah bisa sarapan pihak resepsionis mempersilahkan untuk sarapan sambil menunggu pemeriksaan kamar. 


Menu yang tersedia cukup standard, tapi mereka memiliki chef yang handal sehingga makanan yang tersaji cukup enak. Setelah sarapan aku segera ke resepsionis lagi dan langsung dipersilahkan pergi. Aku sampai rumah pukul 7 setelah menaruh koper aku segera pergi bekerja. 


Hari ini berlangsung biasa. Ina terlihat cuek. Namun aku juga tidak bisa berkata apapun, suasana canggung tidak sempat kami nikmati karena padatnya jadwal. Aku menemui beberapa perusahaan yang akan melakukan tender. Aku harus memajukan perusahaan ketika Lingga tidak ada, ini merupakan proses latihan sebelum aku memiliki perusahaan sendiri.


Pukul 18.00 setelah selesai meeting aku kembali ke kantor untuk mengambil beberapa laporan yang mungkin ditinggalkan sekretaris agar aku memeriksa dan menandatangani.


Masih ada beberapa karyawan disana, Ina juga masih ada. Sebelum pulang aku meminta mereka untuk pesan makanan bila masih akan lembur, dan aku juga meninggalkan beberapa lembar uang yang nantinya akan ku klaim kan sebagai privilege sebagai atasan.


Pukul 19.35 aku sampai rumah, namun kaget ada seseorang di ruang tamu sedang mengobrol dengan mama. Aku tidak menyangka dia akan ke rumah. Aku tahu dia pernah ke rumah. Tapi benar-benar tidak menyangka dia ke rumah saat ini. Apa sebenarnya maunya?



"Kak Arka"


"Kal"

__ADS_1


Panggil mama dan Rika bersamaan.


"Rik, sudah lama?"


"Nggak kok kak."


"Kalea bersih - bersih badan dulu ya ma."


"Iya. Jangan lama-lama. Rika udah hampir sejam lho disini nungguin kamu."


"Iya."


Aku segera ke kamar mandi dan berganti baju. Aku berharap Rika tidak betah dan ingin segera pulang.


Ketika aku turun aku masih melihatnya, dan dia tersenyum semanis mungkin yang entah kenapa membuatku  muak.


"Kalian ngobrol dulu. Mama nyiapin makan buat kalian."


"Papa belum pulang?"


"Belum. Ada ketemu klien. Pulang malam mungkin. Begini lah Rik, kalau jadi istri Arsitek, mereka kadang lupa sama rumah."


"Khan buat keluarga juga tante." Jawab Rika.


Hal yang membuatku terpaku, sedekat apa mereka, padahal mereka selama ini tidak saling mengenal. Kecuali Rika yang tahu bahwa wanita itu adalah mamaku.


"Pulang kerja langsung kesini?"


"Owh. By the way ada apa kesini?"


"Main aja. Lagian mau nanya, kak Arka marah ya sama Rika?"


"Soal?"


"Cium pipi Kak Arka mungkin?"


"Oh yang itu? Iya. Saya gak suka dicium sembarang orang."


"Rika minta maaf."


"Tolong jangan diulangi. Kamu bukan siapa-siapa saya."


"Iya. Aku minta maaf."


"Oke. Aku maafin."


"Terima kasih."


"Terus ada lagi yang perlu di  omongin?"


"Kakak masih marah?"

__ADS_1


"Nggak"


"Kal, ajak Rika makan Kal."


"Rika udah mau pergi ma."


Aku melihat ke arah Rika dan semoga dia mengerti bahwa aku menginginkan dia pergi sekarang juga.


"Gak boleh akh, ayo Rika makan dulu. Tadi kan sudah temenin tante ngobrol. Sekarang makan dulu, baru nanti diantar Kalea pulang."


"Ma"


"Udah yuk, jangan dipikirin Kalea nya."


Mereka meninggalkanku ke meja makan.


Aku mengikuti mereka lalu makan. Kalau tahu akan ada Rika lebih baik ku tadi menemani karyawan yang lain untuk lembur. 


Di meja makan hanya terdengar celotehan mama ke Rika. Seolah mereka adalah teman baik. Mama juga banyak menceritakan hal yang tidak perlu padanya juga. Selesai makan aku segera menaruh piring ke tempat cuci piring lalu ke kamar. Ponselku masih di tas jadi aku merasa sebaiknya aku bermain ponsel sambil cek email barangkali ada email penting yang masuk. Tidak lama aku mendengar ketukan pintu dan panggilan dari mama.


"Ada apa ma?"


"Kan Rika tamu kamu masak kamu gak nemenin dia?"


"Tapi Kalea gak undang dia ma."


"Ya masak harus diundang dulu baru main, ya biarin Kal. Lagian udah malam, kamu mending antar Rika pulang."


"Dia bisa kesini sendiri,"


"Oke kalau Gina kamu tolak karena manjanya kelewatan menurut kamu it's ok mama gak akan protes. Ini Rika kan teman kamu dari SMP. Dia tadi diantar temannya. Kamu antar pulang tidak akan bikin kamu menderita."


"Oke oke, Kalea antar Rika pulang."


Aku menuruti mama untuk mengantar Rika pulang. Aku mengantarnya sampai rumah tanpa obrolan yang berarti. Hanya pertanyaan dari Rika yang aku jawab seadanya. 


"Terima kasih ya Kak,maafin Rika udah keterlaluan soal kemarin. Maafin Rika juga udah mampir ke rumah kakak tanpa bilang dulu ke kakak."


"It's ok. Aku balik dulu."


"Ia."


Begitu Rika turun aku segera melajukan mobil menuju Fast Food terdekat, namun keputusanku untuk melepas penat ternyata membuatku semakin terluka.


--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---


Maaf ya, kalau gak update 2 minggu karena kondisi yang drop dan pekerjaan yang juga padat. Tolong dimaklumi.


Akan ada beberapa bab yang akan aku posting nantinya sebagai pengganti break posting saya selama beberapa hari ini.


Klik like dan kasih komentar kalian. Terima kasih yang sudah menunggu.

__ADS_1


See you..


__ADS_2