SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #16 Kalea Arka Raditya


__ADS_3

Gak nyangka sih,nih anak bakal ke kantor. Lagian tahu dari mana anak ini kantor si Lingga.



"Kok kamu kesini?"tanyaku pada Gina.



"Kan kak Radit janji temeni Gina ke nikahan teman Gina."



"Perasaan aku bilang nanti aku kabarin, terus kamu cari teman lain aja dulu."



"Tapi gimana, aku udah sampai sini lho."



"Kakak habis gini masih ada acara kantor. Penyambutan kakak kerja disini. Jadi gak bisa nemani kamu. Kamu bisa pergi sendiri gak? Kakak habis gini udah pergi."



"Tapi Gina udah terlanjur bilang mama kalau pergi sama kakak."



"Tapi kakak beneran gak bisa Gin. Tanya atasan kakak ini kalau gak percaya."




Gue kedip ke Lingga, semoga Lingga paham.



Lingga tersenyum smirk. Brengsek ni anak. Semoga beneran bisa diajak kerja sama.




"Beneran ya Pak. Kalau mau ada acara kantor?" Tanya Gina dengan gayanya yang sok Polos. Gue gak tahu, lama-lama gue merasa agak jijik juga lihat tingkah Gina. Kalau benar polos dari mana dia tahu tempatku bekerja. Kalau polos bagaimana dia bisa kesini hanya berbekal nanti pergi denganku. Kok bisa dia bertingkah polos seperti itu di depanku.




"Ia. Ini sudah waktunya berangkat. Soalnya sudah selesai jam kerjanya. Ini mau ada acara penyambutannya Radit sama perpisahan buat saya. Tapi tolong kalau mau berbincang silahkan ke Pantry aja lalu jangan lama-lama ya. Staf yang lain ada yang rumahnya jauh. Kasihan kalau naik angkutan umum malam-malam."




Bagus. Gak percuma gue bantuin dia jagain perusahaan nanti.




"Ayo ke Pantry sebentar. Kakak gak bisa lama-lama."




Gue melihat Ina. Dari tatapannya rasanya dia mengira Gina adalah kekasihku. Huft, jadi ribet kan ni gegara bocah satu.




Setelah sampai Pantry gue coba terangin lagi ke Gina.




"Duduk Gin"




Dia lalu duduk dengan patuh.



"Maaf ya Kakak gak hubungi kamu karena sibuk. Tapi maaf juga, kakak ada acara jadi gak bisa nemani kamu ke nikahan teman kamu. Sekarang kakak lagi buru-buru banget, kamu bisa pilih, kakak pesenin Taxi Online atau kamu minta jemput teman kamu. Tapi kalau kamu minta jemput teman kamu, kakak gak bisa nemenin. Soalnya kayak yang atasan kakak kasih tau kamu, kita udah keburu-buru karena ada staf yang rumahnya jauh. Perempuan lagi. Kasihan kalau kemalaman di Jalan."




Dia terlihat linglung. Kasihan sih, tapi jelas gue gak mau ditumbalin buat nemenin orang ke resepsi yang gue gak kenal siapa yang nikah. Dan lagi yang gue antar bukan gebetan.



__ADS_1


"Tapi kak, Gina takut sendirian."



"Lha kamu kesini juga sendirian kan? Gak takut kan?"




Dia diam. Gue emang kejam, tapi logika gue bener kan? Dia bisa kesini sendirian masak ke nikahan temennya gak berani sendirian.




"Tapi kan Gina berharap kakak mau nemenin Gina, makanya Gina berani."



"Tapi harusnya kamu jangan nunggu kakak, kan dari awal kakak gak janji. Apalagi ada acara kantor."



"Tapi kakak janji ngabarin."



"Kakak gak sempat tadi Gin, banyak kerjaan kakak. Kakak tipe workaholic, dan kamu gak bisa ngertiin buat orang-orang yang kerjanya gila-gilaan kayak kakak. Jadi kamu bisa berhenti buat berharap soal hubungan sama kakak. Kita bisa aja berteman tapi gak bisa kalau lebih."



"Gina bakal belajar buat ngertiin. Dari awal Gina sudah tertarik sama kakak. Ok, Gina ke nikahan teman Gina sendirian. Tapi setidaknya pikirin juga perasaan tertarik Gina ke kakak. Keluarga kita udah jodohin kita, jadi Gina masih pengen berharap buat sama kak Radit."




Jodohin? Serius? Ini kerjaan siapa?




Mama?




"Kamu balik sekarang aja gih. Kakak udah mau berangkat. Kakak pesenin Taxi sekarang."






Kata-kata Penjodohan ini melukai ego ku.




"Ayo turun, biar gampang nanti kalau Taxinya udah datang."



"Gimana kalau Gina ikut kakak aja?"



"Kamu jangan buat Kakak marah ya Gin. Ini kamu ngotot buat jemput kakak padahal kakak gak bilang bisa antar kamu aja udah bikin kepala kakak sakit. Sekarang mau ikut acara kantor. Sebagai apa? Kamu kan bukan staf kantor ini."



"Sebagai cewek kakak?"



"Kapan kakak bilang kamu pacar kakak. Udah kamu balik gih. Itu kayaknya taxi udah mau datang. Kakak mau beres-beres meja dulu."




Gue lihat muka Gina udah mau nangis aja. Tapi gue gak peduliin. Menurut gue udah gak logis aja dia datang kesini dalam perjalanan hampir sejam berani dan ke nikahan temannya yang cuma 45 menit dari sini gak berani. Dan belum lagi ngeyel pengen ikut makan-makan sebagai ganti gak nemeni dia ke nikahan temennya. Gila kalau gue ijinin. Makin ngelunjak nanti.




***



"Udah balik dia?"


__ADS_1


Sebagai sambutan dari Lingga setelah gue balik ke ruangan.



"Lagi nunggu taxi."



"Loe lupa ada janji sama cewek boneka itu?"



"Nggak. Tapi dia emang pengen minta antar ke nikahan temennya tapi gue gak mau."



"Agresif juga berani datang kesini."



"Tapi dia bilang gak berani ke nikahan temennya sendiri. Mau ikut acara kita."



"Loe tolak?"



"Jelaslah. Siapa dia mau ikut."



"Kejam"



"Bodo Amat"



"Dia gak bilang apa-apa lagi."



"Katanya mau ikut sebagai cewek gue."



"Gila. Ditembak langsung. Terus?"



"Terus ayo pergi. Udah selesai gue beberesnya."



"Haisch. Ia ia. Pasti loe tolak. Ya udah ayo."




Ternyata semua orang juga sudah menunggu. Nih gegara bocah sok polos itu makanya semua jadi molor. 




Saat turun gue udah gak lihat Gina lagi. Jadi gue anggap dia sudah pergi. Ada 3 mobil yang mengangkut semua staf kecuali Security yang jaga. Aku hanya mengganti dengan uang senilai biaya per orang di restoran tersebut. 




Gue menikmati makan malam meskipun harus melihat muka Ina yang sedikit aneh. Banyak melamun entah apa yang lagi dia pikirin.




--- --- --- --- --- --- --- ---



Gina agresif. Saya gak suka. Gpp kan?




Jangan lupa like dan komen ya. 




See you



__ADS_1




__ADS_2