SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU

SCANDAL DIRIKU DAN DIRIMU
Scandal - #37 Sintarina Dewi Safitri


__ADS_3

Aku akhirnya telah minta maaf. Dan aku dimaafkan meski aku harus menyadari, dimaafkan bukan berarti apa yang menyakitinya juga hilang, karena selalu ada bekas juga yang tertoreh.


Kami menikmati Sunset, sungguh Indah. Ditemani DJ yang semakin malam, alunan lagunya semakin nge-beat. Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 kami segera bersiap untuk meninggalkan dayclub ini karena harus ke Bandara.


Kami kenyang, karena besarnya minimum order yang harus kami capai untuk duduk di tempat kami ini, tapi senangnya makanan disini lumayan enak. Namun, ketimpangan pelayanan antara lokal dan turis asing sungguh mencolok. Tapi, sudahlah, toh kami menikmati waktu kami disini. Untung kami sudah check in online, dan lokasi juga tidak terlalu jauh. Serta waktu kami keluar juga pas, sehingga kami masih punya banyak waktu untuk pesawat kami. Kami mengobrol dengan santai di kedai kopi. Sebenarnya Kak Ardan sudah meminta Kak Radit kembali ke hotel, namun dia menolak dan ingin menunggu kami. Untuk mobil, Kak Radit akan serah terima dengan sopir teman Kak Radit nanti sekitar pukul 9 disini, sekaligus untuk menjemput Kak Radit meski dia tidak mau meninggalkan kami sebenarnya.


Setelah mendapat telepon bahwa sopir sudah menunggu di depan, mau tidak mau Kak Radit pamit meninggalkan kami.


Dan akhirnya hanya kami berdua, aku dan Kak Ardan, menunggu penerbangan.


"Lega?"


"Iya."


"Dimaafin?"


"Dimaafin, tapi kak Radit masih kecewa, kak."


"Gapapa. Biar waktu yang menyembuhkannya. Minta maaf dengan tulus itu cukup."


"Tapi Ina gak enak."


"Dulu kenapa diputusin kalau gak enak? Kalau gak kamu putusin mungkin sekarang kalian sudah sebar undangan."


"Kak Ardan yang serius dong!"


"Bener kan? Aku yakin sampai sekarang kamu aja masih suka Radit. Dia pasti masih suka kamu, buktinya dia kecewa berat. Lalu apa?"


"Ina sudah punya Varo."


"Kakak tahu!"


"Kenapa kakak ungkit perasaan Ina lagi ke Radit. Biar Ina pendam semua sendirian."


"Bukannya itu akan menyakiti Revaro?"


"Tapi Varo gak tahu kalau kakak gak asal ngomong."


"Tapi dia pasti bisa rasain, kalau pacarnya, kalau calon istrinya, kalau istrinya masih memendam perasaan ke orang lain."


"Lalu Ina harus gimana?"


"Mulai menata hati, tinggalkan Radit di belakang, karena kamu sudah menyelesaikan apa  yang sudah kamu inginkan dari lama, menjelaskan alasan sebenarnya. Sekarang kamu menyadari adanya Varo jadi berkomitmenlah dengan baik dengannya, bila tidak maka tinggalkan sebelum kalian semakin dalam."


"Hah… Entahlah kak. Rasanya sangat berat ketika sudah jujur malah ada beban baru. Tapi apa yang kakak bilang juga benar, Ina sekarang ada Varo, dan Ina akan berkomitmen penuh, tanpa memikirkan kak Radit lagi."


"Yakin?"


"Kakak yakin gak sama Ina?"


"Nggak?"


"Kok kakak gak dukung Ina dan Varo sih?"


"Kata siapa?"

__ADS_1


"Nah itu kakak gak yakin?"


"Karena kamu juga gak yakin sama perasaan kamu, orang lain di luar hubungan kalian aja tahu gimana Varo gak tahu?"


"Kakak kan orang terdekat Ina."


"Sama aja dek, kakak juga orang lain. Jadi kamu tahu kan harus gimana?"


"Meyakinkan diri dengan hubungan Ina dan Varo."


"Bukan Na!"


"Lalu?"


"Perbaiki diri kamu, dan pasrahkan ke Tuhan, siapapun jodohmu, mintalah untuk di dekatkan. Bila bukan, maka jauhkan."


Aku terdiam. Sesederhana itu. Perbaiki diri dan berserah. Biarkan tangan Tuhan yang berbicara. Tapi mampukah aku .


🎶


I can show you the world


Shining, shimmering splendid


Tell me, princess, now when did


You last let your heart decide?


I can open your eyes


Take you wonder by wonder


On a magic carpet ride


A whole new world


A new fantastic point of view


No one to tell us no


Or where to go


Or say we're only dreaming


🎶


My Love Calling…


"Siapa?"


"Varo"


"Panjang umur"


Aku mengangkat telepon dari Varo

__ADS_1


"Halo Yang!"


"Dimana?"


"Di Bandara sama Kak Ardan"


"Balik sekarang?"


"Iya"


"Take off jam berapa?"


"Jam 25 menit lagi."


"Hati-hati ya."


"Iya."


"Jaga hatiku ya."


"Heh?"


"I Love you Sinta"


"I Love You too Varo"


"Bye, salam buat Kak Ardan."


"Oke."


Dia menutup sambungan teleponnya. Dan membuatku berpikir keras.


"Kenapa Na?"


"Gapapa"


"Ya sudah"


"Kamu gak ke kamar mandi dulu?"


"Iya, Ina ke kamar mandi dulu sebentar."


Aku segera ke kamar mandi agar tidak perlu ke kamar mandi lagi saat di pesawat. Ketika aku mencuci tangan, aku mengingat lagi kata-kata Varo, bahwa aku harus menjaga hatinya. Ada apa dengannya?


Aku segera tersadar, waktuku tidak lama, tidak ada waktu untuk melamunkan hal ini. Aku masih memiliki  waktu 2 jam untuk memikirkan hal ini lagi nanti.


Setelah sampai, gantian Kak Ardan yang je kamar mandi, lalu setelah itu kami masuk ke pesawat karena tidak delay.


--- --- --- --- --- --- --- --- --- ---


Varo kayaknya punya six sense ya guys…


Semoga kalian suka, klik like ya kalau suka. Kasih komentar juga ya. Aku suka bacanya dan kalau sempat balas.


Minta maaf ya kalau banyak typo. Nanti kalau sempat aku perbaiki.

__ADS_1


Oiya, Cerita ini sudah ikut contest, jadi jangan lupa buat di share ya. Baca dan kasih tau teman-teman kalian untuk baca. 


See you...


__ADS_2