
Kediaman Diningrat
Arsya nampak membereskan keperluannya dan keluar kamar menuruni tangga.
Elsa, arka dan rere sudah menunggu dimeja makan untuk sarapan bersama.
"Sarapan dulu" ucap sang mommy melihat arsya mendekat
"Arsya sarapan disekolah saja, lagi buru-buru" bilangnya dengan meraih tangan mommy berpamitan
Elsa terdiam melihat sang putri.
"Nanti arsya tidak pulang kesini mom, Arsya tinggal di kost" katanya lagi menjelaskan supaya tidak membuat elsa hawatir
"NO"
"Pleaseee mom, dari awal kan sudah bilang arsya ingin mencoba hidup sederhana"
Pinta arsya memohon untuk keinginannya, kalau difikir tidak ada salahnya keinginan arsya tapi mengingat masalalu elsa begitu berat mengiyakan.
"Mom..." panggil arsya yang belum mendapat jawaban dari elsa
"Biar tante rere yang temani arsya" ucapnya lagi melihat rere yang lahap menikmati sarapannya dan hanya menerima anggukannya.
"Baiklah... Dengan sarat, tiap ahir pekan tinggal disini"
"Thanks mom" arsya meraih mommy kedalam pelukannya.
"Arsya berangkat, ayo tan bareng apa kesana sendiri"
"bareng, ayooo" ajaknya setelah minum susu sampai habis
Elsa memandang punggung kedua orang yang begitu berarti dihidupnya berjalan keluar.
"Sudahlah mom, biarkan saja. Arka akan terus mantau dan kasih penjagaan dari jauh untuknya"
Sekolah
Arsya terlambat masuk kelas dan didepan gerbang SMA Merpati dia berada.
"Ck Hobi baru gue" gumamnya dan manjat gerbang tersenyum tipis.
Brukkk
Suara lompatan
"Berhenti" suara seseorang menghentikan langkah kaki arsya.
__ADS_1
"Keruang saya sekarang !!" pintanya setengah berteriak, iya dia guru BK yang menghentikannya.
Arsya mengekor dibelakang dan masuk kedalam ruangan BK.
"Sudah telat, manjat gerbang pula. Sebenarnya kamu itu perempuan pa tidak? tingkahmu tak ada anggun-anggunnya"
Sindirnya yang melihat tingkah siswinya membuat geleng-geleng kepala.
"Sudah berapa kali kamu..."
"Langsung apa hukumannya" potong arsya yang malas mendengar ceramah yang tak penting menurutnya
Guru tersebut menekan pelan plipisnya, beliau juga bingung, hukumannya tak membuat arsya jera.
"Ini kasih ke orang tuamu" ucapnya menyodorkan sebuah surat.
"Saya tinggal sendiri"
"Terus siapa wali mu?"
"Pak kepala sekolah" ucap arsya ngarang.
"Baiklah," gumamnya lalu memegang telpon kantor menghubungi seseorang.
Ruang Kepsek
Suara telephon kantor berbunyi
Klekkkk
"...."
"Saya kesana"
"...."
Kepala sekolah terdiam sejenak setelah terima telephon, pikirannya melayang untuk mencari tahu "Siapakah dia"
Beliau berdiri dan jalan menuju ruang BK, disana nampak dua orang yang saling berhadapan.
Pria paruh baya yang kasih wejangan dengan serius, beda hal nya sama seorang gadis yang duduk santai fokus pada Hp nya dengan game cacing miliknya.
"Silahkan duduk pak Putra, ini siswi yang saya bilang tadi"
Ucapnya setelah melihat kepala sekolah yang berdiri didepan pintu.
Kepala sekolah duduk dan melihat kearah siswinya yang katanya tadi dia sebagai walinya.
__ADS_1
"Siapa namamu?" suara tegas nan berwibawa dari kepala sekolah
"Arsya" jawabnya cuek yang masih dengan permainan cacingnya
"Siapa orang tuamu?"
"...."
Tak ada jawaban dari arsya, dia terlalu fokus sama game nya.
Tingkahnya membuat guru BK geram dan berucap.
"Kamu dengar tidak?" bicaranya dengan nada tinggi membuat arsya kaget dan kalah dalam permainan cacing.
"Ck... Kalah kan" ucapnya memandang guru tersebut dingin.
"Matanya seperti..." gumamnya kepala sekolah dalam hati, seolah-olah memori diotaknya tentang gadis yang dicinta berputar dengan sendirinya.
"Siapa orang tuamu" kepala sekolah bertanya mengintimidasi, seperti menemukan pencuri saja.
"Haikal Adnan Raharja"
"Ibumu?"
"Elsa...
"Tidak salah lagi" potong kepala sekolah sebelum nama mommynya disebut.
"Panggil orang tuamu kesini, saya mau ketemu"
"Tidak bisa" jawabnya datar
"Saya bilang panggil" katanya dengan tegas tanpa bisa dibantah
"Daddy sudah meninggal dan mommy tidak dikota ini"
jawabnya dengan bohong
Kepala sekolah yang mendengar seakan mendapatkan harta karun, matanya berbinar bahagia.
"Kapan daddymu meninggal?" tanyanya dengan lembut membuat yang mendengar terheran.
"Tadi garang, sekarang lembek" batinnya guru BK karena tak berani berkata langsung
"Ketika saya lahir. Udah ya pak kalau tidak ada hal yang penting saya ke kelas saja ya" bilangnya yang menganggap pertanyaan tak penting
"iya" ucapnya tanpa sadar. Putra atau kepala sekolah tersebut terlalu fokus memandang mata yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1