Sebatangkara 2

Sebatangkara 2
Tertangkap2


__ADS_3

Dimalam itu hasan berada diantara kerumunan menonton balap liar, dan dia juga melihat disaat arsya tertangkap. Tapi membiarkan begitu saja, dan dia juga ikuti mobil patroli dari belakang dengan niat agar arsya tak melihatnya. Bukan hasan namanya jika tak kerjain arsya dulu supaya kapok.


"Kenapa gue ikutan main kucing begini sih, mending tadi gue nongkrong sama temen-temen kan" protes hasim yang tadinya mau pergi ke club tapi diminta hasan untuk menemani keacara, gak taunya acara balap liar. Awalnya dia gak nyangka pada sahabatnya itu, tumben-tumbenan dia ketempat begituan. Ternyata ada udang dibalik bakwan, gebetannya sedang ikut balapan.


"gak ikhlas diajak teman?" tanya hasan


"Memang yaa, kalau benci dengan sesuatu pasti akan nemplok juga" ucap hasan bergurau


"maksudnya?" tanya hasan yang tak paham


"lo itu kan gak suka tempat yang berbau nakal, lhaaa sekarang cewek lo jiaaahhhhhh malah ikut jadi pesertanya" hasim puas menertawakan sahabatnya tersebut


"Namanya hati, mana aku tau akan berlabuh pada siapa dan bagaimana orangnya" pasrah hasan menjawab


"CK tapi gue salut, si arsya punya kelebihan apa lagi ya selain balap liar hahahaha siap-siap pusing lo nanti yaaaa" tawa hasim terus terusan membuat hasan jengkel


"tertawa lagi aku gak akan bantuin jika mau PDKT sama alda" sungut hasan yang semakin membuat hasim tertawa.


📲 Adek


"Siapa?" tanya hasim


"arsya" jawabnya


"gak lo angkat?" tanya hasim lagi


"nanti, nunggu dia kapok dulu" kata hasan yang membayangkan saat arsya kebingungan didalam sel dan mau minta bantuan kesiapa juga, dia kan baru pindahan pikirnya.


📲adek


📲adek


📲adek


Klunting


"gak lo angkat tunggu akibatnya" pesan arsya ke hasan


"rasain hahaha marah kan" ejek hasim bahagia melihat wajah hasan yang datar


📲adek


"Iya dek, woahhhh ada apa telfon malam-malam? Mas ngantuk" jawab hasan yang pura-pura bangun tidur


"jangan bohong, cepat masuk" arsya setengah teriak yang sudah mengetahui keberadaan hasan, dan membuat hasan kalang kabut


"masak dia tau aku disini?" kata hasan celingak celinguk


"memang dia bilang apa?" tanya hasim

__ADS_1


"aku disuruh masuk" katanya minta solusi tak pasti


"seperti cenayang tuh cewek lama lama, yasudah ayo masuk tunggu apa lagi" marah hasim juga


"rencanaku awal mau buat dia kapok, tapi...." hasan yang masih bingung harus ikuti kata hasim mungkin lebih baik


"itu pikir nanti sebelum dia marah, cewek marah menyeramkan bro" kata hasim menepuk pundak hasan dan anggukkan kepala.


Mereka berdua masuk kedalam menemui pak polisi untuk meminta kebebasan arsya, dan hasan sebagai jaminannya.


"Jika ikut balapan dan ketangkap, maka jangan salahkan jika harus mendekam dipenjara semalaman" kata pak heru pihak polisi


"baik pak" jawab hasan yang merasa malu, dia belum pernah alami hal seperti ini.


"Hai nona, gak nyangka gue. Ternyata hebat juga lo" haha kata hasim yang menertawakan arsya


"dah biasa, gak perlu ketawa" jawaban arsya membuat hasan ngerem mendadak


CIIIITTTTTZZZ


"Aduhhhh, kenapa lo" tanya hasim yang dicueki


"Dah biasa apa maksudnya?" tanya hasan pada arsya


"keluar masuk kantor polisi" jawab arsya enteng


"ahahahahahaa mampus looo brooo uji jantungmu terlalu berat sepertinya" tawa hasim begitu bahagia melihat sahabatnya kalang kabut nantinya.


"tak terhitung, kebanyakan sih tawuran,, eehhh bukannn apa balapan yaaa. Lupa juga sih" jawab arsya nyengir


"lo ikut tawuran juga?" tanya hasim melongo


"iya, kenapa? Jawab arsya dan tanya giliran


Hasan terdiam pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Sedangkan hasim dia antara bahagia dan tidak. Bahagia melihat sahabatnya yang kalem bisa uji nyali dan tidak bagaimana kehidupannya nanti yang berstatus ustadz yang mempunyai pondok pesantren.


"ada apa dengan kalian?" tanya arsya melihat dua orang seperti orang bodo.


"Dibalik kejeniusan ternyata ada kelebihan yang masih tersembunyi. Apa ada lagi kelebihanmu?" Tanya hasan memastikan dia sudah was was untuk mendengar


"Sementara itu dulu" senyum arsya menjawab dan hasan mengambil nafas panjang untuk meredakan sesaknya dada


"Sejak kapan ikut balap begitu dan juga tawuran?" tanya hasan penasaran, seorang arsya yang IQ nya diatas rata rata tak terbayang akan nakal begitu.


"Sejak kecil aku dan arka diwajibkan ikut beladiri oleh my mom, supaya bisa melindungi diri sendiri dan juga keluarga." jaeab arsya menerawang kemasa lalu dimana waktu usianya baru menginjak 3tahun sudah dimasukkan les seni bela diri.


"kenapa sebegitunya ibu lo? Ini kan bukan zaman penjajahan, tapi baik si jika untuk jaga jaga juga" tanya hasim dan dijawab sendiri


"Karena bokap gue meninggal ditangan penjahat, itulah alasan sang mommy" jawab arsya

__ADS_1


"Tapi bukan untuk tawuran juga kan?" kata hasan yang menasehati atau bisa mengintimidasi


"Supaya tidak bosan aja hidupku, masa belajar dan belajar saja. Maka dari itu kuselingi toping biar lebih menarik" jawab arsya nyeleneh


"hmmm terus untuk balapannya?"


"kalai itu sih mengalir dalam tubuh, bisa dikatakan bakat turun temurun"


"mana ada bakat jelek turun temurun" kata hasim nyolot


"nyatanya ada, my mom dulu waktu muda ehhhhm gak ada lawan" kata arsya dan mereka yang mendengar saling pandang


"mami lu pembalap?"


"iya, "


Hasan gelengkan kepala dan juga menggaruk keningnya.


"Ntar lu bisa buat sinetron bro, yang berjudul mertuaku pembalap handal" hahahaha ejek hasim yang nambah cenut-cenut dikepalanya


"Begitu luar biasa keluargamu dek, semoga aku bisa imbangi nantinya" kata hasan serius


"semoga saja, ada 1 tujuan hidup gue yang belum kelar" kata arsya menggenggam erat kedua tangannya


"apa itu?" tanya mereka bebarengan


"balas dendam, nyawa dibalas nyawa" ucap arsya mantap


"astagfirullah syaaaa.... Istigfarrrrr."


"ada ada aja lu sya,,, ingettttt, jangan ikuti dendam yang tak berujung"


"iya dek, nanti bisa celaka dan juga dosa ganjarannya neraka" kata hasan menasehati


"tuh dengerin kata pak ustadz" imbuh hasim menimpali tapi tak ada sautan dan mereka kompak noleh ke arah belakang


"TIDURRRRR...? " kata mereka barengan


"ampe mulut berbusa juga gak bakal dia dengar, dasar anak kecil" sungut hasim yang tak terima jika tak ada jawaban.


Hasan tersenyum melihat kebelakang melalui spion didepannya


"semoga dendam dihatimu hilang, dan bisa meringankan beban sang ayah disurganya." ucap hasan dalam hati


"kemana kita???" tanya hasim


"pulang kepondok saja" jawab hasan


"Siippp gue dah lama gak kesana, kangen juga suasan disana" hasim tersenyum membayangkan kocaknya dia saat membantu hasan mengisi kelas dimadrasah al ikhlas, dia dari keluarga yang minim agama mana tau pelajaran madrasah, untuk membaca tulisan arab saja belum lancar, malu kan hasim dibuatnya.

__ADS_1


"


__ADS_2