
"Sendirian?" tanya brian yang duduk disebelahnya
"...." arsya hanya melirik saja
Brian geram dikacangin pagi-pagi, dia merebut makanan arsya dan memakannya.
"Ayo aaaa...." pintanya ingin menyuapi arsya
Arsya masih dengan muka datarnya melihat kearah brian.
"Mau disuapi pake sendok apa mulut" bisik brian ditelinga arsya
Arsya masih saja terdiam dengan wajah datarnya
Brian tersenyum jahil, dia menyendok sesuap dengan cepat meraih bibir didepannya.
Cup
Arsya melotot dan memberontak, tubuhnya digapit brian sehingga tak bisa bergerak.
Arsya masih saja tak mau membuka mulutnya, terpaksa brian menggigit kecil bibirnya arsya dan terbuka seketika. Dia memainkan makanan dimulutnya dan melempar kedalam mulut arsya dan mengapsen mulutnya, pagi-pagi yang sepi sangat mendukung brian melanjutkan lidahnya menari-nari didalam sana ketika makanan sudah ditelah arsya.
Arsya memejamkan mata dengan reflek merasakan gerilya merasuki tubuhnya, rasa yang begitu nikmat menurutnya.
Pikirannya melayang-layang entah kemana.
"Nafas sya" ucap brian yang membuat arsya membuka mata dan bernafas.
Brian yang melihat tertawa sarkas dan berlalu meninggalkannya.
"Brian breng***" makinya teriak-teriak
Pipinya memerah, jantungnya berdetak tak beraturan, tubuhnya terasa panas dingin.
"Kenapa dengan diri gue? tiba-tiba sesak nih dada" gumamnya lalu menggeleng-gelengkan kepalaa.
Disepanjang jalan brian tersenyum merekah, harinya yang suram kemarin seakan hilang. Bibirnya dipegang
__ADS_1
"Masih terasa basahnya" ucapnya lirih dan tersenyum manis
"Kenapa lo" tanya alex dkk yang melihat brian senyum-senyum kehabisan obat
"Kenapa emangnya?"
"Bukan menjawab malah tanya balik"
Brian tak menjawab meninggalkn temannya masuk kedalam kelas.
Arsya yang masih betah dikantin sudah ditemani teman-temannya.
"Pulang sekolah kita nongki-nongki yok"
"ayooooo" ucap mereka serentak kecuali arsya
"Lo ikut kan sya"
"Iya" jawabnya dengan masih mengingat kejadian tadi pagi.
"lo kenapa sya? lo sakit?" tanya temannya yang melihat arsya memukul keepalanya pelan
"Ayo kita antar ke UKS"
"Tidak, gue bisa sendiri. Gue duluan ya" ucapnya pergi meninggalkan temannya
"Beneran gak mau diantar" teriak temannya dan arsya menggeleng
Brian tak melihat arsya masuk kelas setelah jam istirahat, dia selalu melihat kearah pintu masih saja arsya tak nampak.
"kenapa lo? cari arsya?" tanya tisya yang melihat brian seperti mencari seseorang
Brian diam dengan menampilkan hawa dingin.
"Ck, biasa aja kali tuh muka. Dia di UKS katanya...."
Belum juga selesai brian sudah berlari meninggalkan kelas.
__ADS_1
"Mau kemana lo, bentar lagi masuk" teriak alex
"Nitip absen" jawabnya didepan pintu
Di UKS
Arsya memejamkan mata diatas tempat tidur yang disediakan untuk siswa siswi yang sakit, dengan tangan bertumpu diatas mata.
Brian masuk diam-diam dan duduk disamping keranjang yang ditiduri arsya.
Sudah hampir 30 menit brian terdiam memandang arsya yang memejamkan mata. Dia jenuh tak tahu harus ngapain.
Brian mengulurkan tangannya kekening arysa.
"Normal" ucapnya yang membuat arsya terduduk dengan reflek
"Ngspain lo" kata arsya sinis
"Kamu kenapa? apa yang dirasa?" tanyanya lembut dan mengubah kata bukan lo gue lagi
Arsya mengernyit
"Ayo Aku antar pulang, apa mau kerumahsakit?" tanyanya lagi
"Gak perlu"
"Kamu cukup diam dan nurut" putusnya dan mengangkat arsya keluar UKS.
"Turunin gk!" teriaknya membuat brian limbung dan ingin jatuh
"Diam, nanti jatuh sya" kata brian lembut
"gue mau turun" teriak arsya lagi
Brian tak menghiraukan ucapan arsya, dia tetap melanjutkan jalannya menuju parkiran tanpa memperdulikan mata yang memandang.
"Kalau kamu gerak terus, aku cium nih" ucapnya mencodongkan wajahnya mendekat
__ADS_1
Arsya reflek terdiam dan membuat brian tersenyum
"Good Girl"