
Jodoh.. Maut... Rezeki.. Sudah ada yang mengatur.
Tidak ada yang harus ditakuti, tidak mendapatkan jodoh. Sekarang cinta, sedetik kemudian benci, semua itu juga sudah diatur NYA. Membolak balikkan perasaan seseorang semudah membalikkan telapak tangan, begitu ibaratnya.
Ridho Allah sama halnya Ridho seorang ibu, jika seorang ibu tidak meridhohi ataupun ikhlas hati maka Allah akan mengabulkannya.
Arsya yakin, dengan menuruti kata mommy nya selagi tidak melewati larangan Tuhan. InsyaAllah bahagia dunia ahirat ganjarannya.
Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, arsya memutuskan tidak berhubungan dengan brian. Dia mencoba untuk berfikir realls tanpa memakai hati.
Semua teman-teman datang menengok arsya dan tak ketinggalan brian dkk.
"Hai syaaaa, apa kabar?"
"gimana keadaannya?"
"lo hobi banget sakit"
"Hai tanteeee.... Kita datang jenguk Arsya, sampe lupa menyapa" hehehe kemudian dilanjut salim bergiliran.
"Iya gapapa, makasih yaaa sudah mau datang kesini jenguk Arsya" jawab momy elsa dan tiba-tiba dingin disaat giliran brian yang salim
Tok tok tok
"permisi bentar.. Mau periksa yaaa... Wah rame sekali yaaa. Si jutek banyak juga fansnya" ucap dokter hasan diselingi bercanda
"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya lagi pada arsya
__ADS_1
"masih sama" jawab arsya lemah
"Hadduhhh kasian sekali, sijutek masih lemah ternyata. Banyakin istirahat ya bidadari syurgaku... Permisi ya ibu mertua" percapan ahir yang diselingi bercanda
"Iya mantuuu..." kata elsa mengikuti bercandanya dokter.
"Ibu mertua.. Mantu???. Tante, dokter tadi mantu tante?" tanya uli polosnya
"iyaa, dia calonnya arsya" jawabnya tersenyum manis yang membuat heboh teman-teman
"waaaahhhh calon nyonya dokter ternyata"
"wuiihh bagus juga seleramu sya"
"nunggu traktiran ini"
"Siapalah aku???? Bukan siapa-siapa." batin brian yang menciut, dia harus bisa menerima kenyataan. Mungkin dengan begini prasaannya bisa jauh lebih baik begitu putusnya.
OH Tuhan, kutitipkan dambaan hatiku padamu. Engkau yang tahu dan mengerti pada siapa pujaan hatiku disandingkan nantinya.
Sedangkan teman yang lainnya sibuk betcanda, Arsya terdiam lemah mendengarkan saja.
Untuk mommy elsa, dia keluar bentar katanya.
Tak sengaja pandangan mata mereka bersibobrok satu sama lain seakan saling bicara.
Brian mendekat kearah arsya yang sedang berbaring,
__ADS_1
"Kenapa bisa begini? Jaga kesehatan, jangan lembur terus" kata brian menasehati
Tak ada respon pada arsya, hanya terdiam mendengarkan.
"Jika kamu tidak mau berhubungan denganku, seenggaknya bisakah kita berteman? Untuk langsung menjauhimu aku tak bisa, butuh waktu. Siapa tahu dengan menjadi teman aku bisa menerima semua ini" kata brian panjang lebar dengan tulus.
"Diusahakan" jawaban yang lemah
"Terimakasih, semoga ini keputusan yang terbaik untuk semua."
"Aminnnnnn" dijawab serentak teman-teman lainnya.
Sudah malam saja mereka bercanda tawa bersama, dan ahirnya memutuskan untuk pulang.
Pagi hari nampak arsya sudah terlihat segar tak pucat seperti kemarin kemarin.
"Mom.... pulanglah, istirahat. Arsya sudah sehat, masak gantian mommy yang sakit" pinta arsya pada mommy nya.
"Mommy gk capek kok, kalau capek nanti mommy pasti istirahat" jawabnya yang sudah merasa lega melihat putrinya sudah baikan. Elsa berusaha untuk memerhatikan putra putrinya, dia tidak akan fokus kemasa lalu terus yang tak ada ahirnya yang ada anak menjadi taruhannya.
"Baiklah mom, caca gak mau lihat mommy sakit pokoknya. Harus janji"
"Siapppppp tuan putriiii" candanyaaaa....
_______________
Bagaimana kabar semuanya, terimakasih yang masih mengikuti di karyaku sebatangkara 2 ini.
__ADS_1
Author akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi, mohon dukungannya ya teman teman.