
Sejak terahir ketemu arsya, brian mencoba mengasah kemampuannya dibidang otomotif. Ia mulai bisnis dari nol dengan cara menerima panggilan demi panggilan untuk memperbaiki kendaraan customernya.
Bahkan para sahabat sudah menawarkan modal untuk memulai bisnis, apalah daya. Brian tolak mentah-mentah. Ia tak mau kesuksesannya ada campur tangan orang lain meskipun itu sahabatnya.
Ia ingin mengetahui sampai mana kemampuannya untuk memantaskan diri bersanding dengan kekasih hatinya.
Jika mengingat itu brian seakan tak punya lelah, ia terus berjuang dan berjuang.
"Dengan menyibukkan diri setidaknya mampu melupakan dia sejenak." gumamnya tersenyum tipis
Sekarang brian sudah kelas XII, Tidak lama lagi lulus dan kuliah. Hidupnya akan semakin sibuk, dengan begitu fokusnya tak lagi dia.
"Gue kangen sya," gumamnya lagi tak melihat dan mendengar kabar pujaan hatinya.
Sejak pertemuan terahir, arsya memutuskan tidak lagi meneruskan sekolah. Dia tak ingin bertemu brian lagi, ia juga sudah S2 Bisnis. Jadi buat apa lagi sekolah.
"Buang² waktu, fokus kerja lebih baik" itu yang diucapkannya saat memutuskan berhenti sekolah.
Arsya sekarang menjadi pribadi yang sangat dingin, gila kerja dan tak tersentuh. Ada salah dikit jangan harap bisa bekerja lagi, langsung pecat.
Arka sebagai saudaranya merasa kasian terhadap kembarannya yang berubah 180°, meskipun dikeluarga sikap arsya masih hangat. Arka tahu isi hati saudaranya yang terluka amat sangat.
Cinta pertama kandas begitu saja tanpa bisa diperjuangkan.
"Caca maafin aku, aku tak bisa membantumu" gumamnya melihat arsya yang baru pulang kerja
__ADS_1
"Lom tidur?" sapa arsya pada arka
"Bentar lagi" jawabnya dan diangguki arsya dan berjalan menuju kamarnya
"Ca... " panggil arka dan arsya berhenti dengan menengok arka dibelakangnya
"Jangan capek² ya...." pintanya yang dijawab dengan tersenyum dan melanjutkan jalan
"Ca...." panggil arka lagi
"Apa?? aku capek mau istirahat !" tanyanya malas
"Sudah makan? aku buatin nasi goreng kesukaanmu ya?"
Arsya tersenyum dan mengangguk melanjutkan kekamarnya untuk bersih².
"kalau dirumah tinggalkan kerjaan, cepat makan dan istirahat"
"Thanks ka, terbaikkkk...." ucapnya dengan mengacungkan jempolnya
Arka tersenyum dan mengusap kepala arsya "Aku balik kamar, jangan capek² setelah makan langsung istirahat" dang hanya diangguki arsya yang sedang penuh dengan nasi goreng mulutnya.
"Akan gue lakukan apapun untuk kebahagiaan mereka" ucap janji arsya
___________
__ADS_1
"MOMMMM... ARSYA MOMMM...." teriak arka kuat yang melihat saudaranya tergeletak dilantai.
Elsa yang mendengar secepat mungkin masuk kamar arsya "Arsya kenapa ka?"
"Arka gak tau mom, waktu arka kesini sudah melihat arsya dilantai" ucapnya gugup
"Ayo ka angkat, bawa arsya kerumah sakit. Ayo ka cepat buruan" kata elsa yang panik
"Iya mom"
Dilobi rumah sakit arka berjalan cepat dengan arsya digendongannya dan segera ditangani.
Terlihat dokter keluar dari ruangan setelah arsya dipriksa.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya arka yang langsung berjalan cepat menghampiri, elsa? dia lagi terduduk tak kuat berdiri serasa tak bertulang kakinya.
Dokter tersenyum "Pasien baik2 saja, tidak ada yang serius. Dia tipes, usahakan makan tepat waktu ya. saya permisi" jawabnya dengan ramah dan undur diri dan diangguki arka
"Maafkan kakak ya dek, kakak tak menjagamu" ucapnya lirih disamping brankar arsya,
"Bukan salahmu nak, ini semua salah mommy. Mommy sudah gagal merawat kalian, mommy tidak memperhatikan makan kalian, mommy lalai nak, mommy.... hik..hik" kata elsa yang terus menyalahkan diri sendiri dan bergetar tubuhnya.
Arka mendekap tubuh rapuh mommy " Jangan bilang gitu lagi mom, arka tak suka. Janji mom"
Namanya juga orang tua, meskipun sakitnya anak² tidak parah tetap saja sakit, itu pasti berimbas menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
Sehebat apapun orang tua, akan kalah jika anaknya terluka.