Sebatangkara 2

Sebatangkara 2
Hilang Kendali


__ADS_3

"Dimana alamatmu? tanya brian yang masih fokus dengan setir mobilnya


"Gue bisa pulang sendiri, cepat berhenti" ucapnya sinis


Brian tak menanggapi, laju kecepatan mobil ditambah seketika menuju mansionnya.


Brian keluar dan berlari menghampiri pintu sebelah kemudi mobil untuk mengendong arsya.


Apa yang dilakukan arsya?


Dia hanya pasrah, karena berteriakpun percuma menurutnya.


Dia sudah pusing dengan kelakuan brian sejak tadi.


Dan dia juga heran, kenapa dia tak memberontak saja padahal ia mampu bahkan mudah untuk melepaskan diri. Entahlah hatinya berkata dia ingin bersama brian untuk sementara, apakah sudah nyaman? my be


Brian masuk kedalam kamarnya dan membaringkan arsya diatas kasur ternyamannya.


"Istirahatlah, aku buatkan makan untukmu supaya kamu bisa minum obat"


Arsya terdiam saja, mulutnya ingin berucap kalau dia tidak sakit.


Biarlahhh....


Arsya melihat sekitarnya, kamar yang ber cat abu-abu dan putih khas pria menurutnya. Barang-barang tertata rapi, cukup bersih. Biasanya kamar cowok identik berantakan.


Dia bosan tak ada yang dikerjakan, arsya iseng duduk dimeja belajar brian dan membuka lacinya.


"Foto siapa ini?" gumamnya melihat foto gadis cantik memakai dress dusty pink dengan rambut panjang sebahu.


Entah kenapa dadanya terasa teremas benda tak kasat mata.


Clekkk


Pintu kamar tiba-tiba terbuka bersamaan foto gadis tersebut jatuh kelantai.


Arsya terdism dengan tatapan tak bisa diartikan, sedangkan brian yang sadar akan foto tersebut dengan cepat mengambilnya lalu melihat arsya.


"Gue mau pulang" ucapnya lalu berdiri dan melewati brian


Sebelum arsya melewati tubuh brian tangannya sudah dipegang dan masuk lagi kedalam kamar.


"Makan dulu, nanti aku antar pulangnya"


"Gue bisa sendiri" ucapnya melepas genggaman brian tapi tak bisa karena terlalu kuat pegangannya.


Brian menarik arsya kedalam pelukannya, arsya terdiam tak merespon.


"Jangan salah paham, dia bukan siapa-siapa" katanya menjelaskan tanpa arsya minta. Brian termasuk cowok yang peka bukan.


Arsya masih terdiam saja, hatinya seakan menghangat tak seperti tadi.


"Jangan pergi dariku, aku sayang sama kamu sya" ucapnya lagi

__ADS_1


Tubuhnya bergetar


"Apa dia nangis" batinnya arsya


"Aku mohon jangan pergi dariku" ucapnya melepas pelukannya dan masih memegang kedua pundak arsya memandangnya dalam-dalam.


"Aku mohon sya" katanya lirih dengan mata berkaca-kaca


Arsya reflek mengangguk


"Thanks ya sayang" katanya memeluk arsya lagi


"Hmmm"


"Ayo makan dulu, setelah itu minum vitamin biar tidak sakit" pintanya lembut dan tersenyum hangat.


Sikap brian yang berbeda membuatnya bingung, mana brian yang dingin dan cuek? Arsya masih belum bisa memahami semua ini.


Arsya ikut saja kemana brian menarik tangannya.


"Ayo duduk, aku suapi"


"Gue sendiri"


"Baiklah jika nolak, sepertinya kamu menginginkan suap-suapan dengan mulut" katanya tersenyum licik


"Gak, cepat jika nyuapi" arsya tak habis pikir, ada yang salah diotaknya brian sepertinya.


"Sekarang apa tidak sama sekali" sinisnya menutupi kegugupannya.


"Sialan nih orang, kenapa juga jantung gue. Apa benar gue lagi sakit?" gumamnya dalam hati yang merasakan dirinya tak baik-baik saja.


"Kenapa sya lihatnya begitu amat, mau lagi seperti tadi pagi hmmm" katanya membuat arsya reflek mengangguk dan menggeleng seperti orang bodoh


Brian tersenyum lalu mendekat


Cup


Brian ******* bibirnya arsya penuh nikmat dan mengambil alih makanan dimulut arsya.


Mata arsya melotot yang mendapatkan serangan tiba-tiba. Meskipin begitu dia mulai menikmati semua yang dilakukan brian.


Awalnya brian ingin ngerjai arsya, malah dia yang keterusan ******* bibir merah muda yang penuh gairah itu.


******* demi ******* brian lakukan membuat arsya memejamkan matanya, tangan arsya reflek memegang dada brian dan merabanya halus.


"Ahhhhm"


Lenguhan arsya ketika ****** brian beralih keleher jenjangnya. ******* dan gigitan kecil brian berikan membuat arsya melayang dan melenguh beberapa kali membuat brian tak bisa berhenti.


Baju atas arsya sudah terbuka beserta ** nya, entah kapan brian membukanya. **** yang menyembul mulus membuat brian susah melenan salivanya.


Cup

__ADS_1


Brian langsung *******nya setelah tidak ada pemberontakan dari arsya.


Warna kebiru-biruan sudah nampak banyak disana.


Arsya meremas rambut brian ketika sesuatu memasuki in***nya,


"Ahhhhh briannnn"


De***nya yang penuh gairah, arsya sudah berada di**** pangkuannya dan menghadap kearahnya. Tangan brian nakal memasuki in*** arsya membuatnya mendesah nikmat.


"Kamu sudah b**** sayang" ucapnya lirih dengan mata sayunya. Apa lagi jantungnya seakan terpompa begitu cepat begitupun dengan arsya.


Disaat arsya ingin klimaks brian mempercepat ritme jarinya membuat **** arsya semakin melebar keenakan.


Dengan reflek arsya menarik kepala brian kedadanya yang polos dan menekannya kuat.


"Briannn ahhh.... gue gak tahan lagi" rancaunya dengan mata terpejam seakan minta lebih.


Brian memasukkan juniornya kedalam ***** arsya yang berada diatas pangkuannya.


"Apa enak sayang?" ucapnya dengan memainkannya didalam sana.


"Hmmmm ayo tekan lagi brian.... Ahhhmmm gue.. gue ingin itu"


Brian tersenyum dan m****** bibir arsya dan tak lupa permainan dibawah sana masih berlanjut.


"Cukup segini sayang, aku tak mau merusaknya sebelum ada ikatan" kata brian yang membuat arsya kecewa karena nafsunya sudah diubun-ubun.


Tak disangka arsya menarik ju**** brian dan menekannya, tapi tak sampai menghancurkan selaput **** nya brian sudah mengambil alih.


"Sabar sayang, nikmati seperti ini dulu" ucapnya lirih terengah engah.


"Cepat dikit, gue mau pi*** nih" katanya memegang kepala brian lagi didekap didadanya


Brian menambah ritme nya untuk mendapatkan klimaks kenikmatan.


"Ahhhhhhhhh " desahan keduanya.


"Kamu liar juga ternyata sayang" ucapnya lirih didada arsya yang polos.


Keringat bercucuran akibat olahraga mereka diatas kursi.


Brian tersenyum melihat arsya yang salah tingkah ketika sadar dia toples bagian atasnya.


"Ayo mandi" brian mengangkat arsya kedalam kamar mandi dan meletakkannya didalam bathup.


"Aku keluar ya, teriak saja kalau butuh apa-apa"


Arsya hanya mengangguk saja.


Arsya terdiam didalam sana


"Bodoh, apa yang gue lakukan tadi. Ck memalukan" makinya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2