Sebatangkara 2

Sebatangkara 2
Dikasih tantangan


__ADS_3

Umi berlari memeluk arsya sambil nangis sesenggukan, arsya yang belum siap akan limbung tubuhnya jatuh.


"Tenang mi, semua baik baik saja" kata arsya menenangkan


"Umi takut kamu kenapa napa nak, apa ada yang sakit mana yang sakit, kasih tau umi" kata umi penuh perhatian arsya tersenyum dan memeluk ummi kembali


"Arsya baik baik saja umi, itu anak ummi yang butuh bantuan sepertinya" senyum arsya yang lupa pada anaknya sendiri.


Ummi menepuk jidatnya


"Astagfirullah hasan, kenapa bisa kamu jadi seperti ini. Mana yang sakit"


"sakit hasan hilang mi, setelah melihat bidadari menyelamatkan kita semua"


"Terimakasih nak arsya, abah sangat berhutang padamu"


"Abah, arsya dianggap anak sendiri dan diterima disini sudah sangat sangat berterimakasih. Lihat arsya!!! Yang seperti preman saja kalian masih mau menerima disini. Itu sudah jadi bukti kalau orang orang disini tak mandang fisik, hati kalian baik, arsya bahagia bersama kalian" ucap arsya dengan haru yang dipeluk ummi lagi.


___________________


Suara adzan subuh berkumandang, arsya ikut menunaikan ibadah sholat subuh dimasjid bersama sama. Saat melewati santriwati arsya tersenyum ketika disapa, tak menyangka dirinya bisa berada dimasjid bersama orang orang baik.


"Yaaa Rob.... Ampunilah dosa dosaku, istiqomahkanlah diriku agar menjadi hambamu yang selalu bersujud pada Mu" kata arsya dalam hati, tak terasa air mata menetes. Sudah lama arsya tidak pernah merasakan tangis, apalagi tangis dengan setulus hati.


"Nak arsya, sini" panggil umi yang melambaikan tangan memanggilnya dan arsya mengangguk saja melewati para santri yang sudah berjejer rapi, sedangkan disamping bu nyai masih kosong satu.


"Disini, samping ummi" kata ummi tersenyum.


"iyaa"jawab arsya yang sudah waktunya iqomat, semua mulai mensejajarkan barisan.


Arsya menangis dalam sholat, dia tak menyangka jika dia sudah semakin jauh pada sang pencipta. Sampai rakaat terahir dan selesai ummi merangkul arsya yang sesenggukan.


"kenapa nak?" tanya ummi siti


"arsya banyak dosa mi, arsya terlalu jauh pada sang pencipta, arsyaa....." ucap arsya terpotong tak kuat melanjutkan


"Bertobatlah nak, mohon ampunannya. Allah yang maha pengampun.." kata ummi memberi wejangan dan arsya mengangguk


"semoga hidupmu selalu bahagia nak, kamu anak baik." ucap ummi, meskipun seorang nyai dari pondok pesantren beliau tak malu merangkul ummat yang tersesat, dan ingin menjadikan mantu. Banyak perempuan diluar sana yang alim, tapi entah kenapa ummi siti begitu suka pada arsya sejak pertama bertemu.


"Nak arsya, ayo ikut ngaji bersama" ajak ummi, yang ingin tau kepribadian arsya seperti apa.


"Silahkan nak" imbuh ummi lagi yang menyodorka mic ke arsya


Arsya terdiam sebentar dan meraih mic tersebut, mungkin sudah saatnya dia menjadi lebih baik lagi pikirnya.


Tanpa rasa takut arsya melantunkan ayat ayat suci al-Qur'an dengan fasyih dan benar mahrojnya tanpa ada yang salah. Ummi tersenyum bangga, semoga pilihan putranya tidak salah dan semua atas izin dari Nya.

__ADS_1


Santri yang ikut ngaji menyimak dan tak menyangka, memang benar istilah Don't judge a book by its cover.


Untuk kegiatan pagi ini selesai, dan santriwati pada beberes siap siap berangkat sekolah.


"Bu nyai kita pamit berangkat sekolah" kata mereka berpamitan bergantian


"Ayo nak, kita sarapan bersama" ajak ummi


"siap mi, arsya kangen makan makanan apa dulu mi namanya?" tanya arsya yang mengingat pertama kali makan bersama, umi tersenyum geli mendengarnya


"ikan asin" jawab ummi tersenyum


"iya itu, menunya ada itu pa tidak?" tanya arsya lagi


"selagi calon mantu ummi yang minta pasti ummi sediakan" jawab ummi bercanda


"ummi bisa aja ngelawaknya" canda arsya balik


"ya sudah ayo cepat sarapannya, nak arsya keburu pulang nanti"


"ummi ngusir arsya?" kata arsya cemberut


"bukan itu maksud ummi, siapa tau nak arsya sibuk kan?" tanya ummi siti balik


"arsya libur hari ini, capek mi." katanya yang mengeluh pada calon mertua


Hasan dan hasim gergetan melihat tingkah arsya yang tak merasa bersalah dan tak mau menjawab.


"Kami tak sengaja bertemu dijalan bah" jawab hasim dan abah masih ragu dengan jawabannya


"apa benar hasan?" tanya abah lagi pada hasan


"iii...yaaaa bah" jawabnya gagap karena tak pernah berbohong. Abah mendesah tak percaya


"bagaimana dengan jawabanmu nak arsya?" tanya abah yang melihat kearah arsya yang sudah selesai sarapannya


"Arsya dari kantor polisi bah" jawabnya jujur, meskioun nakal dia tak pernah berbohong


"kantor polisi???" tanya abah umi barengan dan diangguki, sedangkan hasan dan hasim sudah menutup mulutnya rapat rapat


"hasannnn hasimmmm jawab abah dengan jujur, dari mana kalian?"


"kantor polisi bah" jawab mereka bersamaan


"kenapa kalian berada dikantor polisi? Kalian melakukan kesalahan apa?"


"hasan tak berbuat salah"

__ADS_1


"hasim juga tidak"


Abah ummi melihat kearah arsya yang belum ada jawaban.


"Aslinya bukan berbuat salah, tepatnya melanggar aturan" jawab arsya


"aturan apa nak?" tanya ummi


"arsya ikut balap liar mi" jawab arsya jujur


"astagfirullah...." jawab abah umi barengan


Bagaimana dengan hasan dan hasim? Mereka saling pandang dan terdiam mendengarkan


"Kenapa abah umi?" tanya arsya yang mendengar


"Nak arsya ikut balapan?" tanya ummi dan diangguki arsya mantap


"Arsya cuma mencari hiburan ditengah kesibukan dan kejenuhan saja mi" jawab arsya jujur


"Ummi awalnya kagum melihat nak arsya yang bisa membantu dari para preman, tapi setelah mendengar kelakuan nak arsya yang ikut balapan jadi ngeri" kata ummi


"Ngeri kenapa mi, seru kok hehe"


"nak arsya kan perempuan, bahaya."


"arsya sudah biasa mi, tenang saja" jawab arsya yang mendapat gelengan dari semuanya


"mau sampai kapan?" tanya abah lagi


"Entahlah bah, arsya hanya cari hiburan saja dimasa muda begini"


Percakapan mereka pagi ini selesai menegangkan yang mendengar mereka keacara balapan apalagi sampai masuk ke kantor polisi. Abah yang setiap harinya diisi dengan tausiah tausiah supaya menjadi lebih baik sedangkan yang didekatnya malah berulah.


Begitulah kehidupan, jika lurus terus terasa hampa sekali kali berbelok selagi tidak dilarang oleh ajarannya.


Abah dan umi masih bisa mentoleransi selagi masih dalam hal wajar, dan dikasih peringatan.


"Abah tidak mau mendengar kalian masuk kantor polisi lagi"


"Iya bah, " jawab hasan dan hasim


Arsya tersenyum saja dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"arsya tidak janji bah, arsya suka hal yang menantang" jawab arsya


"baiklah jika kamu suka hal yang menantang, lusa nak arsya bisa ikut abah mengisi tausiah di RT sebelah." kata abah tersenyum yang melihat arsya terdiam seperti orang berfikir.

__ADS_1


"Jangan berfikir untuk kabur" imbuh abah lagi sepertinya tahu apa yang ada dalam pikirannya.


__ADS_2