
Balas dendam, nyawa dibalas nyawa" ucap arsya mantap
"astagfirullah syaaaa.... Istigfarrrrr."
"ada ada aja lu sya,,, ingettttt, jangan ikuti dendam yang tak berujung"
"iya dek, nanti bisa celaka dan juga dosa ganjarannya neraka" kata hasan menasehati
"tuh dengerin kata pak ustadz" imbuh hasim menimpali tapi tak ada sautan dan mereka kompak noleh ke arah belakang
"TIDURRRRR...? " kata mereka barengan
"ampe mulut berbusa juga gak bakal dia dengar, dasar anak kecil" sungut hasim yang tak terima jika tak ada jawaban.
Hasan tersenyum melihat kebelakang melalui spion didepannya
"semoga dendam dihatimu hilang, dan bisa meringankan beban sang ayah disurganya." ucap hasan dalam hati
"kemana kita???" tanya hasim
"pulang kepondok saja" jawab hasan
"Siippp gue dah lama gak kesana, kangen juga suasan disana" hasim tersenyum membayangkan kocaknya dia saat membantu hasan mengisi kelas dimadrasah al ikhlas, dia dari keluarga yang minim agama mana tau pelajaran madrasah, untuk membaca tulisan arab saja belum lancar, malu kan hasim dibuatnya.
___________________
Mereka sampai diponpes sekitar pukul 03:00 dini hari, terlihat suasana dimasjid masih ramai menunaikan sholat tahajud, dzikir dan mengaji.
Begitu indah untuk dilihat begitu merdu untuk didengar, samar-samar arsya mulai membuka mata.
"Dimana aku, ada orang ngaji?" tanya arsya mengucek matanya yang terasa berat, dia masih ngantuk.
"Di rumah abah umi dek" jawab hasan, sedangkan hasim sudah nyelonong masuk meninggalkan mereka. Buat apa jadi nyamuk begitu pikirnya
"Kenapa kesini? Mau buka aib ku didepan abah umi?" tanya arsya yang melihat penampilannya celana sobek sobek kaos oblong dan jaket sudah seperti preman saja.
"Terus mau kemana lagi? pulang kerumah mommy??? bisa bisa digorok nanti" tanya hasan pada arsya
"Kehotel kan bisa" jawab arsya
"Itu tambah gak mungkin dek, jika bertemu dengan orang yang ku kenal bahaya, nama abah umi yang jadi taruhannya" ucap hasan yang memikirkan nama baik kedua orang tuanya yang menyandang kiyai diponpes
"Terus aku gimana?" tanya arsya dengan melihat penampilannya
"Ya ayooo ikut masuk, nanti bisa ganti pakaianmu dulu yang pernah ketinggalan disini" jawab hasan memberitahu
"Yakin ini keluar dengan pakaian begini?" tanya arsya lagi yang masih ragu tidak seperti biasanya yang PD pakai apapun.
"Iya, mumpung belum terlalu ramai. Ayo buruan" kata hasan lagi dan arsya mengikutinya dibelakang.
Celana jins sobek sobek tak beraturan disenadakan dengan kaos oblong putih dan juga jaket kulit hitam, tak lupa kacamata. Arsya membuntuti hasan dengan santainya bak model fashion show.
Para santri yang ada dimasjid melihat pemandangan yang luar biasa menurutnya, ustadz putra dari pak kiyai pemimpin pondok pesantren pulang bersama perempuan yang jauh dari kata alim, tepatnya seperti preman jalanan tapi kok cantik begitu pikirnya.
"Siapa itu"
"iya siapa yang bersama ustadz ya"
__ADS_1
"temennya mungkin"
"masak ustadz berteman dengan perempuan begitu?"
"Cantik sih, tapi lebih cantik lagi jika berjilbab"
"Iya, cantik"
Arsya yang mendengar sudah terbiasa, dia masa bodo berbeda dengan hasan yang menunduk malu.
"Jangan melihatku seperti itu, ini fashion. Aku masih nyaman seperti ini" kata arsya yang menjawab sebelum diberi pertanyaan
"Huuuffttt iyaaaaa, semoga setelah kita menikah nanti kamu bisa menyukai hijab" kata hasan tersenyum yang masih berdiri didepan pintu rumah.
BRAKKKKKK BRAKKKKK BRAKKKKKK
Suara gedoran gerbang depan pondok pesantren, semua santri baik laki laki dan perempuan keluan untuk melihat apa yang terjadi.
Arsya dan hasan juga ikut berlari kesumber suara sampai lupa dengan penampilan arsya.
Beberapa orang berbadan besar datang marah marah dan berkelahi dengan para santriawan yang tak ingin pondok pesantrennya dihancurkan.
BUGHHHH
AHHHHH
KREKKKK
AAAAKKKJHHHHH
Teriak para santri yang jelas akan kalah jika beradu otot, hasan juga ikut melerai perkelahian, dia kualahan dan terjatuh.
"Ck cewek brooo, cepat minggir kalau tak mau nangis"
"Hahahaha minggir cantik, gue gak mau melukai cewek cantik"
Bughhhh
Arsya menendang mulut yang sungguh menjijikkan, dia yang awalnya ngantuk hilang seketika. Jam segini dipaksa olahraga yang berat.
Suara jeritan para santri yang melihat arsya berkelahi begitu mengganggu menurut arsya, dia segera mungkin menyelesaikan agar dia cepat beristirahat.
"Kenapa kalian mengganggu pesantren ini?" kata arsya yang mencekik salah satu preman
"gu.. Gue di.. Su..ruhh"
"Siapa yang menyuruh dan tujuannya apa?"
"Pak panji, dia menginginkan pesantren ini dihancurkan"
"CEPAT HUBUNGI BOS LO, suruh dia kesini. Sebelum gue murka" kata arsya yang berubah sadis.
📲boss panji
"Halo bos, cepat kemari"
"ada apa dengan kalian? Kenapa juga gue harus kesana? Gue kan sudah bayar kalian"
__ADS_1
"cepat kesini dalam waktu 10 menit atau nyawa lo gantinya" kata arsya
"Siapa lo berani mengancam haaaah" katanya songong
"GUE ARSYA DININGRAT CEO DARI DININGRAT CORP" jawabnya langsung mematikan HP nya
TUT
Para preman tersebut takut, tidak nyangka dis bisa bertemu dengan orang besar yang banyak ditakuti.
"Ampuni kami nona"
"kami minta maaf"
"kami tak akan mengulanginya nona"
"kami tidak tau jika ini tempat nona"
Kata preman memohon ampun bergantian
Waktunya tinggal 3 menit, arsya duduk melihat pergelangan tangannya.
Hah hah hah
Panji datang terengah engah, dia tidak mau berurusan dengan orang teekuat dikotanya. Bisa habis dia.
Brukkkk panji sampai terjatuh didepan arsya
"maafkan saya nona, saya tidak lagi berbuat seperti ini" katanya sambil mengap mengap hampir kehabisan nafas
"Coba katakan, apa permasalahannya?" tanya arsya datar
"Tidak ada masalah, hanya saja saya ingin mebuat usaha disini nona?"
"Ini lahan punyaa siapa? Atas nama siapa?"
"dulu ini punya ayah saya dan sudah diwakafkan untuk pesantren pak kyai ahmad, maafkan saya, saya hilaf nona"
"Baiklah, saya maafkan. Jika saya melihat kalian semua mengobrak abrik tempat ini, siap siap jantung kalian diobrak abrik juga" pesan arsya mengancam
"Saya janti nona," jawab mereka bersamaan dan arsya mengusirnya untuk segera pergi meninggalkan pondok pesantren.
Umi berlari memeluk arsya sambil nangis sesenggukan, arsya yang belum siap akan limbung tubuhnya jatuh.
"Tenang mi, semua baik baik saja" kata arsya menenangkan
"Umi takut kamu kenapa napa nak, apa ada yang sakit mana yang sakit, kasih tau umi" kata umi penuh perhatian arsya tersenyum dan memeluk ummi kembali
"Arsya baik baik saja umi, itu anak ummi yang butuh bantuan sepertinya" senyum arsya yang lupa pada anaknya sendiri.
Ummi menepuk jidatnya
"Astagfirullah hasan, kenapa bisa kamu jadi seperti ini. Mana yang sakit"
"sakit hasan hilang mi, setelah melihat bidadari menyelamatkan kita semua"
"Terimakasih nak arsya, abah sangat berhutang padamu"
__ADS_1
"Abah, arsya dianggap anak sendiri dan diterima disini sudah sangat sangat berterimakasih. Lihat arsya!!! Yang seperti preman saja kalian masih mau menerima disini. Itu sudah jadi bukti kalau orang orang disini tak mandang fisik, hati kalian baik, arsya bahagia bersama kalian" ucap arsya dengan haru yang dipeluk ummi lagi.