
"Lama banget, apa sih yang arsya cari. Sampe jamuran kita nunggunya" gerutu arka pada rere yang merasa jadi patung berdiri sejak tadi dan kakinya terasa kebas
"Jadi cowok cerewet banget sih, yang sabar napa." rere sewot mendengar arka yang ngomel seperti emak² belanja sayur depan komplek
"Capek kaki arka tan"
"Yaudah ditelfon aja" usul rere pada Arka
📱Hallo
📲Dimana?
📱Makan, kfc
Tut
"Mati?" gumam arsya yang telfonnya dimatikan sepihak
"Kita langsung ke kfc tan" ucap arka mengajak rere
"Arsya mana?"
"Dia asik makan" jawabnya dengan berjalan pergi mencari Arsya
Beberapa menit kemudian....
Sreekkkk
Suara kursi ditarik dengan kasar membuat 3 gadis tersebut terlonjak kecuali Arsya, dia masih fokus dengan hidangannya dimeja.
__ADS_1
"Apaan sih arka, ngagetin aja" omel tisa yang melihat pelakunya
"Gak bisa pelan apa nariknya"
"Tau' tuh, hampir aja gue tersedak"
"Udah ngomelnya? salahkan tuh arsya!" ucap arka menyalahkan saudaranya
"Kenapa gue dibawa²” tanyanya tak trima
" Kan emang lo yang membuat gue nunggu lama, iya kan tan?" tanya arka minta bantuan ke rere yang baru datang
"Kamu disini? kenapa gak bilang dulu? tante dah nunggu lama tadi" tanya rere pada Arsya
"Salahkan mereka bertiga tan"
"Kenapa kita? kita gak ikut²an ya!" elaknya sindi tak mengakui
"Iya tante tahu kalian tidak salah" senyum rere kepada mereka
"Jangan salahin arsya tan..." kata arsya duluan sebelum disalahkan
Mereka semua masih berbincang² mengisi perutnya. Beda dengan lelaki yang menabrak rere, dia masih saja kepikiran pertemuan yang tak disengaja. Dia merasa rindu kebersamaannya dengan rere, sampai sekarangpun dia masih sangat mencintai rere yang notabenya orang yang sudah ia hianati.
"Aku menyesal re, kenapa dulu aku hianati. Aku harap kamu mau maafin aku. Aku sangat merindukanmu" gumamnya mengingat apa yang ia lakukan dulu begitu bodoh
"Aku harus perbaiki semua ini, demi bryan" katanya dengan sungguh², dulu ia melakukan tanpa sengaja karena niat awal hanya menggertak.
Dikamar bernuansa abu² gelap terdapat seorang pria yang begitu malas menyambut hari²nya, baginya seakan dunia sudah berahir seperti kisah nya. Ia si bryan cwok populer disekolah dan banyak dipuja kaum hawa. Sikapnya sekarang tak mencerminkan kepribadiaannya, karena seorang Arsya membuatnya terpuruk tak terarah.
__ADS_1
Sungguh menghawatirkan
Apakah cinta begitu kejam ?
Kenapa begitu menyakitkan ?
Cinta bisa membuat orang bahagia
Cinta juga membuat orang terluka
"Apakah kamu juga merasakan apa yang ku rasa sya?" gumamnya dengan mata terpejam, penampilan lusuh, rambut acak²an, mata bengkak.
Apa dia menangis ??
Sungguh dalamkah cinta Brian untuk Arsya?
Hanya brian yang tahu jawabannya.
Berbeda dengan brian berbeda pula dengan Arsya, dia menyibukkan diri agar tak memikirkan lelaki yang seharusnya ia benci.
Setelah berbelanja kebutuhan, sekarang ia mulai membantu membuat promosi besar besaran di sosial medianya.
Dalam waktu dekat ini ia akan meluncurkan berbagai karya untuk menunjang kemajuan usaha baru yang digelutinya.
Dia juga harus mengurus perusahaan diningrat sebagai pewaris bisnis, karena Arka akan fokus pendidikan kedokteran sesuai keinginannya dan meneruskan Rumahsakit keluarga dibidang kesehatan.
Begitu banyak planning arsya tulis dibuku kecil yang selalu ia bawa, sebagian masih dipikirkan untuk memajukan bisnisnya.
Remaja diusianya sibuk jalan², kumpul bareng teman, sibuk mencari pacar. Tapi tidak dengan Arsya, baginya kebahagiaan mommy nya lah yang terpenting. Dia rela mengesampingkan dunianya demi membantu sang mommy supaya mommynya tidak terlalu capek.
__ADS_1
"Gue akan ikuti jejak sang mommy" kata arsya diterapkan diprinsip hidupnya seperti sang mommy yang rela mengesampingkan usia remajanya demi meneruskan perusahaan keluarga