
Elsa dan haikal pergi kerumah sakit untuk USG calon buah hatinya.
Wajah cerah dan senyum merekah menghiasi keduanya, mereka sudah tak sabar ingin melihat buah hatinya lahir kedunia untuk melengkapi keluarga kecilnya.
Diperjalanan elsa menerima panggilan seseorang yang membuat wajah cerah dan senyum merekahnya berubah jadi aura marah.
Tanpa menunggu, mobil yang dikemudikan sopir melaju dengan cepat ketempat dimana orang tersebut tujukan.
Hampir satu jam mobil mewah tersebut berhenti tak jauh dari gedung kosong itu.
Haikal minta tolong pada sang supir untuk minta bantuan.
Elsa dan haikal berjalan pelan dan waspada menuju gedung.
Brakkkkkk
Suara dobrakan pintu yang ditendang haikal.
Didalam gedung terlihat rere duduk dengan tangan dan kaki terikat tak sadarkan diri, elsa berjalan cepat menghampiri untuk melepaskan ikatannya.
Suasana digedung masih sepi, tak ada siapapun. Tak lama ikatan tali terlepas dan rere tersadar, mereka dikepung segerombolan orang berbadan besar.
Muncul dua orang dari belakang yang bisa dikatakan dalang dari semua ini.
Senyum jahat mereka lemparkan untuk elsa dan haikal yang sudah masuk perangkap.
"Ahirnya kita bertemu lagi" ucapnya
"Mau apa kalian?" tanya haikal pada keduanya.
"Gue mau nyawa istri loo" jawab rian, iya dia adalah mantan rere yang tak terima sudah dikeluarkan dari kampus dan keluarganya dibuat bangkrut elsa.
"Kurangajar....." maki haikal pada rian dan menimbulkan pertikaian.
Mereka bertiga kuwalahan menghadapi lawannya yang tidak sebanding.
Elsa hilang keseimbangan karena kelelahan dengan berbadan dua yang membuat sipelakor alias pacar rian memikirkan ide gilanya.
__ADS_1
BUGGHHHH
Ahhhhhhhhh brakkkkk
Suara Elsa terjatuh karena pukulan dipinggangnya,
"Elsaaaaaaa" ucap rere yang melihat elsa terjatuh dilantai berlumur darah
Haikal hilang fokus mendengar teriakan rere.
Tjreeeepppp
"Tidakkkkkkkk" Elsa terbangun
Arsya lari menghampiri sang mommy
"Gimana keadaan mommy? mana yang sakit? kita kerumahsakit saja ya mom?"
"Mommy baik-baik saja"
"Tapi Arsya gak yakin jika belum diperiksa mom...."
Elsa tersenyum melihat putrinya, dan bertanya.
"Arsya sayang tidak dengan mommy?"
"Jangan ditanya lagi mom, sudah jelas sayang 1000%. Btw kenapa mommy tanya begitu? Apa selama ini arsya seperti anak yang durhaka ya mom?" tatapan serius arsya pada sang mommy
Lagi lagi elsa tersenyum dan gelengkan kepala.
"Bukan nak! Tapi mommy ingin minta sesuatu pada arsya, boleh?"
"Apa itu mom, kalau arsya bisa pasti akan arsya berikan"
"Mommy ingin anak mommy yang cantik ini menjauhi keluarga rian."
Arsya terdiam tak bisa berkata, tubuhnya seakan tertindih benda besar yang tak mampu ia angkat.
__ADS_1
Tetesan air mata dan pandangan sendunya sudah mewakilinya untuk berkata "why?"
"Rian beserta sang istri yang sudah membunuh daddy" Elsa menangis sejadi-jadinya setelah mengatakan yang seharusnya anak-anak ketahui.
Kepalan tangan yang kuat membuat kuku jari menancap melukai tangan siempu.
"Tidak... tidak mungkin mom... mommy pasti salah" ucap arsya dengan pandangan kosong
"Ada apa ini? mom... sya....?" tanya arka yang pura-pura baru datang dari balik pintu tempat ia berdiri dari tadi.
"Tidak mungkin...."
Arsya pergi berjalan keluar kamar meninggalkan sang mommy yang sudah bersama arka.
"Sya.... mau kemana....." teriak arka yang tak direspon arsya.
Dirumah Sakit terlihat seorang gadis terbaring penuh luka tak sadarkan diri.
"Arsya"
Dokter tersebut berlari mengikuti brankar yang didorong menuju UGD.
"Kenapa dia?"
"korban kecelakaan dok" jawab sang suster.
Dokter tersebut segera menolong sesuai kemampuannya dibidang kedokteran.
Sudah 2jam Arsya berada didalam, dokter dan para suster berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan pasien sampai pada detik detak jantung berhenti.
"Sya.... Bangun sya... Jangan bikin saya hawatir begini" ucapnya masih mencoba menolong
"Dia sudah meninggal dok" kata suster
"DIAMMMM... DIA PASTI BAIK-BAIK SAJA" dokter tersebut membentak suster yang mengatakan arsya meninggal.
"Ayo sya bangun.... BANGUN SYAAA... JANGAN TINGGALKAN AKU SYA, KITA BARU BERTEMU LAGI SYA. Aku mohon bangun sya..... Aku tak bisa kehilangan kamu.."
__ADS_1
Tangis haru dokter membuat para suster ikut serta nangis membanjiri ruangan tersebut.
"Dok.... dokter Hasan... lihat...."